JEPARA — Suasana di Dukuh Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling, pada Sabtu (28/3), terasa berbeda.
Di tengah suasana akibat bencana longsor yang berulang, warga justru berkumpul dengan semangat kebersamaan.
Mereka menggelar kirab tumpeng bertema Syukur Alam Ruwat Semesta. Sebuah ikhtiar budaya dan doa, untuk tolak balak sekaligus merawat harmoni dengan alam.
Kegiatan ini digagas oleh komunitas pemuda Arjuna. Perwakilan pemuda setempat, Ahmad Yudi Irawan menyampaikan tradisi tersebut bukanlah hal baru.
Sejak 2013, kirab tumpeng telah menjadi agenda rutin yang diwariskan leluhur. Lalu dikemas ulang oleh generasi muda agar tetap relevan dengan zaman.
Barisan tumpeng yang diarak perlahan menyusuri jalan desa, menjadi simbol rasa syukur sekaligus doa.
Di balik itu, terselip harapan agar bencana yang melanda wilayah perbukitan Muria ini segera mereda.
“Kami berharap semua elemen masyarakat, mulai dari sesepuh sampai struktur pemerintahan ikut serta mendukung dan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut,” ujarnya Minggu (29/3).
Rangkaian kegiatan tak hanya berhenti pada kirab. Sejak pagi hari, warga bersama relawan dan pemuda menggelar penanaman pohon di sejumlah titik.
Tanah yang sebelumnya rawan longsor diharapkan kembali kuat, seiring tumbuhnya vegetasi baru yang mengikat lereng.
Setelah itu, langit Duplak diwarnai pelepasan burung.
Sayap-sayap kecil yang mengepak bebas menjadi simbol harapan, bahwa alam yang dijaga akan kembali memberi kehidupan.
Sebelum prosesi kirab dimulai, panggung sederhana diisi penampilan sanggar tari pemuda Arjuna.
Gerak tari yang mengalun di kaki pegunungan seakan menjadi pengingat. Bahwa budaya dan alam adalah dua hal yang tak terpisahkan.
Bagi para pemuda, kegiatan ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah bentuk kepedulian nyata. Tradisi leluhur dirawat, sekaligus dipadukan dengan aksi peduli lingkungan.
Menurutnya, dari tahun ke tahun, antusiasme warga terus meningkat.
Peserta kirab kian bertambah, tak hanya dari Duplak, tetapi juga dari wilayah sekitar. Hal ini menjadi tanda bahwa kesadaran bersama untuk menjaga alam perlahan tumbuh.
Di tengah ancaman longsor yang masih menyelimuti Desa Tempur, kirab tumpeng menjadi lebih dari sekadar tradisi.
Ia menjelma menjadi ruang harapan, bahwa manusia dan alam bisa kembali berjalan selaras, saling menjaga, dan saling menguatkan.
Di lereng Muria ini, doa-doa dipanjatkan bersama. Lewat tumpeng, tari, dan pohon-pohon yang ditanam.
Warga Dukuh Duplak dan Tempur secara umum menitipkan harapan sederhana, alam kembali ramah, dan aktivitas masyarakat berjalan seperti sediakala.
"Tumpeng dikirab di sepanjang jalur Duplak menuju Punden Mbah Robyong. Kemudian sampai punden kami melakukan doa bersama dan kenduri," pungkasnya.(fik)
Editor : Admin