Untung Mebel Habis di Meja Finishing, Pelaku Usaha: Bahan “Tidak Naik” tapi Ganti Harga

M. Khoirul Anwar • Dipublikasikan Jumat, 17 April 2026 | 08:15 WIB
ILUSTRASI: Pengusaha mebel pusing, harga BBM tidak naik tapi bahan finishing yang naik.
ILUSTRASI: Pengusaha mebel pusing, harga BBM tidak naik tapi bahan finishing yang naik.

 

JEPARA — Kenaikan biaya produksi diam-diam menekan pelaku usaha mebel di Jepara. Meski tidak selalu diumumkan sebagai kenaikan resmi, sejumlah bahan penunjang produksi disebut mengalami “ganti harga” di lapangan.

Salah satu yang paling terasa adalah thinner, bahan utama dalam proses finishing. Dari sebelumnya sekitar Rp13 ribu, kini harga di pasaran sudah menyentuh Rp24 ribu. Kenaikan ini langsung berdampak pada ongkos finishing yang melonjak tajam.

Pengusaha mebel Setyawan menuturkan, beban biaya kini justru paling terasa di tahap akhir produksi. Untuk satu kursi, biaya finishing yang sebelumnya sekitar Rp130 ribu kini naik menjadi Rp240 ribu.

“Yang terasa sekarang finishing. Thinner naik, ongkos jasa ikut naik. Belum packing juga ikut naik,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi di lapangan tidak selalu terlihat sebagai kenaikan harga secara terbuka. Namun, praktik yang terjadi lebih banyak berupa penyesuaian harga baru oleh pemasok.

“Secara istilah mungkin tidak naik, tapi ganti harga,” imbuhnya.

Kenaikan biaya tidak berhenti di finishing. Setelah produk selesai, proses packing juga ikut menyumbang pembengkakan biaya. Harga tali pengikat dan plastik pembungkus mengalami kenaikan, membuat ongkos produksi semakin berat sebelum barang dikirim ke pembeli.

Dampaknya terasa pada keseluruhan struktur biaya. Kenaikan merata dari finishing hingga pengemasan membuat margin keuntungan terus tergerus.

Tekanan paling berat terjadi pada pesanan lama yang harga jualnya sudah disepakati sebelumnya. Produk tetap harus diselesaikan sesuai kontrak, sementara biaya produksi terus naik di belakang layar.

Akibatnya, margin laba pengusaha diperkirakan turun hingga sekitar 66,7 persen. Keuntungan yang sebelumnya masih cukup untuk menopang operasional kini semakin menipis.

Ketua DPD HIMKI Jepara Raya, Hidayat Hendra Sasmita, menyampaikan bahwa kenaikan harga material terutama terjadi pada bahan berbasis petrokimia seperti finishing dan plastik.

Menurutnya, untuk material plastik, kenaikan bahkan bisa mencapai 100 persen. Kondisi ini membuat pelaku usaha harus berputar lebih keras menjaga keberlanjutan produksi.

Di tengah situasi tersebut, persoalan utama pelaku mebel bukan lagi sekadar penjualan, melainkan bagaimana menjaga agar keuntungan tidak habis di meja finishing sebelum produk sampai ke pasar. (fik/war) 

 

Editor : Admin
harga thinner biaya finishing industri mebel mebel jepara himki jepara