JEPARA — Senyum sumringah mengembang di wajah para Nelayan di Desa Bandungharjo, Kecamatan Donorojo. Pada Jumat (24/4) siang, mereka kedatangan pimpinan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Tak hanya sekadar datang, namun juga dilakukan diseminasi hasil karya. Waste-to-Energy (WtE). Sebuah proses pengolahan sampah menjadi bahan bakar.
Kepala BRIN Arif Satria, Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian di Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan) RI Widiastuti, beserta jajaran termasuk pihak PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) datang. Meninjau secara langsung bahan bakar petasol di mesin kapal nelayan.
Kepala BRIN yang didampingi oleh Bupati Jepara menyangkut langsung petasol ke dalam mesin diesel kapal. Setidaknya 8 liter dituangkan secara bergantian.
Setelag tetep terakhir dari jerigen habis, nelayan langsung menyalakan diesel. Sejurus demikian mesin menyala, meski cenderung halus namun bertenaga kuat.
Semua yang hadir merasa plong. Sumringah. Petasol ini merupakan produk yang dikembangkan oleh BRIN. Semula plastik tanpa nilai ekonomi menjadi bahan bakar.
Kepala BRIN Arif Satria, turut mendorong Pemerintah Kabupaten Jepara, untuk mengembangkan konsep living lab atau laboratorium hidup berbasis inovasi.
Salah satu fokus utama yang ditawarkan ialah pengolahan limbah plastik bernilai rendah (low value), menjadi bahan bakar alternatif ramah lingkungan.
Arif menyebut, inovasi ini merupakan terobosan BRIN dalam menjawab tantangan global, terutama ancaman krisis energi dan persoalan sampah plastik yang kian kompleks.
Melalui teknologi tersebut, limbah plastik yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi, dapat diolah menjadi bahan bakar yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Mulai dari kapal nelayan, kendaraan, hingga alat dan mesin pertanian (alsintan).
“Ini bentuk respon terhadap situasi terkini. Kita menghadapi ancaman krisis energi, tapi di sisi lain kita punya limbah plastik yang melimpah. Dengan inovasi ini, sampah tidak lagi sia-sia, tetapi bisa diubah menjadi energi yang bermanfaat,” ungkapnya pada Jumat (24/4).
Produk bahan bakar hasil inovasi ini dikenal dengan nama petasol, yang diproduksi menggunakan teknologi pirolisis.
Proses ini mengubah plastik menjadi bahan bakar cair melalui pemanasan tanpa oksigen.
Arif menegaskan, dari sisi emisi, petasol telah memenuhi standar yang berlaku dan menjadi solusi simultan untuk persoalan lingkungan sekaligus energi.
Ia mengungkapkan, program ini telah dikembangkan setidaknya di 84 kabupaten maupun kota di Indonesia dan akan terus diperluas, termasuk di Jepara.
Kerja sama dengan Pemkab Jepara tidak hanya terbatas pada pengembangan teknologi bahan bakar. Akan tetapi juga mencakup inovasi lain seperti pertanian berbasis biosalin dan teknologi terapan lainnya.
“Ke depan, kami akan berdiskusi dengan Bupati Jepara terkait kebutuhan daerah. Jepara berpotensi menjadi living lab BRIN, tempat berbagai inovasi diuji dan dikembangkan langsung di masyarakat,” jelasnya.
Konsep living lab sendiri merupakan ekosistem inovasi terbuka yang memanfaatkan lingkungan nyata. Seperti komunitas atau wilayah, sebagai ruang uji coba teknologi dan solusi baru.
Dengan pendekatan ini, inovasi tidak hanya berhenti di laboratorium. Namun langsung diuji efektivitasnya dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Peneliti BRIN, Heru Susanto, menjelaskan bahwa penggunaan petasol memberikan sejumlah keunggulan, seperti tarikan mesin yang lebih ringan, kondisi filter yang lebih bersih, serta konsumsi bahan bakar yang lebih irit, meskipun efisiensinya tetap bergantung pada jenis kendaraan.
Dalam proses produksinya, sekitar 1 kilogram limbah plastik dapat menghasilkan hingga 0,8 liter bahan bakar.
Di Banjarnegara, sebutnya, teknologi ini telah dioperasikan dengan kapasitas pengolahan mencapai 200 kilogram sampah plastik per hari atau sekitar 5–6 ton per bulan.
“Ini mendorong ekonomi sirkular. Sampah yang sebelumnya menjadi sumber kerusakan lingkungan bisa ditekan, sekaligus menghasilkan nilai ekonomi,” sambungnya.
Ia menambahkan, harga produksi petasol saat ini berkisar Rp 10.000 per liter, khususnya untuk kebutuhan internal seperti nelayan, mesin pertanian, hingga industri kecil.
Dari sisi investasi, mesin berkapasitas 50 kilogram membutuhkan biaya sekitar Rp 150 juta. Dengan estimasi break even point (BEP) selama 2,4 tahun.
Untuk wilayah kepulauan seperti Karimunjawa, pengembangan teknologi ini masih dalam tahap awal.
Produksi dilakukan secara terbatas, rata-rata seminggu sekali, menyesuaikan dengan ketersediaan bahan baku.
Setiap kepala keluarga diperkirakan menghasilkan sekitar 1,5 kilogram sampah plastik per hari, sehingga diperlukan sistem pemilahan yang baik.
Heru juga menekankan bahwa tidak semua jenis plastik dapat diolah. Teknologi ini hanya dapat memproses plastik non-PVC dan non-PET, termasuk jenis low value seperti styrofoam.
Proses pemanasan dalam pirolisis dapat menggunakan berbagai sumber energi. Namun yang paling ekonomis adalah bahan bakar kayu seperti limbah palet.
Menurutnya, pendekatan waste to energy ini jauh lebih efisien dibandingkan metode pengolahan lain seperti RDF atau biosel yang membutuhkan biaya tinggi dari pemerintah.
Dengan teknologi ini, pengelolaan sampah tidak lagi menjadi beban biaya (cost center), tetapi berpotensi menjadi sumber pendapatan baru.
Dengan potensi tersebut, Jepara dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi percontohan pengembangan energi alternatif berbasis limbah plastik.
Selain menyelesaikan persoalan sampah, inovasi ini juga membuka jalan menuju kemandirian energi di tingkat lokal. Terutama bagi masyarakat pesisir dan sektor pertanian.
"Yang menjadi tantangan ialah soal kepercayaan publik. Sedangkan dari sisi kualitas tak kalah dengan bahan bakar yang kini jamak digunakan seperti solar," pungkasnya.(fik)
Editor : Admin