Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Soft Launching Museum Kartini, Pentas Dalang Cilik Hidupkan Ruang Budaya Jepara

Fikri Thoharudin • Minggu, 26 April 2026 | 15:59 WIB
KHIDMAT: Para bocah cilik tengah Coaching Clinic mendalang, dalam Soft Launching Museum Kartini pada Sabtu (25/4) malam.
KHIDMAT: Para bocah cilik tengah Coaching Clinic mendalang, dalam Soft Launching Museum Kartini pada Sabtu (25/4) malam. (PERUSDA ANEKA USAHA UNTUK RADAR KUDUS)

JEPARA — Suasana serambi Pendapa Museum Kartini Jepara terasa berbeda, pada Sabtu (25/4) malam. 

Suara gamelan mengalun pelan. Di balik bangunan yang selama ini dikenal sebagai tempat bersejarah ini, kini tumbuh denyut baru, ruang hidup bagi seni pertunjukan.

Dalang cilik menjadi penampil, dalam acara soft launching Museum Kartini, sebagai ruang temu budaya. 

Bukan sekadar seremoni pembuka. Ini menjadi pernyataan arah baru, bahwa museum tak lagi berhenti sebagai etalase masa lalu, melainkan panggung dialog lintas generasi.

SARAT MAKNA: Pengunjung dibuat terpukau dengan penampilan dua dalang perempuan, pada Sabtu (25/4) malam.
SARAT MAKNA: Pengunjung dibuat terpukau dengan penampilan dua dalang perempuan, pada Sabtu (25/4) malam.

Mengusung konsep heritage performing art, acara ini menampilkan pertunjukan wayang kulit oleh dalang cilik, menghadirkan perpaduan antara tradisi dan regenerasi budaya.

Sorotan utama malam tertuju pada tangan-tangan kecil, yang lincah memainkan tokoh-tokoh wayang di balik kelir. 

Bukan sekadar tontonan, pertunjukan ini menjadi simbol estafet budaya yang terus bergerak. 

Anak-anak yang juga sebagai peserta, berkesempatan mendapat coaching clinic. Dengan pakaian adat Jawa, mereka tampil menawan. 

Potret ini menjadi bukti, tradisi masih menemukan ruang tumbuh di tengah zaman.

Direktur Utama Perumda Aneka Usaha Jepara, Wike Dwi Utomo, menyebut kegiatan ini sebagai langkah awal membangun ekosistem budaya yang lebih hidup. 

Setidaknya 100 tiket yang disediakan bahkan terjual habis, menandakan tingginya minat masyarakat terhadap pengalaman wisata berbasis budaya.

“Ini bukan sekadar pertunjukan. Kami ingin museum menjadi ruang temu. Tempat seniman, budayawan, dan masyarakat bertukar gagasan sekaligus menghadirkan karya,” ungkapnya pada Minggu (26/4).

Antusiasme itu sejalan dengan lonjakan kunjungan dalam beberapa waktu terakhir. Sejak dibuka, museum telah dikunjungi lebih dari 27 ribu orang. Bahkan, pada peringatan Hari Kartini, jumlah pengunjung menembus lebih dari 4.500 orang dalam sehari. 

Angka tersebut menjadi sinyal kuat bahwa publik merindukan ruang budaya yang tidak hanya informatif, tetapi juga interaktif.

Menurut Wike, selama ini Jepara memiliki kekayaan budaya yang melimpah. Namun belum sepenuhnya ditopang ruang performatif yang berkelanjutan. 

Melalui konsep baru ini, museum diarahkan menjadi Jendela Budaya yang memungkinkan pengunjung tidak hanya melihat sejarah, tetapi juga merasakan atmosfernya.

Ke depan, berbagai program telah disiapkan untuk menjaga ritme kegiatan. Dalam dua bulan mendatang, akan digelar Theatrical Night Tour, mengajak pengunjung menjelajahi museum dalam nuansa dramatik. 

Sementara tiga bulan berikutnya, panggung akan kembali hidup melalui agenda Dalang Battle, kompetisi yang dirancang untuk mendorong kreativitas generasi muda dalam seni pedalangan.

Tak berhenti di situ, konsep besar yang disusun juga mencakup forum budaya santai, event tematik setiap selapan, hingga pelibatan UMKM dalam pasar tradisional berbasis kurasi. 

Bahkan, pengembangan aplikasi permainan bertema Kartini tengah digarap bersama mahasiswa, membuka pintu interaksi digital dengan sejarah.

Narasi yang dibangun pun tidak hanya berpusat pada Raden Ajeng Kartini. Tokoh-tokoh lain seperti Ratu Kalinyamat turut dihadirkan, memperkaya perspektif sejarah lokal sekaligus memperluas daya tarik museum.

Wike melanjutkan, di tengah transformasi pengelolaan ini, satu hal tetap dijaga, esensi museum sebagai penjaga memori. 

Hanya saja kini, memori itu tidak lagi diam. Akan tetapi bergerak, berbunyi, dan berinteraksi. Menghidupkan kembali cerita lama dalam bahasa yang lebih dekat dengan generasi hari ini.

Soft launching ini mungkin baru langkah awal. Namun dari balik kelir wayang yang digerakkan dalang cilik, Jepara seperti sedang menulis babak baru, ketika masa lalu dan masa depan bertemu dalam satu panggung yang sama.

“Kami ingin secara profesional mengelola museum, berlandaskan asas kelestarian dan keberlanjutan,” pungkasnya.(fik)

Editor : Admin
#ruang temu budaya #soft launching Museum Kartini #coaching clinic #dalang cilik #museum kartini jepara