Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Festival Kulturing 2026, Merajut Identitas Desa Lewat Seni, Wisata, dan UMKM

Fikri Thoharudin • Minggu, 19 April 2026 | 21:07 WIB
MERIAH: Para penampil dalam Festival Kulturing 2026 pada Minggu (29/4).
MERIAH: Para penampil dalam Festival Kulturing 2026 pada Minggu (19/4).

JEPARA — Halaman rumah Petinggi Desa Tunahan, Kecamatan Keling, Minggu (19/4) berubah menjadi ruang temu budaya. 

Warga dari 12 desa berkumpul dalam Festival Budaya Kulturing (Kultur Keling) 2026.

Sebuah perayaan yang tidak sekadar menampilkan seni, tetapi juga merajut identitas dan harapan baru.

Sejak pagi, denyut kegiatan terasa dari sudut ke sudut. 

Bazar UMKM yang diikuti perwakilan 10 RW Desa Tunahan menyajikan beragam makanan tradisional, serta produk olahan hasil pertanian. 

Aroma jajanan lokal berpadu dengan semangat warga, yang ingin menunjukkan bahwa desa memiliki daya saing ekonomi yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

SUPORTIF: Proses penyerahan SK Paguyuban Pariwisata se-Kecamatan Keling dari Disparbud oleh Wabup Jepara M Ibnu Hajar.
SUPORTIF: Proses penyerahan SK Paguyuban Pariwisata se-Kecamatan Keling dari Disparbud oleh Wabup Jepara M Ibnu Hajar.

Di sisi lain, ruang literasi dan pameran seni menghadirkan wajah desa-desa di Kecamatan Keling yang kreatif. 

Buku bacaan anak dan permainan edukatif menjadi magnet bagi pelajar.

Sementara Batik Damarwulan, wayang, hingga peralatan membatik dan memahat menjadi bukti bahwa tradisi masih hidup dan diwariskan lintas generasi. 

Karya siswa dari program P5 dan ajang FLS2N tingkat kecamatan turut memperkaya warna pameran.

Puncak acara ditandai dengan pagelaran seni dari 12 desa. 

Setiap desa membawa ciri khasnya masing-masing.

Desa Bumiharjo mempersembahkan Tari Jaranan Reog yang enerjik, memadukan gerak dinamis dan nuansa magis khas kesenian rakyat. 

Disusul Desa Jlegong dengan Tari Nirmala yang lebih lembut, menonjolkan keanggunan gerak dan harmoni.

Desa Keling menampilkan Tari Lestari Alamku sebagai refleksi hubungan manusia dengan alam, sementara Desa Tempur menghadirkan Tari Alam Dharini yang sarat pesan pelestarian lingkungan. 

Nuansa permainan anak tradisional muncul dari Desa Gelang lewat Tari Dolanan Soyang yang ceria dan komunikatif.

Tuan rumah Desa Tunahan menyuguhkan Tari Sedayu Lampah, dengan gerak yang menggambarkan perjalanan hidup penuh makna. 

Desa Klepu tampil dengan Tari Dasa Mulya yang mengangkat nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Desa Kunir membawakan Tari Dolanan Gundul-Gundul Pacul yang lekat dengan filosofi kepemimpinan dan kerakyatan. 

Desa Damarwulan menghadirkan Tari Asmara Putri Kirana, yang kental dengan nuansa klasik dan cerita romantik.

Desa Kaligarang menampilkan Tari Sawonggaling dengan karakter gerak yang tegas dan berwibawa, sedangkan Desa Watuaji memukau lewat Tari Angguk Jos yang ritmis dan penuh semangat. 

Musik Salocoustik, dari Kelet, juga menjadi pelengkap. 

Keseluruhan pagelaran ini bukan hanya hiburan, tetapi juga cerminan kekayaan budaya Kecamatan Keling. Yang terus hidup dan berkembang melalui generasi muda.

Camat Keling, Lulut Andi Ariyanto, menyampaikan bahwa festival ini merupakan wujud komitmen bersama, dalam melestarikan seni budaya lokal sekaligus memperkuat identitas daerah. 

Lebih dari itu, kegiatan ini juga diarahkan untuk mendukung program pemerintah daerah, khususnya dalam pengembangan desa wisata aktif dan revitalisasi budaya warisan.

Momentum penting dalam festival ini adalah dikukuhkannya Paguyuban Wisata Keling. 

Pengukuhan dilakukan secara simbolis dengan penyerahan surat keputusan kepada ketua paguyuban, yang menjadi langkah awal menuju pengelolaan wisata terintegrasi antar desa.

"Ke depan, konsep wisata Keling akan dikembangkan dalam bentuk paket terpadu, menggabungkan potensi alam, budaya, dan produk UMKM," ungkapnya.

Dengan pendekatan ini, wisatawan tidak hanya datang untuk melihat. Tetapi juga merasakan pengalaman menyeluruh tentang kehidupan desa.

Selain itu, Pemerintah Kecamatan Keling juga berharap Festival Kulturing dapat masuk dalam kalender resmi pariwisata daerah. 

Dengan demikian, promosi wisata dapat dilakukan secara berkelanjutan, dan berdampak langsung pada peningkatan kunjungan serta perekonomian masyarakat.

Tak kalah penting, dorongan juga diarahkan pada pembangunan infrastruktur pariwisata yang lebih memadai. 

Akses jalan, fasilitas pendukung, hingga ruang kreatif menjadi kebutuhan yang dinilai mendesak. Untuk menunjang potensi besar yang dimiliki wilayah tersebut.

"Festival ini menjadi langkah atas arah baru pengembangan budaya di Keling. Ke depan, kolaborasi lintas genre seni akan diperkuat, membuka ruang bagi inovasi tanpa meninggalkan akar tradisi. Dari Keling di sini, dapat ditunjukkan bahwa budaya bukan sekadar warisan, melainkan energi untuk masa depan," pungkasnya.(fik)

Editor : Admin
#kultur keling #budaya desa #pesona seni dan budaya desa #jepara mempesona