JEPARA — Tradisi Jembul Tulakan di Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, bukan sekadar sedekah bumi biasa.
Namun peristiwa budaya yang lahir dari sumpah seorang ratu. Menyatu dengan ingatan kolektif warga. Terus dirawat lintas generasi sebagai simbol keadilan, kesetiaan, serta harapan hidup makmur dan bersahaja.
Ribuan orang tumpah ruah, sejak Senin (20/4) pagi, di depan rumah Petinggi Desa Tulakan.
Panggung berdiri kokoh. Beserta peneduh yang dibuat dari bambu. Di bawahnya masyarakat membanjiri lokasi. Mereka enggan terlewat momen tahunan. Gelaran kirab Jembul Tulakan.
Semua mata menyorot empat gunungan jembul, yang dibawa setidaknya perwakilan empat kamituwan.
Simbol-simbol Jembul, melalui golek dan serutan bambu, penanda dari perwakilan empat dukuh. Meliputi Krajan, Winong, Ngemplak, serta Pejing.
Denting suara gamelan juga mengalun. Kesenian Tayub digelar untuk memeriahkan acara.
Warga dari setiap dukuh, bergantian menari dengan para waranggono. Dengan selendang yang dipinjamkan penari, warga baik pria maupun wanita turut meliuk-liuk. Hanyut dalam iringan langgam tembang dan lagu-lagu Jawa.
Puncak acara memasuki waktunya. Menjelang Zuhur, dilakukan doa bersama, termasuk resikan. Kaki petinggi dibasuh air kembang setaman. Setelah itu, mengelilingi empat jembul beserta para perangkat dan tokoh masyarakat lainnya.
Warga pun turut berebut jembul gunungan, mengharap berkah. Pada saat yang sama, gunungan jembul dibawa ke kamituwan masing-masing.
Sebelumnya, dalam rangkaian tersebut, jembul dipikul secara saksama. Dikirab dengan iringan lagu dan tembang. Meriah, pasalnya digoyang-goyang mengikuti segala arah. Warga turut was-was, bisa-bisa dapat terkena sruduk.
Petinggi Desa Tulakan, Budi Sutrisno, menyebut akar tradisi ini bersumber dari kisah tapa brata Ratu Kalinyamat di Kecamatan Donorojo.
Dalam tuturan masyarakat, Sang Ratu memilih meninggalkan kemewahan istana. Bertapa demi menuntut keadilan atas terbunuhnya suaminya, Sultan Hadlirin, serta kakaknya, Sunan Prawata.
Konflik besar itu melibatkan Arya Penangsang, yang dalam sejarah dikenal berambisi merebut kekuasaan tertinggi di Jawa.
Ia mengirim utusan bernama Rangkud untuk membunuh Sunan Prawata, yang kemudian tewas. Tragedi berlanjut ketika dalam perjalanan pulang, suami Ratu Kalinyamat juga dibunuh oleh pihak Arya Penangsang.
Duka itu melahirkan sumpah yang terus diingat hingga kini. Dalam versi tutur masyarakat Tulakan, sumpah tersebut berbunyi, “Ora pisan-pisan ingsun engkar soko topo ingsun, yen ingsun durung biso nganggo kesed jambulé Aryo Penangsang.”
Tekad besar yang tak akan menghentikan tapa, sebelum keadilan benar-benar ditegakkan.
Catatan sejarah juga menguatkan kisah tersebut.
Sejarawan Belanda H.J. de Graaf dalam bukunya Awal Kebangkitan Mataram (1985) menuliskan bahwa setelah Sultan Hadlirin terbunuh, Ratu Kalinyamat menjalani tapa di Gunung Danareja.
Ia bersumpah tidak akan mengenakan kain seumur hidup sebelum Arya Penangsang mati, bahkan menyatakan akan mengabdi dan menyerahkan seluruh hartanya kepada siapa pun yang mampu menumbangkan musuhnya itu.
"Setelah itu (Sultan Hadlirin, red) terbunuh, Ratu dalam keadaan telanjang tinggal di Gunung Danareja sebagai pertapa. Hanya rambutnya yang terurai yang menjadi pakaiannya. Ratu Kalinyamat bersumpah tidak akan memakai kain seumur hidup sebelum Arya Penangsang mati. Siapa saja yang dapat membunuh Arya Penangsang, kepadanya Ratu Kalinyamat akan mengabdi, dan memberikan semua harta bendanya," tulisnya.
Berbeda dengan makna yang dimaksud oleh Ratu Kalinyamat, waktu itu, jembul adalah rambut, khususnya milik Arya Penangsang.
Namun, kini jembul sendiri dijadikan satu simbol, berupa usungan dari bambu yang diraut. Serta berisi hasil bumi seperti nasi, gemblong, tape, jenang, dan aneka pangan lainnya.
Terdapat dua jenis jembul, lanang dan wadon. Jembul lanang dihias lebih detail lengkap dengan figur simbolik, sementara jembul wadon berisi ambengan sederhana.
Keduanya menjadi representasi persembahan masyarakat kepada Sang Ratu dalam konteks historis.
Prosesi ini digelar setiap Senin Pahing bulan Apit sebagai puncak sedekah bumi.
Rangkaian acara diawali manganan (makan bersama), dilanjutkan istighasah, sendratari, pagelaran wayang hingga tayub.
Kesenian tayub dari Kabupaten Pati turut meramaikan. Warga dari masing-masing dukuh berpatisipasi, sebagai bagian dari tradisi yang terus hidup.
Di samping itu, ada pula prosesi resikan, yakni pencucian kaki Petinggi Desa menggunakan air bunga setaman.
Prosesi ini dimaknai sebagai simbol penghormatan kepada Ratu Kalinyamat, sekaligus doa agar pemimpin bersih lahir batin dan masyarakat dijauhkan dari mara bahaya.
Tradisi ini juga merupakan wujud syukur atas hasil bumi. Harapannya, masyarakat selalu diberi kelimpahan rezeki dan kehidupan yang “Toto tentrem kerto raharjo.”
Setelah prosesi selesai, jembul dikembalikan ke kamituwan masing-masing. Membawa simbol berkah yang kembali ke warga.
Lebih jauh, prosesi sedekah bumi ini mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan tradisi serta sejarah.
“Ini budaya yang harus dijaga, jangan sampai berhenti. Regenerasi harus terus berjalan,” pesan Petinggi.
Pengakuan pun telah diberikan. Pada 2020, Jembul Tulakan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb). Bersamaan dengan Lomban dan Perang Obor
Status ini bukan akhir, melainkan penguat bahwa tradisi yang lahir dari sumpah dan sejarah panjang ini tetap hidup.
Menjadi pengikat antara masa lalu, masa kini, dan masa depan masyarakat Desa Tulakan.
"Empat jembul tadi juga terdapat golek. Mbah Sayyid Utsman (Kamituwan Krajan), Mbah Mangun Joyo (Kamituwan Ngemplak), Mbah Leseh (Kamituwan Drojo dan Pejing) dan Satrio Gagah Perkoso (pasukan keamanan Kamituwan Winong). Kami berharap ini terus diadakan, diuri-uri," pungkasnya.(fik)
Editor : Admin