JEPARA — Malam di Desa Sukodono, Kecamatan Tahunan, tidak benar-benar sunyi pada Jumat (20/3).
Dari Pendapa Balai Desa, suara takbir terdengar pelan. Mengalun lirih dengan irama yang tidak biasa.
Tidak menggelegar seperti takbiran pada umumnya. Melainkan mengalir perlahan dengan nuansa Jawa yang kental. Menghadirkan suasana syahdu yang menenteramkan.
Setidaknya 30 warga duduk bersila di lantai pendapa. Mereka berkumpul tanpa sekat, membentuk lingkaran kebersamaan.
Wajah-wajah orang tua dan beberapa kalangan muda menyatu dalam satu ritme. Larut dalam lantunan takbir yang dibawakan secara bergantian.
Di malam menjelang Idulfitri yang jatuh pada Sabtu (21/3), mereka menggelar tradisi yang secara turun-temurun dijaga. Tebiran, demikian hal itu biasa disebut. Salah satu warisan tinggalan leluhur yang terus dilestarikan hingga kini.
Tebiran di Sukodono bukan sekadar takbiran. Namun hal itu adalah seni, doa, sekaligus refleksi spiritual. Tentang suatu era dan masa transisi kebudayaan Jawa-Islam.
Warga melantunkan kalimat takbir dengan langgam Jawa. Perlahan, penuh penghayatan, dan sarat rasa.
Pada Jumat (20/3), mereka terbagi menjadi lima kelompok kecil yang saling bersahut-sahutan, menciptakan harmoni yang khas dan sulit ditemukan di tempat lain.
Sebelum takbir dimulai, suasana dibuat lebih khidmat dengan pembacaan tahlil dan doa bersama.
Nama-nama leluhur, sesepuh desa, hingga anggota keluarga yang telah wafat diringkas dalam satu doa, keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Di samping untuk memuji keagungan Yang Maha Kuasa, Tebiran menjadi cara warga menjaga hubungan batin terhadap orang yang telah lebih dulu meninggal. Melestarikan satu denyut yang menjadi identitas daerah.
Seiring waktu berjalan, lantunan takbir pun dimulai. Nada-nada Jawa yang lembut berpadu dengan kalimat Arab, menciptakan akulturasi budaya yang hidup.
"Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar. Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar. Allahu akbar walillahil hamd." Langgam tersebut dilantunkan secara bergilir, sesekali digemakan bersama.
Bunyi lidah Jawa atas kalimat berbahasa Arab tersebut terdengar seperti patah-patah. Namun tidak meninggalkan satu kata pun.
Tidak ada pengeras suara yang berlebihan, tidak pula gemuruh sorak sorai. Hanya suara lirih—mendalam, yang saling menyambung. Menciptakan ketenteraman yang justru terasa penuh.
Namun, Tebiran tahun ini berlangsung berbeda. Waktunya lebih singkat dibanding biasanya.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya kegiatan bisa berlangsung dari pukul 20.00 hingga 22.00, kali ini hanya sekitar setengah jam. Hal itu bukan tanpa alasan.
Tahun ini menjadi momen langka. Perayaan Idulfitri berdasarkan penanggalan Aboge dan kalender Hijriah yang ditetapkan pemerintah jatuh pada hari yang sama, yakni Sabtu (21/3).
Kesamaan ini membuat rangkaian tradisi harus menyesuaikan.
“Biasanya Tebiran berlangsung lama, tapi karena berbarengan, kami ringkas. Warga juga mengikuti takbiran di masjid atau musala, bahkan ada takbir keliling dengan kesenian Tongtek,” ungkap Petinggi Desa Sukodono, Sagiman.
Meski dipersingkat, esensi Tebiran tidak berkurang. Justru, kebersamaan terasa semakin padat dalam waktu yang singkat.
Warga memanfaatkan momen itu untuk tetap menjaga tradisi, tanpa mengabaikan kegiatan lain yang juga menjadi bagian dari perayaan lebaran.
Di luar pendapa, suasana desa juga hidup. Takbiran dengan langgam Arab terdengar dari masjid dan musala.
Beberapa kelompok pemuda bahkan menggelar takbir keliling, diselingi bunyi-bunyian Tongtek yang menambah semarak malam kemenangan.
Sabtu (21/3) keesokan harinya, tepatnya pada pukul 04.00, warga akan kembali berkumpul untuk menggelar Kenduren Bodo.
