Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kirab Tolak Balak di Kelenteng Hian Thian Siang Tee Welahan Dihadiri Umat dari Luar Jawa

Fikri Thoharudin • Jumat, 17 April 2026 | 17:25 WIB
MERIAH: Prosesi pengantaran tandu berisi rupang dewa sebelum dikirab ke Kawasan Pecinan. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS) 
MERIAH: Prosesi pengantaran tandu berisi rupang dewa sebelum dikirab ke Kawasan Pecinan. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS) 

JEPARA — Matahari berdiri tepat di atas kepala. Memancarkan terik yang nyaris tanpa ampun. 

Namun panas siang itu tak menyurutkan langkah ribuan orang, yang memadati kawasan Pecinan Welahan. 

Dari gang ke gang, dari mulut pasar hingga depan rumah warga, lautan manusia berkumpul. Menunggu satu momen yang sudah lama dinanti, kirab budaya tolak balak.

Tabuhan tambur, simbal, dan gong bertalu cepat, memecah udara siang. 

Irama keras dan ritmis itu seperti memanggil semangat, menghidupkan suasana yang sejak awal sudah riuh. 

TOLAK BALAK: Umat Tionghoa tengah mengirab rupang dewa di Kawasan Pecinan pada Jumat (17/4). 
TOLAK BALAK: Umat Tionghoa tengah mengirab rupang dewa di Kawasan Pecinan pada Jumat (17/4). 

Di tengah kerumunan, naga panjang, liong, meliuk-liuk mengikuti gerak para pemainnya. Sementara barongsai melompat lincah, sesekali mendekat ke penonton.

Namun pusat perhatian sesungguhnya ada pada joli, tandu sakral yang mengusung rupang dewa. 

Tandu itu tak sekadar diarak. Ia digoyang, dihentak, bahkan dibawa berlari maju mundur oleh para pembawanya. Uniknya semua terlibat, dari remaja hingga lansia.

Gerakan itu bukan tanpa makna. Dalam tradisi, aksi tersebut menjadi bentuk penghormatan sekaligus simbol energi spiritual yang mengusir bala.

Kirab yang digelar pada Jumat (17/4) sejak pukul 12.30 hingga sore tersebut, menjadi bagian dari rangkaian perayaan ulang tahun Paduka YM Kongco Hian Thian Siang Tee. 

Menurut penanggalan Tionghoa, prosesi ini jatuh pada Sa Gwee 1 atau Imlek 2577. 

Rangkaian ritual sendiri telah dimulai sejak beberapa hari sebelumnya, pada Selasa (14/4) dengan sembahyang bersama. 

Ketua Yayasan Pusaka Kelenteng Welahan, Dicky Sugandhi, menyebut kirab tahun ini diikuti 32 kelompok dari berbagai daerah. 

Tak hanya dari Jawa seperti Semarang, Kudus, hingga Surabaya, peserta juga datang dari luar pulau, yakni Padang.

Termasuk dari Juwana, Malang, Gresik, Cepu, Weleri, Temanggung, Ulujami, Sukabumi, Ungaran, Gubug hingga Mranggen.

“Ini tradisi tahunan untuk menyambut hari lahir Paduka YM Kongco Hian Thian Siang Tee. Maknanya sebagai tolak balak. Masyarakat di sini menerima tradisi ini, sehingga datang berbondong-bondong menyaksikan,” ujarnya di sela-sela acara.

Sepanjang rute sekitar tiga kilometer, rombongan kirab menyusuri gang-gang sempit Pecinan Welahan. 

Warga berdiri berjejer di depan rumah, warung, sebagian bahkan naik ke tempat yang lebih tinggi agar tak kehilangan momen. 

Setiap kali tandu keluar masuk gerbang kelenteng, ketegangan kembali pecah. Menandai titik-titik sakral dalam perjalanan spiritual tersebut.

Menariknya, perayaan ini bukan hanya soal tradisi Tionghoa. Di dalamnya, nilai-nilai lokal ikut hidup. 

Wayang potehi juga turut tampil berdampingan dengan wayang kulit. 

Perpaduan itu menjadi bukti bahwa budaya tak berjalan sendiri, melainkan saling merangkul. Antara Tionghoa—Jawa.

“Di sini budaya Tionghoa tapi juga nguri-uri budaya Jawa. Bahkan wayang kulit digelar hingga tujuh kali setiap tahun di kelenteng ini,” imbuh Dicky.

Puncak perayaan akan dilanjutkan pada Minggu (19/4) melalui sembahyang besar bersama. Sementara kirab hari ini menjadi momentum utama yang menyatukan unsur ritual, budaya, sekaligus hiburan rakyat.

“Ini dilaksanakan di Jepara karena dianggap oleh orang Kelenteng Welahan salah satu yang tertua di Indonesia,” ucapnya.

Pada saat yang sama Bupati Jepara, Witiarso Utomo, melihat potensi besar dari tradisi ini. 

Ia menyebut kirab budaya di Welahan bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata unggulan. “Ini potensi luar biasa. Tahun depan akan kami konsep lebih baik, supaya bisa menggerakkan UMKM dan menjadi daya tarik wisata,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa kawasan Pecinan Welahan memiliki peluang untuk ditata seperti kawasan Pecinan di kota lain, tanpa menghilangkan karakter aslinya yang berada di dalam gang-gang.

“Ini kelenteng tertua. Kirba dihadiri 32 Kelenteng se-Indonesia. Potensi yang luar biasa agar dikembangkan,” pungkasnya.(fik)

Editor : Admin
#pecinan welahan #liong dan barongsai #kirab budaya #kelenteng welahan #umat Tionghoa