JEPARA — Halaman Balai Desa Kawak Kecamatan Pakis Aji dibuat berwarna, pada Kamis (23/4).
Setidaknya 26 Jondang (peti kayu tradisional) berjajar. Berisi beraneka sayur, buah hingga olahan dan makanan tradisional. Gemblong, jenang, bubur dan hasil kreasi warga lainnya.
Ribuan warga tampak sumringah. Kelompok anak, bapak, dan ibu-ibu kompak. Mengenakan baju adat dan seragamnya masing-masing.
Festival Jondang ke-12 ini terselenggara secara meriah. Semua ambil bagian. Termasuk para pemuda, menampilkan tarian hingga tongtek. Hingga parade musik tradisional lain, seperti lesung.
Jondang yang rata-rata berukuran sekitar 40x120 sentimeter tersebut dipikul. Dikirab sekitar 2 kilometer. Berjalan kaki dari halaman Balai Desa Kawak, menuju Sitinggil dan Masjid Wali setempat.
Sesampainya di titik terakhir, dilakukan doa bersama. Mengharap berkah, untuk tahun-tahun yang baik, yang gemah ripah loh jinawi.
Warga RT 17 Desa Kawak, Eko (49) merasa bangga, bersama para warga masih dapat melestarikan salah satu khazanah dan tradisi masyarakat Jawa tempo dulu. Dengan melakukan kirab jondang.
"Jondang bisa dimaknai dengan 'bojone ngandang'. Kalau ada orang nikah, pihak laki-laki mebawa jondang. Isiannya bermacam-macam, seperti makanan-makanan tradisional," ungkapnya di sela-sela acara.
Tak hanya itu, pada 29 September 2025 lalu, pihaknya juga menikahkan anaknya. Waktu seserahan juga membawa jondang.
"Anak saya laki-laki, waktu menikah itu, saya punya dua jondang lawas ukuran 30x125cm, membawa makanan tradisional seperti bongko, gemblong, bubur," kenangnya menuturkan.
Ia juga mengaku, besannya pun merasa kagum. Atas laku tradisi tersebut. Eko pun turut berharap agar jondang dapat terus diuri-uri, dilestarikan.
Petinggi Desa Kawak Eko Heri Purwanto menyampaikan, pihaknya ingin mempertahankan budaya daerah tersebut.
"Berkaitan dengan jondang jangan sampai punah, untuk generasi sekarang. Jondang, maknanya bojone ngandang, ngandang rezeki, dan ngandang segala-galanya dalam kebaikan. Harapan saya dengan Festival Jondang ini, kami bisa dikenal di daerah lain, wisatawan datang, dan ekonomi masyarakat berputar," sambungnya.
Menurutnya, jondang hari ini telah menjadi barang langka, antikan, yang jamak diburu kolektor dan pencinta seni.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara Ali Hidayat merasa terkesan dengan semangat gotong royong warga.
"Kami sangat bangga dengan kegiatan hari ini, bentuk tradisi nguri-uri Tradisi Jawa, jangan sampai kepaten obor. Generasi muda agar dapat meneruskan kegiatan ini," ucapnya.
Ali menyebutkan, Festival Jondang kini telah masuk dalam usulan strategis. Menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTb).
"Pada tahun depan kami ajukan ke Kementerian Kebudayaan RI, tahun ini sudah kami siapkan enam calon WBTb dari Jepara untuk diajukan ke pemerintah pusat. Hingga saat ini Jepara sudah mengantongi 15 WBTb," imbuhnya.
Perwakilan pemuda yang tergabung di karang taruna, Raka menyampaikan, Festival Jondang sudah dimulai 2014. Tahun ini sudah ke-12 kali diselenggarakan.
"Partisipasi peserta sekitar 2000 orang. Ini puncak perayaan ini, dilanjutkan pada Kamis (23/4) malam ada penyelenggaraan wayang kulit," katanya.
Sementara itu, Camat Pakis Aji, Mujoko mengatakan terdapat delapan Desa Wisata di Pakis Aji. Masing-masing punya tradisi sendiri.
"Pakis Aji juga terkenal dengan toleransi beragamanya, semua pemeluk agama ada di sini, kecuali Konghucu. Sehingga sering diadakan berkegiatan atau forum-forum keagamaan dan budaya," pungkasnya.(fik)
Editor : Admin