JEPARA – Alun-Alun 1 Jepara berubah menjadi lautan putih, Selasa (14/4) malam. Ribuan jemaah memadati ruang terbuka kebanggaan Kota Ukir, larut dalam lantunan selawat, dzikir, dan doa bersama dalam Pengajian Akbar bersama Gus Iqdam.
Momentum religius ini menjadi bagian istimewa dalam rangkaian Hari Jadi ke-477 Kabupaten Jepara.
Tak sekadar seremoni perayaan usia daerah, malam itu suasana syukur begitu terasa. Jemaah dari berbagai penjuru Jepara dan daerah sekitar hadir, menyatu dalam satu majelis ilmu yang penuh khidmat.
Bupati Jepara Witiarso Utomo menyampaikan rasa bangganya atas antusiasme masyarakat yang memadati alun-alun. Menurutnya, kehadiran ribuan jemaah menjadi bukti kuat bahwa ukhuwah Islamiyah terus terjalin erat di tengah masyarakat.
“Malam ini kami merasa bahagia. Hari Jadi ke-477 Kabupaten Jepara tidak hanya kita rayakan dengan kemeriahan, tetapi juga dengan rasa syukur,” tuturnya.
Ia menegaskan, rasa syukur tersebut diwujudkan melalui kebersamaan dalam majelis ilmu, dzikir, dan selawat. Baginya, inilah wajah sejati sebuah perayaan daerah yang penuh makna.
Bukan sekadar hiburan, tetapi juga penguatan spiritual masyarakat.
Di tengah gema selawat yang terus menggulung dari panggung utama, pemandangan ribuan jemaah berpakaian putih menjadi simbol harapan.
Harapan akan masyarakat yang semakin dekat dengan nilai-nilai keagamaan, mencintai ilmu, serta terbuka terhadap nasihat kebaikan.
“Malam ini Alun-Alun Jepara menjadi lautan putih. Pemandangan ini menyejukkan hati. Semoga ini pertanda bahwa masyarakat Jepara cinta majelis ilmu, cinta selawat, dan cinta nasihat,” lanjutnya.
Menurut bupati, pengajian akbar ini menjadi ruang refleksi bersama bagi masyarakat di usia Jepara yang ke-477.
“Jepara tidak hanya menatap kemajuan pembangunan, tetapi juga memperkuat fondasi spiritual masyarakatnya,” jelasnya.
Sebelum menyampaikan mauidhoh hasanah di Alun-Alun Jepara, Gus Iqdam terlebih dahulu mengunjungi Museum RA Kartini yang berada di kompleks Pendapa Kabupaten Jepara.
Khodimul Majelis Sabilu Taubah Blitar itu tampak terkesima dengan berbagai koleksi yang menggambarkan perjalanan hidup pahlawan emansipasi perempuan tersebut.
Ia menilai sosok Kartini memiliki kedekatan kuat dengan tradisi keilmuan pesantren, mengingat RA Kartini pernah belajar langsung kepada KH Sholeh Darat, ulama besar yang juga menjadi guru pendiri NU KH Hasyim Asy’ari dan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan.
Dalam tausiah singkatnya, Gus Iqdam menyebut Jepara bukan hanya kota ukir dan kota sejarah, tetapi juga memiliki jejak kuat sebagai kota santri.
“Jepara ini juga kota santri. Semoga terus diberkahi Allah SWT, masyarakatnya makmur, unggul, lestari, dan religius,” tandasnya.
Hari Jadi ke-477 Jepara malam itu tidak sekadar merayakan usia.
Lebih dari itu, Jepara merayakan kebersamaan, keimanan, dan harapan dalam satu harmoni yang menggetarkan hati.
Editor : Admin