
PENDAR suara nyanyian rohani itu tak sekadar terdengar, namun mengalun pelan. Menyusup ke sela-sela udara dini hari yang masih dingin.
Di Dukuh Margokerto, Desa Bondo, Kecamatan Bangsri, Jepara, pagi belum benar-benar datang.
Langit masih gelap. Jalanan masih lengang. Tetapi kehidupan sudah terlihat. Bukan karena rutinitas harian, melainkan karena panggilan iman yang telah lama berakar.
Sejak pukul 02.00 dini hari, ribuan umat Kristiani mulai terjaga. Rumah-rumah sederhana di kampung itu perlahan menyala. Bukan oleh lampu semata, tetapi oleh semangat yang sama.
Orang tua membangunkan anak-anaknya. Para pemuda bersiap dengan perlengkapan pawai. Sementara ibu-ibu memastikan segala sesuatu berjalan rapi.
Tidak ada yang merasa terbebani. Semua seperti tahu, bahwa yang mereka lakukan bukan sekadar kegiatan, melainkan bagian dari perjalanan spiritual.
Pawai Subuh Suci, demikian warga menyebutnya. Sebuah tradisi yang telah dijalankan turun-temurun setiap perayaan Paskah. Sejak puluhan tahun yang lalu.
Di Margokerto, tradisi itu tak pernah kehilangan ruhnya. Ia terus hidup, tumbuh, dan beradaptasi dengan zaman tanpa meninggalkan makna.
Ketika waktu menunjukkan pukul 03.30, pawai pun dimulai. Dari kompleks Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) Margokerto, ribuan umat bergerak perlahan.
Sejumlah obor, maupun lampu dinyalakan. Memecah gelap yang masih menyelimuti desa. Rute sepanjang kurang lebih 3 kilometer mereka tempuh dengan penuh kemantapan.
Dari gereja, rombongan bergerak menuju area pasar, melintasi setiap jalan desa, melewati makam Margokerto, hingga mencapai ujung dukuh. Lalu ke lapangan gereja.
Di sepanjang jalan, suasana terasa hidup. Nyanyian rohani terus dilantunkan. Acapkali anjing-anjing milik warga ikut melolong.
Tidak ada hiruk pikuk yang berlebihan, tetapi ada keteduhan yang justru terasa kuat. Dalam kesunyian dini hari, suara-suara itu menjadi seperti doa yang berjalan.
Yang menarik, pawai ini juga menjadi ruang ekspresi bagi umat. Sebanyak 15 kelompok dari jemaat GITJ Margokerto turut ambil bagian, masing-masing menampilkan kreasi mereka.
Ada miniatur gereja yang dibuat dengan detail, menara lonceng yang menjulang, perahu berhias salib, ataupun visualisasi dan teatrikal penyaliban Yesus.
Miniatur perahu yang dihias salib misalnya, bukan sekadar ornamen. Itu menjadi simbol kehidupan warga Margokerto yang sebagian besar adalah nelayan.
Laut yang mereka hadapi setiap hari penuh ketidakpastian, kadang tenang, kadang ganas. Dalam kondisi itulah, iman menjadi penuntun arah, sebagaimana salib menjadi penanda harapan.
Begitu pula dengan miniatur gereja dan menara lonceng, serta telur Paskah. Tidak hanya merepresentasikan bangunan fisik, tetapi juga menggambarkan komunitas yang hidup di dalamnya.
Gereja bukan sekadar tempat ibadah, melainkan ruang perjumpaan. Tempat orang saling menguatkan, dan menjadi rumah bagi jiwa-jiwa yang mencari makna.
Kusbiyantoro, selaku Majelis GITJ Margokerto, menyebut, bahwa kegiatan Pawai Subuh Suci, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga Desa Bondo.
“Setiap tahun, secara turun temurun, selalu kami adakan. Ini sudah menjadi tradisi, juga bentuk kebersamaan,” ujarnya pada Minggu (5/4).
Ia menjelaskan, sekitar 15 kelompok doa terlibat dalam pawai ini. Dengan setiap kelompok terdiri sekitar 200 orang.
Menurutnya, sebelum mencapai puncak Subuh Suci di hari Paskah pada Minggu (5/4) ini, umat telah melewati rangkaian ibadah yang panjang.
Pada Kamis Putih, diadakan pembasuhan kaki, sebuah simbol kerendahan hati dan pelayanan. Lalu pada Jumat Agung, umat mengikuti ibadah untuk mengenang pengorbanan Yesus.
Semua rangkaian itu bermuara pada Subuh Suci. Titik di mana perenungan berubah menjadi perayaan. Kesedihan beralih menjadi harapan.
