JEPARA — Prosesi ganti luwur di kompleks Makam Ratu Kalinyamat — Sultan Hadlirin, serta Raden Abdul Jalil, menjadi salah satu acara inti. Utamanya dalam rangkaian peringatan hari jadi ke-477 Jepara.
Sesampainya rombongan di Balai Desa Mantingan, Bupati Jepara bersama jajaran disambut Petinggi dan Camat Tahunan.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan penyerahan kain luwur sebagai simbol dimulainya ritual penggantian penutup makam leluhur.
Diiringi alunan terbang telon, rombongan berjalan khidmat menuju kompleks Makam Ratu Kalinyamat, yang juga menjadi peristirahatan Sultan Hadlirin.
Langkah demi langkah ditempuh dengan penuh penghormatan, mencerminkan nilai spiritual yang kental dalam tradisi tersebut.
Suasana berlangsung hening dan penuh kekhusyukan. Tepat sekitar pukul 15.30, prosesi dilanjutkan dengan pembacaan doa dan tahlil yang diikuti seluruh peserta.
Bupati Jepara Witiarso Utomo tampak menundukkan kepala, larut dalam doa bersama masyarakat.
Usai mengganti luwur, Witiarso menyampaikan bahwa rangkaian ziarah leluhur telah dilakukan sejak hari sebelumnya, dan kini dilanjutkan dengan buka luwur di Makam Mantingan.
“Kemarin sudah ziarah ke leluhur, kini dilanjutkan buka luwur di makam Mantingan, makamnya Sultan Hadlirin, Ratu Kalinyamat, hingga Raden Abdul Jalil,” ujarnya.
Ia juga menyinggung refleksi simbolik dari rangkaian kegiatan yang dilakukan, termasuk kirab dengan bersepeda dan berkuda.
Ini sebagai bentuk peneguhan semangat dan kekuatan dalam menjalankan pemerintahan ke depan.
“Kami mudah-mudahan punya tenaga kuda untuk setahun yang akan datang,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Witiarso menegaskan masih adanya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama di sektor infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.
Hal tersebut menjadi bagian dari upaya mewujudkan visi pembangunan daerah yang makmur, unggul, lestari dan religius.
“PR infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan harus kita selesaikan. Visi misi kami adalah makmur, unggul, lestari dan religius,” tegasnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya pelestarian budaya lokal agar tetap dikenal generasi mendatang.
Menurutnya, tradisi seperti kirab dan buka luwur menjadi bagian penting dalam menjaga identitas Jepara.
“Budaya yang ada di Jepara harus kita lestarikan, agar anak cucu kita mengenal warisan daerahnya,” lanjutnya.
Ia juga menyebut perayaan Hari Jadi Jepara ke-477 tahun ini merupakan tahun kedua pelaksanaan di masa kepemimpinannya. Secara konsep tidak banyak berbeda, namun ada penyesuaian dengan kebijakan efisiensi.
“Tidak banyak berbeda, hanya saja tidak ada arak-arakan kuda. Kita diarahkan untuk efisiensi, lebih menggunakan alat tradisional,” jelasnya.
Meski demikian, ia memastikan semangat perayaan tetap terjaga dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Di samping itu, penghadiran tujuh dalang cilik juga bagian dari cara pemajuan kebudayaan.
Terlebih di Jepara yang memiliki tak sedikit seni, tradisi dan budaya di masing-masing desa.
“Semangatnya tetap ada, 477 ini menjadi semangat yang terus terestafetkan,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara Ali Hidayat menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas perjalanan panjang Kabupaten Jepara.
Menurutnya, filosofi perayaan tahun ini diwujudkan melalui kebersamaan masyarakat dalam berbagai kegiatan, termasuk makan tumpeng bersama di Alun-alun Jepara I usai upacara.
“Sebanyak 477 tumpeng disiapkan untuk dibagikan kepada masyarakat, sebagai simbol Hari Jadi ke-477 Jepara,” terangnya.
Ia menambahkan, pada malam harinya juga digelar doa bersama lintas agama sebagai wujud kerukunan. Selain itu, terdapat pula pertunjukan seni seperti tari dari Karimunjawa serta pentas wayang kulit dalang cilik.
“Besok sore juga ada pentas wayang dalang cilik, termasuk dari anak-anak TK Yayasan Margo Langit,” jelasnya.
Dalam rangkaian tersebut, pihaknya juga menyiapkan porsi makan untuk masyarakat.
Serta telah memberikan santunan kepada 50 anak yatim usai penggantian luwur.
Kehadiran tamu dari 17 negara turut menambah semarak perayaan Hari Jadi Jepara tahun ini.
“Semua ini menjadi wujud kebersamaan, sekaligus harapan agar Jepara semakin maju dan lestari,” tandasnya.(fik)
Editor : Admin