Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Fadli Zon Buka TATAH 2026, Ukir Jepara Jadi Sorotan Dunia

M. Khoirul Anwar • Kamis, 30 April 2026 | 07:35 WIB
MBAKALI:  Menteri Kebudayaan Fadli Zon memahat kayu yang akan diteruskan para seniman menjadi karya macan kurung.
MBAKALI: Menteri Kebudayaan Fadli Zon memahat kayu yang akan diteruskan para seniman menjadi karya macan kurung.

 


JEPARA – Di balik gemerlap ruang pamer di Museum Nasional Indonesia, ada denyut sunyi yang datang dari desa-desa di Jepara. Dari bilik-bilik sederhana, tangan para pengukir terus menatah kayu. Merawat tradisi ratusan tahun yang tak selalu mencantumkan nama mereka di panggung besar. Melalui pameran TATAH 2026, denyut itu kini terdengar lebih jauh, menembus batas hingga panggung dunia.

Kehadiran Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar, Bupati Jepara Witiarso Utomo, serta sejumlah duta besar negara sahabat semakin mempertegas bahwa seni ukir Jepara bukan sekadar kerajinan, melainkan warisan budaya yang hidup dan terus dijaga lintas generasi.

Pameran bertajuk Suluk–Sulur–Jepara yang dibuka Rabu (29/4/2026) ini diresmikan langsung oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Pembukaan ditandai dengan prosesi penatahan kayu yang akan dibentuk menjadi ornamen Macan Kurung. Momen ini sekaligus menjadi simbol bahwa tradisi akan terus hidup selama masih ada tangan yang merawatnya.

Tak sekadar seremoni, TATAH 2026 menghadirkan lebih dari 30 mahakarya ukir dan narasi panjang peradaban Jepara. Ternyata, setiap goresan bukan hanya bentuk, melainkan jejak sejarah

Dari era Ratu Shima, kejayaan Ratu Kalinyamat, hingga peran Raden Ajeng Kartini membawa kriya Jepara ke panggung Eropa.

Direktur Pelaksana TATAH 2026 Veronica Rompies menyebut pameran ini sebagai ikhtiar kolektif “membayar utang” pada para pengukir yang selama ini bekerja dalam senyap. “Mereka menjaga tradisi, tapi sering luput dari perhatian. Kita ingin mereka juga sejahtera,” ujarnya.

Kurator Suwarno Wisetrotomo melihat perjalanan Jepara ke Jakarta bukan sekadar 522 kilometer, melainkan lompatan simbolik dari tradisi lokal menuju panggung nasional. Baginya, seni ukir bukan sekadar industri, tetapi laku batin—proses sunyi yang lahir dari kedalaman jiwa.

Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur menambahkan, selama ini ukiran kerap diposisikan sebagai komoditas. Padahal, setiap tatahan adalah keputusan artistik bernilai tinggi yang lahir dari tradisi lebih dari 500 tahun.

DUKUNGAN: Bupati Jepara Witiarso Utomo, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, dan Menteri Kebudayaan Fadli Zon hadir di pembukaan TATAH 2026.
DUKUNGAN: Bupati Jepara Witiarso Utomo, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, dan Menteri Kebudayaan Fadli Zon hadir di pembukaan TATAH 2026.

 

Sementara itu, Bupati Jepara Witiarso Utomo menegaskan, ukiran telah menjadi identitas sekaligus sumber hidup ribuan keluarga. “Tatah bukan sekadar alat. Ia adalah perpanjangan tangan dan jiwa para pengukir,” ujarnya. Melalui TATAH, Jepara ingin menegaskan diri bukan hanya sebagai produsen, tetapi pencipta makna dan mitra kolaborasi global.

Fadli Zon juga menyoroti pentingnya regenerasi. Ia mendorong generasi muda untuk terlibat melalui workshop dan penguatan ekosistem seni. Begini alasannya, tanpa regenerasi, tradisi besar bisa terputus. Pemerintah bahkan tengah mengupayakan seni ukir Jepara sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO, meski terkendala kuota pengajuan.
Dampaknya terasa luas.

TATAH 2026 bukan hanya memperluas apresiasi publik, tetapi juga membuka peluang kerja sama internasional. Di balik setiap ukiran, ada kehidupan yang bergantung. Dan masa depan yang kini sedang dipahat ulang.

Di TATAH 2026, ukiran Jepara tak lagi sekadar benda. Ia berbicara. Tentang sejarah, manusia, dan harapan. Dari desa, suara itu kini menggema lebih jauh, menuju dunia. (fik/war) 

 

Editor : Admin
#TATAH 2026 #museum nasional Indonesia #Budaya Jepara #fadli zon #ukir jepara