“Harapannya, Pawai Subuh Suci ini dapat terus diadakan. Semakin dekat dan menjadi gereja yang kuat, sehat dan visioner. Setelah pawai dan ibadah, juga dilakukan pembagian telur paskah,” imbuhnya.
Pada saat yang sama, Pendeta GITJ Margokerto, Penta Kustafan, menegaskan bahwa makna Paskah tidak boleh berhenti pada seremoni.
Di tahun ini, tema yang diusung ialah, “Menang tanpa melawan.”
Menurutnya, kemenangan Yesus bukanlah kemenangan yang diraih melalui kekuatan fisik, melainkan melalui kasih, pengorbanan, dan ketulusan. Itulah yang seharusnya diteladani oleh umat. “Percuma kalau hanya jadi tradisi. Harus diimani,” tegasnya.
Ia juga melihat adanya perkembangan dalam partisipasi jemaat dari tahun ke tahun. Meski sempat terhenti saat pandemi, kini antusiasme kembali meningkat.
Dalam puncak perayaan, jumlah umat yang hadir diperkirakan mencapai sekitar 1.500 orang. Sementara, secara keseluruhan jemaat di Margokerto mencapai 3.000 orang.
Bahkan, jika dihitung seluruh Desa Bondo, jumlah umat Kristiani bisa mencapai lebih dari 6.000 jiwa.
Bagi warga, keterlibatan dalam pawai bukanlah kewajiban, melainkan panggilan. Setiap kelompok secara mandiri menyiapkan konsep, dekorasi, hingga peran masing-masing. Proses ini justru menjadi bagian penting yang mempererat hubungan antarwarga.
“Pawai Subuh Suci, merayakan kemenangan Yesus, yang semula mati, bangkit mengalahkan maut. Ini bukan hanya kemenangan Allah di dalam Yesus Kristus tapi juga kemenangan umat. Harapannya dengan kemenangan ini umat dalam mengikuti Yesus, semakin naik level. Tidak stagnan,” jelasnya.
Pihaknya juga berpesan kepada para umat, agar tidak menjadikan momen Subuh Suci saat Paskah hanya sebagai tradisi.
“Tapi ayo imani, karena kemenangan untuk umat. Ke depan jadikan alat untuk menyebarkan kebaikan,” tegasnya.
Cahyono (41), salah satu peserta dari RT 3/RW 7, merasakan hal itu secara langsung. Ia turut ambil bagian dengan memerankan Longinus, sosok yang ikut dalam kisah penyaliban.
“Rasanya tidak bisa dijelaskan. Ada kesan tersendiri,” ujarnya tampak berkaca-kaca.
Ia mengaku, persiapan sudah dimulai sejak pukul 02.00 dini hari, sementara proses pembuatan dekorasi dilakukan selama dua hari sebelumnya. Semua dilakukan bersama, melibatkan anak-anak hingga ibu-ibu.
Pawai yang mereka ikuti berakhir sekitar pukul 06.30 pagi. Saat matahari mulai muncul. Mereka berkumpul di lapangan belakang gereja.
Perayaan belum selesai. Di lapangan, umat berkumpul untuk mengikuti ibadah penutup Subuh Suci. Di sana, telur Paskah dibagikan kepada seluruh peserta. Sebuah simbol sederhana tentang kehidupan baru, harapan, dan kebangkitan.
Telur itu mungkin tampak biasa. Namun dalam konteks ini, ia menjadi lambang bahwa dari sesuatu yang tampak diam, kehidupan bisa lahir. Bahwa dari kegelapan, terang selalu punya jalan untuk muncul.
Lebih dari itu, Subuh Suci di Margokerto menjadi refleksi tentang bagaimana iman hidup di tengah masyarakat sederhana. Ia tidak hadir dalam bentuk yang mewah, tetapi dalam kebersamaan, gotong royong, dan ketulusan.
Di desa yang sebagian warganya menggantungkan hidup pada laut, sawah, dan pasar, kehidupan tidak selalu mudah. Namun justru di sanalah iman menemukan bentuknya yang paling nyata. Ia hadir dalam kerja keras, dalam doa-doa sederhana, dan dalam harapan yang terus dijaga.
Paskah menurutnya bukan hanya tentang mengenang kebangkitan. Ia adalah ajakan untuk terus bangkit. Dari keraguan, dari ketakutan, dan dari keputusasaan. Menjadi pengingat bahwa dalam setiap gelap, selalu ada kemungkinan untuk terang.
“Harapannya, untuk memperingati kematian, dan kebangkitan dan naiknya Tuhan Yesus ke surga. Kami lebih bersyukur, karena dosa-dosa sudah ditebus oleh Tuhan,” pungkasnya.(fik)
Editor : Admin