JEPARA — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Jepara, di tingkat internasional.
Mereka ialah Eka Latifatul Fitria dan Nikeisha Michaela Ophelia, siswi Boarding Al-Fikra MAN 1 Jepara. Berhasil meraih 1st Runner Up atau Juara 2 dalam ajang The 2nd International Student Excellent Award 2026 yang digelar di Thailand.
Prestasi itu diraih melalui karya inovatif di bidang Biological Science, berupa produk yang menggabungkan fungsi pestisida dan pupuk dalam satu formulasi.
Kepala MAN 1 Jepara Ah Rif’an melalui Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan, Rofiq Prihanto, menyampaikan rasa bangga dan syukur, atas capaian anak didiknya di ajang tingkat Asia Tenggara tersebut.
*Madrasah merasa sangat bangga dan bersyukur. Saya ucapkan selamat karena berhasil menjadi runner up, juara dua di ajang internasional. Ini merupakan hasil pembinaan dan program kokurikuler yang berkesinambungan,” ungkapnya pada Jumat (8/5).
Ia menjelaskan, dari Indonesia hanya ada tiga SMA/MA yang berpartisipasi dalam kompetisi tersebut.
Menurutnya, prestasi itu merupakan hasil kolaborasi berbagai program di madrasah.
Mulai dari penguatan kurikulum hingga percepatan riset akademik.
Pihak madrasah juga berkomitmen, terus meningkatkan prestasi siswa agar mampu menembus kompetisi yang lebih luas. Utamanya pada tingkat Eropa.
“Ini bukti bahwa pembimbingan riset di MAN 1 menunjukkan hasil menggembirakan. Menjadi salah satu ihwal memanen rihlah akademik yang telah dilakukan siswa,” tuturnya.
Selain prestasi kompetisi, MAN 1 Jepara juga mulai menunjukkan capaian di tingkat internasional dalam bidang pendidikan lanjutan.
Tahun ini, tercatat tiga siswa mengikuti seleksi universitas di Thailand, satu di Taiwan, dan satu di Mesir.
Dari jumlah tersebut, satu siswa sudah diterima di Mesir. Sementara empat lainnya masih menunggu hasil seleksi.
Pihaknya berharap capaian tersebut dapat menjadi pemicu semangat bagi siswa lain, untuk terus berprestasi.
Ia menegaskan madrasah tidak hanya fokus pada pendidikan keagamaan, tetapi juga akademik dan nonakademik.
“Madrasah senantiasa memberikan wadah seluas-luasnya bagi para siswa untuk berkembang,” imbuhnya.
Senyum Eka Latifatul Fitria mengembang, utamanya saat diwawancara melakukan sambungan telepon pada Jumat (8/5). Waktu menerima telepon dari Radar Kudus, pihaknya masih berada di Thailand.
Eka mengaku tidak menyangka bisa membawa pulang penghargaan internasional dari Thailand. Ia menyebut persiapan dilakukan melalui penelitian intensif, latihan presentasi, hingga simulasi tanya jawab.
Karya tersebut berangkat dari keresahan terhadap tingginya harga cabai, yang dipicu masalah hama dan kurangnya nutrisi tanaman.
“Kami membuat pestisida dan pupuk jadi satu produk. Awalnya karena keresahan harga cabai mahal. Saya mencari masalahnya ternyata karena kekurangan nutrisi dan serangan kutu daun,” sambungnya.
Dari situ, ia mulai mencari bahan alami yang bisa dimanfaatkan menjadi produk ramah lingkungan.
Eka kemudian menemukan kombinasi buah bintaro dan daun sirsak sebagai bahan utama.
“Daun sirsak bagus untuk pupuk, sedangkan buah bintaro untuk mengontrol hama. Saya memilih buah bintaro karena banyak tumbuh di Jepara, tetapi belum dimanfaatkan,” jelasnya.
Ke depan, ia berharap inovasi tersebut bisa dikembangkan lebih serius, hingga memiliki standar resmi dan izin edar.
Bahkan, ia bercita-cita produknya dapat dipasarkan secara luas kepada petani.
"Harapannya nanti bisa SNI, didaftarkan hak cipta, dan diperjualbelikan,” ungkapnya sumringah.
Rekan satu timnya, Nikeisha Michaela Ophelia, menambahkan, proyek tersebut dikerjakan bersama selama sekitar dua hingga tiga bulan dengan memanfaatkan teknologi nano.
“Nano teknologi itu membuat partikel senyawa menjadi lebih kecil, sehingga lebih cepat menutrisi tanaman dan lebih efektif mengontrol hama,” ujarnya.
Siswi kelas XI-F2 Boarding itu mengaku kompetisi internasional tersebut menjadi pengalaman pertamanya tampil di luar negeri.
Ia berharap dapat melanjutkan penelitian lain di masa mendatang dan bercita-cita melanjutkan studi di bidang pertanian.
"Harapannya bisa melanjutkan project baru lagi, apalagi dengan dukungan para pendidik,” imbuhnya.
Sementara itu, Koordinator Riset sekaligus Pembimbing Sains MAN 1 Jepara, Syafriyanti Annur, mengaku amat bahagia, karena ini menjadi pengalaman pertama MAN 1 Jepara mengikuti kompetisi internasional secara luring.
"Ini pertama kali MAN internasional yang luring, jadi sangat senang bisa mengantar sampai sini,” ungkapnya.
Ia menjelaskan seluruh akomodasi peserta selama di Thailand dibiayai panitia penyelenggara.
Tim dari MAN 1 Jepara berangkat ke Thailand pada 6 Mei 2026 dan dijadwalkan kembali ke Indonesia pada 9 Mei 2026.
Disebutkan, dalam cabang Biological Science sendiri, terdapat sekitar 50 peserta dari seluruh Asia Tenggara yang mendaftar. Namun hanya enam tim terbaik yang berhasil lolos ke tahap akhir kompetisi.
Ajang tersebut mempertandingkan tiga bidang utama untuk tingkat SMA/MA sederajat, yakni Fisika, Biologi, dan Applied Science.
Dari panggung internasional ini, dua siswi MAN 1 Jepara berhasil membuktikan bahwa riset sederhana yang berangkat dari persoalan petani lokal, mampu bersaing dan mendapat pengakuan dunia.
"Semoga hasil riset anak-anak, dapat membawa inspirasi dan dampak nyata terhadap berbagai persoalan sosial,” pungkasnya. (fik/war)
Editor : Admin