Selamatan khas lebaran ini menjadi bagian penting, dalam rangkaian perayaan di Sukodono.
Biasanya, kenduren dilakukan pagi hari. Namun karena berbarengan dengan jadwal salat Idulfitri, waktu pelaksanaan dimajukan, di waktu Fajar.
Warga akan membawa berbagai hidangan dari rumah masing-masing, kemudian dikumpulkan dan didoakan sebelum dinikmati bersama.
Dalam setiap sajian, tersimpan makna. Makanan bukan sekadar konsumsi, tetapi simbol rasa syukur dan kebersamaan.
Dalam tradisi tertentu, seperti Jumat Pon di bulan Syawal, warga bahkan membawa apem sebagai bagian dari tradisi “barikan” atau Bodo Apem.
Bagi masyarakat Sukodono, seluruh tradisi ini tidak lepas dari penanggalan Aboge.
Sistem kalender Jawa ini telah digunakan turun-temurun. Menjadi acuan utama dalam menentukan waktu pelaksanaan berbagai tradisi.
Dalam satu siklus delapan tahun atau windu, dikenal tahun-tahun seperti Alif, Ha, Jim Awal, Za/Je, Dal, Ba, Wawu, hingga Jim Akhir. Selain itu, masyarakat juga menggunakan sistem pasaran Jawa seperti Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing.
Meski begitu, Sagiman menegaskan bahwa masyarakat Sukodono tidak memandang diri mereka berbeda dalam hal keyakinan.
“Di sini tidak ada istilah Islam Aboge. Yang ada itu penanggalannya saja yang memakai Aboge untuk pelaksanaan tradisi. Kalau ibadah seperti salat Idulfitri, tetap mengikuti ketetapan pemerintah,” jelasnya.
Sejarah panjang turut membentuk tradisi ini. Sukodono menjadi salah satu wilayah yang mencerminkan pertemuan budaya Jawa dan Islam.
Sagiman memprediksi, hal itu sejak masa transisi dari era Kerajaan Majapahit ke Kesultanan Demak.
Nilai-nilai Islam masuk dan menyatu dengan tradisi lokal, melahirkan bentuk serta ekspresi budaya yang khas.
Akulturasi itu terlihat jelas dalam Tebiran. Takbir yang berasal dari tradisi Islam dipadukan dengan langgam Jawa. Menghasilkan ekspresi laku spiritual serta laku sosial yang unik.
Hal yang sama juga tampak dalam berbagai tradisi lain seperti sedekah bumi, peringatan tanggal 1 Suro, hingga Muludan.
Menariknya, bagi warga Sukodono, semua ini bukanlah sesuatu yang luar biasa. Tradisi tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dijalani secara alami, tanpa kesan dibuat-buat.
“Bagi kami ini hal biasa. Tapi justru di situlah nilainya. Ini jadi ajang silaturahmi, mempererat hubungan antarwarga. Simbol persatuan,” sambung Sagiman.
Bahkan, bagi warga yang merantau, tradisi ini menjadi sumber kerinduan. Tidak sedikit yang sengaja pulang kampung untuk merasakan kembali suasana Tebiran dan Kenduren Bodo bersama keluarga dan tetangga.
Di tengah perubahan zaman, Desa Sukodono tetap bertahan dengan identitasnya.
Modernisasi tidak serta-merta menghapus tradisi, justru berjalan berdampingan.
Warga tetap terbuka terhadap perkembangan, namun tidak meninggalkan akar budaya mereka.
Harapan pun disematkan agar tradisi ini terus lestari. Bagi masyarakat, Tebiran bukan hanya tentang tradisi masa lalu, tetapi juga terkait masa depan.
Tentang bagaimana nilai kebersamaan, spiritualitas, dan identitas kultural tetap hidup. Bahkan di tengah generasi yang terus berubah.
Di bawah langit malam yang tenang, lantunan takbir berlanggam Jawa itu mungkin terdengar sederhana.
Namun bagi warga Sukodono, di sanalah tersimpan makna mendalam. Tentang satu identitas, ekspresi budaya, dan rasa handarbeni.
"Ini menjadi salah satu kebanggaan tersendiri, bagi warga. Semoga tetap dilestarikan. Malam ini yang ikut Tebiran terbilang sedikit. Karena terbagi untuk takbiran di musala ataupun masjid. Ya, kesamaan IdulFitri menurut Hijriah dan Aboge ini terakhir seingat saya sudah 35 tahun yang lalu," pungkasnya.(fik)
Editor : Admin