Lomba Baca Fragmen Surat Kartini Jadi Magnet Pemuda, Wariskan Semangat Perjuangan di Kalangan Pelajar

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Kamis, 16 April 2026 | 15:43 WIB
MENGHAYATI: Khansa tengah membacakan surat yang ditulis Kartini kepada Stella pada 1899. (KHANSA UNTUK RADAR KUDUS)
MENGHAYATI: Khansa tengah membacakan surat yang ditulis Kartini kepada Stella pada 1899. (KHANSA UNTUK RADAR KUDUS)

JEPARA — Suasana berbeda terasa dalam gelaran lomba baca fragmen surat Kartini yang digelar di Pendopo Museum Kartini Jepara, pada Rabu (15/4).

Bukan sekadar ajang kompetisi, kegiatan ini menjadi ruang pertemuan. Antara generasi muda dengan gagasan besar Kartini yang melampaui zamannya.

Lomba ini sendiri dinilai berhasil menjadi magnet bagi pelajar. Dengan pendekatan yang tidak kaku, nilai-nilai perjuangan Kartini hadir lebih dekat dan relevan bagi generasi muda hari ini.

Sebanyak 33 pelajar dari berbagai sekolah di Jepara ambil bagian. 

Mereka membacakan fragmen surat-surat Kartini yang ditulis dalam rentang 1898 hingga 1904. Surat-surat yang selama ini dikenal sebagai cermin kegelisahan, keberanian, dan pemikiran emansipasi seorang perempuan muda di tengah kungkungan tradisi.

ANTUSIAS: Para peserta lomba membaca fragmen surat Kartini. (DISPARBUD JEPARA UNTUK RADAR KUDUS)
ANTUSIAS: Para peserta lomba membaca fragmen surat Kartini. (DISPARBUD JEPARA UNTUK RADAR KUDUS)

Setelah melalui penilaian yang cukup panjang, akhirnya sang juara ditetapkan. Di antara puluhan peserta, nama Khansa Aprillia Novianny dari SMKN 3 Jepara keluar sebagai juara pertama. 

Disusul Neisya Dafina dari SMAN 1 Tahunan sebagai juara kedua, dan Dinara Mysha Ayu Hapsari dari MA Darul Hikmah Jepara di posisi ketiga.

Hasil tersebut merupakan keputusan oleh Dewan Juri, meliputi Penyair Didid Endro S, Susi Susindra selaku Pemerhati Kartini dan Ali Burhan sebagai Ketua Forum TBM Kabupaten Jepara.

Kepala Bidang Kebudayaan dalam Disparbud Jepara, Mohamad Adjib Ghufron, menegaskan bahwa lomba ini tidak hanya menilai teknik membaca. 

Lebih dari itu, peserta didorong untuk benar-benar “masuk” ke dalam jiwa Kartini.

“Yang kami tekankan, peserta tidak hanya membaca, tetapi merasakan. Bagaimana seorang perempuan pingitan memiliki pemikiran yang melampaui zamannya,” ujarnya pada Kamis (16/4).

Menurutnya, kegiatan ini menjadi upaya konkret untuk menginternalisasi nilai-nilai perjuangan Kartini kepada generasi muda. 

Kata-kata yang ditulis lebih dari seabad lalu, dihidupkan kembali melalui suara dan penghayatan para pelajar.

Bagi Khansa selaku juara pertama, kemenangan itu terasa jauh dari kata instan. 

Tiga hari sebelum lomba, suaranya justru sempat hilang. Bahkan saat technical meeting, kondisinya belum sepenuhnya pulih.

Namun ia memilih tetap maju. Latihan dilakukan secara mandiri, di depan cermin, tanpa pelatih, tanpa penonton. Ia mengasah intonasi, artikulasi, dan tempo baca dengan caranya sendiri.

“Aku nggak pernah latihan di depan orang. Cuma di depan cermin, fokus ke vokal sama pengucapan,” ucapnya.

Sehari sebelum tampil, ia menonton film Kartini di YouTube. Dari situlah, ia mengaku mulai menemukan “rasa” dalam pembacaan.

“Sebelumnya belum dapet feeling. Setelah nonton, baru terasa,” katanya.

Fragmen yang ia pilih adalah surat Kartini kepada Stella, tertanggal 18 Agustus 1899. 

Dalam surat itu, Kartini menentang formalitas adat Jawa yang mengekang perempuan, sekaligus menyerukan kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan.

Di atas panggung, Khansa tampil sederhana namun kuat. Berkharisma.

Ia mengenakan kebaya janggan dan batik kawung, busana yang justru menjadi penegas karakter Kartini dalam narasi yang ia bawakan. 

Penampilannya diawali dengan menarik kursi, memberi hormat kepada dewan juri, lalu duduk dan mulai membaca sekitar delapan menit.

Khansa membacakan surat secara tegas, namun anggun. 

Rasa grogi sempat muncul. Apalagi melihat peserta lain yang tampak percaya diri. Dengan atribut dan perlengkapan yang memadai. Beberapa bahkan ada yang membawa mesin ketik kuno.

Namun ia memilih untuk tenang dan fokus pada pesan yang ingin disampaikan. “Ada rasa, sempat minder, tapi aku berusaha nyaman saja,” ujarnya.

Momen paling tak terlupakan justru terjadi saat pengumuman. Khansa mengira dirinya tidak masuk dalam daftar juara. Ia bahkan sudah bersiap pulang ketika namanya tiba-tiba disebut sebagai juara pertama.

“Sudah beres-beres tas, ternyata terpilih juara I. Soalnya waktu pengumuman juara III dan II tidak disebut namaku,” ucapnya sumringah.

Siswi kelas X jurusan Desain dan Komunikasi Visual ini, memang memiliki kecintaan pada dunia literasi sejak kecil. Ia terbiasa membaca bahkan sejak taman kanak-kanak, dan kerap mendongeng untuk adik maupun teman-temannya.

Remaja asal Desa Pulodarat, Kecamatan Pecangaan, kelahiran 2 April 2010 itu juga aktif sebagai wakil ketua OSIS dan mengikuti kegiatan pramuka. Di luar itu, ia memiliki hobi memasak dan pernah menekuni karawitan.

Menariknya, Khansa mengaku awalnya tidak terlalu mengenal sosok Kartini secara mendalam. Pemahamannya baru terbentuk setelah membaca artikel dan menonton film.

“Dia (Kartini, red) berdikari. Berani menentang hal yang salah, sosoknya lembut. Adik-adiknya saat menghaturkan salam menyembah ketika bertemu, selalu dimarahi. Setelah membaca fragmen surat, saya masuk ke Museum yang dulu ditinggali Kartini. Sangat berkesan, apalagi saat masuk kamar pingit,” tuturnya.

Seusai lulus SMK, ke depan ia berencana melanjutkan pendidikan ke bangku perguruan tinggi. “Mau kuliah, tertarik untuk menjadi guru,” pungkasnya.(fik)

Editor : Admin
kamar pingit Surat-surat Kartini Perjuangan pembebasan perempuan peringatan hari kartini ra kartini