JAKARTA — Pameran TATAH 2026 di Museum Nasional Indonesia tak sekadar memajang karya ukir. Pameran ini justru mengubah cara pandang lama—bahwa ukiran Jepara bukan hanya kerajinan, tetapi karya seni dengan proses panjang dan gagasan mendalam.
Kurator Suwarno Wisetrotomo menegaskan, karya-karya dalam TATAH tidak lahir dari pesanan industri. “Ini bukan barang dagangan. Karya di sini berasal dari riset, pengalaman, dan ekspresi pribadi,” ujarnya, Kamis (30/4).
Begini faktanya, lebih dari 35 karya dipamerkan dengan pendekatan yang berbeda. Sebuah kursi, misalnya, tak lagi sekadar benda pakai. Melalui eksplorasi bentuk dan ornamen, kursi itu berubah menjadi karya seni dengan tafsir baru. Di titik ini, batas antara kriya dan seni rupa menjadi kabur.
Proses penciptaannya pun tak sederhana. Ada karya yang digarap lebih dari 10 tahun, ada pula yang selesai dalam hitungan bulan dengan riset intens. Tema Suluk–Sulur–Jepara menjadi benang merah—menggambarkan laku perenungan sekaligus pertumbuhan budaya yang terus berkembang.
Karya-karya tersebut juga membawa narasi besar, mulai dari kekayaan bawah laut hingga kejayaan maritim era Ratu Kalinyamat. Hal ini mempertegas bahwa ukir Jepara bukan sekadar estetika, tetapi juga rekam jejak peradaban.
Sejumlah kepala daerah turut hadir, di antaranya Bupati Jepara Witiarso Utomo, Bupati Blora Arief Rohman, Plt Bupati Pati Risma Adi Chandra, hingga Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani. Hadir pula Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen bersama Ketua Dekranasda Jawa Tengah Nawal Arafah Yasin.
Nawal menyebut, pameran ini bukan hanya soal estetika, tetapi juga membuka pasar baru. Regenerasi perajin menjadi fokus agar tradisi tidak terputus sekaligus memperkuat ekonomi kreatif berbasis ukir.
Dalam sesi gallery tour, pengunjung tampak antusias mengamati detail ukiran yang sarat filosofi. Pameran ini akan berlangsung hingga 5 Juli 2026.
Dampaknya mulai terasa. TATAH 2026 tak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga mendorong ukir Jepara naik kelas—dari karya tradisi menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang siap menembus pasar global. (fik/war)
Editor : Admin