JEPARA — Suasana hening yang menyelimuti Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji, perlahan berubah menjadi hangat pada Jumat (20/3) pukul 06.00.
Setelah menjalani Catur Brata Penyepian selama 24 jam penuh sejak Kamis (19/3) pukul 06.00, umat Hindu setempat berkumpul di pura untuk melaksanakan persembahyangan Ngembak Geni.
Upacara persembahyangan ini menjadi satu penanda penting, dalam momen Hari Suci Nyepi dan tahun baru Saka 1948.
Timik-timik, sejak pukul 06.00 WIB, umat mulai berdatangan ke empat pura.
Yakni Pura Dharma Loka, Pura Giri Tungka, Pura Manggala Dharma, dan Pura Puser Bumi.
Di tempat-tempat suci tersebut, umat melaksanakan rangkaian persembahyangan dengan khidmat.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Jepara, Ngarbianto, menjelaskan acara diawali dengan prosesi penyucian diri melalui tirta pangrupat, sebelum sembahyang Ngembak Geni dimulai.
Ngembak Geni sendiri dimaknai sebagai momen “menghidupkan api” kembali, baik secara nyata maupun simbolis dalam diri manusia.
Setelah sehari penuh menjalani brata seperti amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mencari hiburan).
Umat, kembali menyalakan api, sebagai lambang kehidupan baru yang lebih bersih dan terang.
Rangkaian persembahyangan dilanjutkan dengan tri sandya dan kramaning sembah, kemudian ditutup dengan metirta.
Usai sembahyang, suasana berubah menjadi penuh keakraban. Hangat. Beberapa orang pun tampak tak kuasa menahan linangan air mata.
Terlebih saat umat saling bersalaman, dan para warga (ibu-ibu) menciumi anak-anak mereka, serta memeluk umat Hindu perempuan lainnya.
Dalam tradisi Kshama Mudita ini menjadi ajang untuk saling memaafkan satu sama lain. Baik yang muda maupun yang tua.
"Di Pura Dharma Loka ini ada sekitar 200 umat, semua saling minta maaf dan memaafkan satu sama lain. Setelah persembahyangan," ujarnya.
Menurutnya, puncak acara Dharma Santi juga akan digelar tingkat kabupaten, pada 12 April mendatang.
"Ya untuk kabupaten Jepara dan se-Pati Raya, turut menghadiri Dharma Santi atau halal bihalal khas Hindu," sebutnya.
Pihaknya berharap, seiring dengan perayaan Idulfitri yang juga bertepatan dengan Nyepi, dapat menambah kerukunan antarumat beragama.
"Dalam nuansa Nyepi dan tahun baru Saka 1948 ini, kami berharap umat Hindu semakin maju dalam berpikir, tidak mudah terprovokasi, dharma agama dan dharma negara," tegasnya.
Sementara itu, Tokoh Agama Hindu setempat, Ninik Anggraeni, menyampaikan bahwa momen ini menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi setelah menjalani Catur Brata Penyepian.
Menurutnya, esensi Nyepi tidak berhenti pada keheningan, tetapi berlanjut pada upaya memperbaiki diri dan membangun hubungan harmonis antar sesama.
“Setelah menyelesaikan brata penyepian, kami bisa kembali bersilaturahmi, saling maaf memaafkan. Harapannya, dari api suci yang dinyalakan pagi tadi, muncul cahaya dalam diri masing-masing,” ujarnya.
Ia menjelaskan, selama Catur Brata Penyepian umat diajak untuk melakukan introspeksi diri melalui meditasi, sembahyang, serta membaca kitab suci.
Dengan begitu, setiap individu diharapkan mampu mengevaluasi diri dan menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya.
Tradisi Kshama Mudita menjadi puncak kehangatan tersebut.
Umat tidak hanya saling memaafkan dengan sesama, tetapi juga lebih dahulu menghaturkan permohonan maaf kepada para pemangku, sulinggih, dan tokoh agama sebagai bentuk penghormatan.
Setelah prosesi saling memaafkan, acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama sebagai simbol kekeluargaan.
Secara sederhana namun mendalam, kegiatan pun berakhir sekitar pukul 08.00 WIB. Meskipun telah selesai namun maknanya terus hidup dalam keseharian umat.
Tradisi ini tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga pengingat pentingnya menjaga keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.
Melalui Nyepi dan Kshama Mudita, umat Hindu Desa Plajan Kecamatan Pakis Aji memperkukuh kerukunan umat beragama.
Tradisi ini pun menjadi cerminan harmoni yang terus dijaga, di tengah keberagaman masyarakat Jepara.
Terlebih seiring dengan praktik keagamaan yang dilakukan oleh umat Muslim, seperti puasa dan lebaran.(fik)
Editor : Admin