JEPARA — Suara pahat beradu dengan kayu, terdengar di Taman Eks Rumah Dinas Bupati yang kini menjadi Musuem Kartini.
Di samping itu tangan yang menggenggam canting, turut menorehkan malam di atas kain.
Di tempat inilah dulu, Kartini beserta saudari-saudarinya juga membatik dan berkarya.
Suasana tampak serius. Tangan-tangan siswi terampil tersebut tampak telaten. Mata mereka menyorot tajam setiap detail garis dan motif. Menuntaskan hasta karya yang mereka buat.
Suasana itu terasa hidup dalam kegiatan 'Ngukir dan Mbatik Bareng' dalam rangka memperingati Hari Kartini, Selasa (21/4).
Kegiatan tersebut diikuti oleh setidaknya 100 siswi. Baik kalangan SD, SMP, dan SMA sederajat.
Sebanyak 50 peserta terlibat dalam kegiatan mengukir, sementara 50 lainnya menekuni seni membatik.
Mereka datang dari sekolah-sekolah yang memang sudah mulai mengenalkan keterampilan tersebut kepada siswanya.
Salah satu peserta, Malika Azzahro (10), tampak serius menggoreskan motif bunga pada media ukirnya.
Siswi kelas 4 SDN 2 Mulyoharjo itu mengaku mulai tertarik karena lingkungan keluarga.
“Ayah saya juga mengukir, jadi ingin mencoba. Ini masih belajar (gradasinya, red),” ucapnya sambil tersenyum.
Mengenakan kebaya putih dan jarik, poni rambutnya tergerai, sedangkan bagian belakangnya dikucir. Malika juga tampak mengenakan selendang motif bunga, seperti selembar kayu yang diukirnya.
Tiba-tiba ia berhenti menatah. Tangan tergores oleh sisi lancip peralatan tatahnya. Setelah dipastikan, ia melihatnya lebih dekat. Tak ada darah. Sejurus dengan itu, Malika kembali meneruskan pekerjaannya.
Sementara itu, dari kelompok membatik, Ayu Luthfia (18) mengaku bangga bisa ikut ambil bagian. Siswi kepas XII SMKN 2 Jepara tersebut telaten, meniti motif dengan malam di atas kain putih bersih.
Baginya, keterlibatan generasi muda penting untuk menjaga identitas budaya daerah.
“Di sekolah kami memang ada konsentrasi batik. Saya suka batik Jepara yang dipadukan dengan motif ukir. Semoga bisa terus berkembang dan dikenal lebih luas,” sambungnya.
Di tengah semangat para pelajar, kegiatan ini bukan sekadar latihan keterampilan, tetapi juga menjadi ruang pewarisan nilai.
Dari tangan-tangan muda itu, harapan akan keberlanjutan ukir dan batik Jepara perlahan dipahat. Menjadi bagian dari identitas yang tak lekang oleh waktu.
Ketua Paguyuban Ukir Kartini Jepara, Rumini, menyebut kegiatan ini menjadi ruang pengenalan sekaligus penguatan minat generasi muda terhadap seni ukir.
Ia melihat adanya perubahan positif dibanding beberapa tahun lalu. “Dulu sempat terasa seperti ditinggalkan, tapi sekarang mulai tumbuh lagi. Apalagi dengan adanya lomba dan pengenalan dari dasar, anak-anak jadi lebih tertarik,” ujarnya.
Menurutnya, sebagian pelajar memang masih dalam tahap awal, sehingga hasil pahatan belum sepenuhnya luwes.
Namun, ada pula yang sudah cukup mahir, terutama mereka yang berasal dari keluarga pengukir.
“Ini proses. Ada yang baru mengenal, ada yang sudah terbiasa karena lingkungan keluarga. Yang penting semangatnya tumbuh,” ucapnya.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta didampingi enam instruktur ukir yang membimbing teknik dasar hingga praktik langsung.
Metode yang digunakan pun bertahap, mulai dari pengenalan alat hingga teknik pahatan sederhana.
Rumini berharap, kegiatan semacam ini bisa terus berlanjut agar seni ukir Jepara tetap lestari dan semakin dikenal hingga mancanegara.
Terlebih, momen Hari Kartini dinilai tepat untuk mengangkat peran generasi muda dalam menjaga warisan budaya.(fik)
Editor : Admin