JEPARA — Suasana khidmat terasa di kompleks Makam Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin. Makam yang berada di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan tersebut ramai didatangi oleh jajaran pegawai Pemkab Jepara.
Di tengah semarak peringatan Hari Jadi ke-477 Kabupaten Jepara, ziarah ke makam leluhur tidak menjadi hal yang terpisahkan.
Ini menjadi laku pembuka, sebelum puncak perayaan pada Jumat (10/4) mendatang.
Pada Rabu (8/4) pagi, rombongan yang dipimpin oleh Bupati dan Wakil Bupati Jepara memulai perjalanan spiritual itu dari Makam Mbah Panggang.
Lalu berlanjut ke Makam Mbah Jenggala di Kelurahan Saripan, hingga ke Makam Pangeran Sarif.
Satu per satu pusara disinggahi, seolah menyambung kembali benang sejarah yang mengikat Jepara dari masa ke masa.
Perjalanan tak berhenti di situ. Rombongan bergerak ke Makam Citrosoema II di Bapangan, kemudian sampailah di Mantingan, berziarah ke Makam Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadliri, dua sosok penting dalam lipatan sejarah Jepara.
Tahlil dan doa dipanjatkan. Mengharap doa restu dan berkah. Meski ringkas, tidak lantas mengurangi makna ziarah.
Dari sana, langkah kembali dilanjutkan ke Desa Sendang, Kecamatan Kalinyamatan, menyambangi Makam Citrosoema dan Yik Nde. Lalu ke Makam Adipati Tumenggung Cendhol di Margoyoso, hingga akhirnya ditutup di Pesarean Sedo Mukti, Kudus.
Bupati Jepara Witiarso Utomo menyebut, ziarah bukan sekadar tradisi. Lebih dari itu, yaitu menjadi laku batin untuk memohon restu dan keberkahan.
“Sebelum melakukan kirab untuk menyambut hari jadi Jepara ke-477, saya bersama Forkopimda dan seluruh jajaran mengadakan ziarah kubur untuk mengenang leluhur. Dari awal sampai akhir, kita berharap diberikan kemudahan, keberkahan, dan keselamatan oleh Allah SWT,” ujarnya.
Ia menegaskan, ada sembilan makam leluhur yang diziarahi dalam rangkaian tersebut.
Tahun ini, untuk pertama kalinya, ziarah juga menjangkau Kudus. Beberapa Bupati Jepera di masa lampau juga dimakamkan di Sedo Mukti, Kudus.
Termasuk di antaranya guru bangsa, RMP Sosrokartono, yang merupakan kakak RA Kartini. Mendiang Sosrokartono dalam riwayatnya juga merupakan penasihat spiritual Presiden Indonesia yang pertama, Soekarno.
“Baru tahun ini ziarah ke Kudus, karena terinformasi banyak makam leluhur Jepara di Kudus (Sedo Mukti, red). Ke depan akan kami laksanakan rutin selama masa kepemimpinan,” imbuhnya.
Di balik khidmatnya setiap doa yang diucapkan, terselip kesadaran. Bahwa Jepara hari ini berdiri di atas perjuangan panjang para pendahulunya.
Keadaan yang aman dan santosa sekarang, tak lepas dari warisan nilai dan pengorbanan masa lalu.
Mengusung tema “Kerja Tulus Wujudkan Jepara Makmur, Unggul, Lestari dan Religius (Mulus)”, peringatan tahun ini memang tak hanya dirancang meriah, tetapi juga sarat makna.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara, Ali Hidayat, menyampaikan bahwa nuansa spiritual seperti ziarah menjadi bagian penting dari rangkaian perayaan.
Sebelumnya, kegiatan telah diawali dengan halal bihalal bersama keluarga Sosroningrat. Termasuk adanya talkshow sejarah Hari Jadi Jepara dan Hari Kartini.
“Ini momentum refleksi, sekaligus penguatan identitas daerah,” katanya.
Memasuki puncak perayaan, nuansa budaya akan semakin terasa.
Kirab Buka Luwur pada Kamis (9/4) akan digelar dengan melibatkan Forkopimda, yang menunggang kuda bersama pemeran Ratu Kalinyamat.
Sebanyak 11 kuda disiapkan, 10 di antaranya untuk Forkopimda dan satu untuk pemeran Ratu Kalinyamat.
Selain itu, enam kereta kencana untuk tamu kehormatan dan lima kereta untuk jajaran OPD turut meramaikan prosesi.
Yang menarik, seluruh rangkaian kirab dirancang tanpa kendaraan berbahan bakar minyak. Rombongan akan berjalan kaki, termasuk peserta sendratari dan sepeda ontel tua dari komunitas KOSTI yang diperkirakan berjumlah sekitar 20 orang.
“Kita tidak menggunakan kendaraan BBM. Semua berjalan kaki, kecuali kebutuhan tertentu seperti untuk woro-woro,” jelasnya.
Kirab akan berakhir di Gapura Makam Mantingan. Dilanjutkan prosesi buka luwur, santunan, hingga makan tumpeng bersama.
Pada saat yang sama, sendratari kolosal Ratu Kalinyamat juga akan dipentaskan. Menghadirkan kembali kisah kepemimpinan perempuan legendaris Jepara dalam balutan seni pertunjukan.
Pada puncaknya, 10 April 2026, upacara digelar di Alun-alun Jepara I, disusul Wilujengan Nagari dengan tumpeng ke 477 sebagai simbol rasa syukur.
Tak hanya itu, doa lintas penghayat dari enam komunitas kepercayaan, pentas wayang oleh tujuh dalang cilik, hingga pengajian umum bersama Gus Iqdam akan melengkapi rangkaian acara.
Ratu Kalinyamat, ialah sosok yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 20 November 2023. Teramat patut untuk diteladani.
Sejarawan HJ. De Graaf dalam buku Awal kebangkitan Mataram, menuliskan bahwa Ratu Jepara sesungguhnya merupakan satu-satunya tokoh Jawa dari abad ke-16, yang melalui berita-berita Portugis, memiliki pelabuhan besar kerajaan.
Dinukil bahwa Jepara, orang Jawa menamakannya menurut istananya, Kalinyamat. Terletak di sebelah utara Sungai Jepara, kotanya terletak di sebelah selatan.
Sebagaimana keterangan orang Portugis, Diego de Couto, disebutkan "Cuja cidade principal se chama Gerinhama" yang berarti "Ibukotanya bernama Kalinyamat".
Di samping itu, De Couto menyebut, "Rainha de Japara, senhora poderosa e rica" yang artinya "Ratu Jepara, seorang wanita yang kaya dan berkuasa."
Tindakan Sang Ratu yang jamak diketahui ialah upaya penyerangan terhadap Malaka pada 1550 dan 1574. Dalam serangan pertamanya, bersamaan dengan Raja Johor, Ratu mengirim armada yang kuat. Meliputi 200 kapal persekutuan Muslim, 40 buah datang dari Jepara membawa 4000-5000 prajurit bersenjata.
Ekspedisi kedua, diajak oleh pembesar Aceh, tepatnya Oktober 1574, 300 kapal layar, 80 di antaranya berukuran besar, masing-masing berbobot 400 ton. Awak kapal terdiri dari 15.000 orang Jawa pilihan. Lengkap dengan perbekalan, logistik, meriam hingga mesiu.
Di antara seluruh kemeriahan itu, ziarah tetap menjadi titik awal yang penting. Tempat di mana Jepara menundukkan kepala untuk mengenang masa lampau, sebelum kembali melangkah maju.(fik)
Editor : Admin