RADAR KUDUS – Ada yang berbeda dalam Lomban Syawalan di Jepara tahun ini. Kerbau bule untuk pertama kalinya dikirab sejauh lebih dari 1 kilometer. Hasilnya? Ribuan warga tumpah ruah di sepanjang rute, Jumat (27/3).
Kirab dimulai dari TPI Jobokuto menuju RPH di kawasan Rusunawa. Sejak pagi, warga sudah memadati lokasi. Begitu rombongan bergerak, jalanan langsung penuh. Saat melintasi Jembatan Cinta, barisan tampak mengular panjang.
Kerbau bule berukuran besar menjadi pusat perhatian. Warnanya yang putih mencolok membuatnya berbeda dari kirab tahun-tahun sebelumnya.
Bupati Witiarso Utomo, Wabup M Ibnu Hajar, Sekda Ary Bachtiar, hingga Forkopimda ikut berjalan bersama warga.
Antusiasme masyarakat meningkat. Banyak yang rela menunggu sejak pagi.
“Sudah nunggu lama. Kerbaunya besar dan gagah. Beda dari biasanya,” kata Retno, salah satu warga.
Witiarso menegaskan, kirab bukan sekadar arak-arakan. “Ini bagian dari identitas budaya masyarakat pesisir,” ujarnya.
Menurut dia, kerbau bule membawa simbol baru.
“Melambangkan semangat dan kekuatan baru,” tambahnya.
Dia juga menepis anggapan yang selama ini berkembang di masyarakat.
“Kerbau yang dilarung utuh, bukan hanya bagian tertentu. Ini bentuk keterbukaan,” tegasnya.
Kirab kerbau Lomban sendiri terakhir digelar pada 2019. Tahun ini kembali dihidupkan.
“Ini bukti budaya tetap dijaga,” katanya.
Pemkab pun menyiapkan langkah lanjutan.
“Tahun depan kita kembangkan agar berdampak ke PAD,” tandasnya.
Editor : Admin