JEPARA – Siang itu, A, 6, pulang sekolah seperti biasa. Bocah asal Desa Sowan Kidul, Kecamatan Kedung, Jepara itu sempat berganti baju.
Lalu pamit hendak bermain ke rumah teman di seberang sungai sambil mengayuh sepeda kecilnya. Namun, setelah itu, ia tak pernah kembali.
Waktu terus berjalan. Menjelang sore, sang ibu mulai cemas karena A belum pulang.
Saat dicek ke rumah teman yang dituju, ternyata bocah itu tak pernah sampai. Dari situlah kepanikan bermula. Warga berdatangan, pencarian dilakukan
Malam di tepi Sungai Kedung Bule berubah menjadi upaya panjang menemukan sang anak.
Tim gabungan BPBD Jepara, TNI/Polri, relawan, dan warga menyusuri aliran sungai hingga larut malam.
Begini faktanya, pada Selasa (28/4) pukul 00.57 WIB, A, akhirnya ditemukan sekitar 700 meter ke utara dari rumahnya. Ia ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Peristiwa ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan warga sekitar. Di balik tragedi itu, muncul pengingat keras tentang bahaya sungai yang kerap dianggap biasa oleh warga sekitar, terutama bagi anak-anak yang bermain tanpa pengawasan.
Kalaksa BPBD Jepara Arwin Noor Isdiyanto menyebut pencarian melibatkan banyak unsur, mulai TRC BPBD, Tagana, PP Rescue, Ubaloka, Bagana, pemerintah desa hingga warga. Kolaborasi itu mempercepat proses pencarian, meski tak mengubah akhir yang memilukan.
Kasus anak tenggelam di Jepara ini menjadi alarm bagi orang tua untuk lebih waspada. Sebab, dari sebuah pamit bermain yang terdengar sederhana, tragedi bisa datang tanpa diduga.