JEPARA — Hening dan hanya hening. Menjadi landskap dan suasana yang terpancar di Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji.
Kamis (19/3) pagi, sejak pukul 06.00, ratusan umat Hindu menjalani Catur Brata Penyepian.
Hal tersebut dilakukan hingga Jumat (20/3) pagi pukul 06.00.
Setelah itu para umat akan melakukan Ngembak Geni di pura masing-masing. Baik di Dharma Loka, Giri Tungka, Puser Bumi, ataupun Pura Manggala Dharma.
Dalam menjalani Catur Brata Penyepian, ada empat hal yang dilakukan. Yakni amati geni, amati karya, amati lelangunan serta amati lelungan.
Selama rentang waktu 24 jam tersebut, warga khususnya umat Hindu tidak menyalakan api, contoh kecilnya ialah tidak memasak dan menyalakan lampu.
Kemudian tidak bekerja. Semua hal yang berhubungan dengan pekerjaan ditinggalkan, termasuk aktivitas bertani.
Warga juga tidak bepergian. umat Hindu mengunci rumah rapat-rapat. Menyepi sementara dari dunia.
Tak hanya berhenti sampai di situ, umat Hindu juga tidak mencari hiburan di dalam rumah. Baik menonton televisi ataupun bermain smartphone.
Waktu Nyepi bagi umat Hindu ialah momen untuk tidak hanya menepi dari dunia. Namun, juga meredam berbagai keinginan, perasaan serta hal-hal yang muspro (sia-sia).
Di momen Hari Raya Suci ini, umat Hindu khususnya di Desa Plajan mereguk makna baru. Dalam merayakan Tahun Baru Saka 1948. Berbagai laku batin dan spiritual dilakukan secara pribadi, di dalam rumah masing-masing.
Suasana hening tersebut, sebelumnya sudah terasa sejak Rabu (18/3). Yakni saat dilakukan persembahyangan Mecaru, yang dilakukan sehari sebelum Nyepi.
Bedanya, saat pelaksanaan Nyepi (19/3), umat Muslim di Desa Plajan turut menunjukkan sikap ramah dan moderat. Penuh toleransi.
Azan yang biasanya menggunakan speaker luar masjid ataupun musala, kali ini hanya menggunakan speaker dalam. Alhasil, suara keras tidak tercipta saat masuk waktu salat.
Bahkan, telah disepakati bersama, jika Idulfitri jatuh pada Jumat (20/3) masyarakat yang mayoritas Muslim tidak akan melakukan takbir keliling di malam harinya.
Suasana pada Kamis (19/3), terlihat begitu tenteram. Tanpa hiruk pikuk aktivitas warga, yang lebih terdengar justru suara alam.
Kicau burung-burung dan dengung tonggeret, mengisi ruang hening yang lebih kentara dari hari-hari biasa.
Jalanan desa tampak lengang. Pintu-pintu rumah tertutup, dan aktivitas masyarakat nyaris berhenti total. Dunia seakan berhenti sejenak.
Keheningan itu bukan tanpa makna. Hari Raya Nyepi, khususnya bagi umat Hindu, dimaknai sebagai momentum untuk kembali menata diri. Menenangkan pikiran, dan meredam segala bentuk kesibukan duniawi.
Tidak hanya aktivitas fisik yang dibatasi, tetapi juga gejolak batin. Barangkali yang selama ini kerap luput dari perhatian.
Di RT 2/RW 7 Desa Plajan, seorang warga lanjut usia, Diran (75), memilih menjalani Nyepi dengan penuh kesederhanaan. Hal tersebut telah disampaikannya usai upacara persembahyangan Mecaru pada Rabu (18/3) siang, tepat sehari sebelum Nyepi.
Katanya, sejak Kamis (19/3) pagi, ia sudah menyiapkan diri untuk menjalani laku spiritual. Tidak pergi ke sawah seperti hari biasanya.
“Sing penting ora metu saka njero omah (Yang penting tidak keluar dari rumah, red),” ujarnya lirih.
Menurutnya, geni atau api, tidak hanya dimaknai secara fisik, tetapi juga simbolis.
Mematikan api berarti menahan hawa nafsu, emosi, dan keinginan duniawi yang berlebihan.
Karena itu, sehari sebelumnya berbagai kebutuhan telah disiapkan. Agar tidak ada aktivitas memasak saat Nyepi berlangsung.
Diran menuturkan, beberapa umat bahkan memilih meditasi sehari semalam. Dalam kondisi sunyi dan minim cahaya atau petengan, mereka mencoba menyelami diri lebih dalam.
Makanan yang disiapkan pun sederhana, cukup untuk memenuhi kebutuhan tanpa berlebihan.
Selain itu, ia memilih menyiapkan berbagai sarana upacara. Seperti banten atau sesaji, baik unsur jajanan pasar, bubur rupa lima, sego abang putih, sego byar, telur, hingga wedang kopi.
Seluruhnya ditujukan sebagai persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa ataupun leluhur.
Hal serupa turut disampaikan oleh Haryanto (36), warga setempat. Ia juga lebih memilih membuat banten saat Nyepi.
Malam hari sebelum Nyepi ia telah bersiap, menjalani Catur Brata Penyepian dengan hal-hal yang berhubungan dengan ritual keagamaan.
“Ya, saya menyiapkan kebutuhan untuk upacara Ngembak Geni, yang akan dilaksanakan setelah hari penyepian,” tuturnya.
Menurutnya, Nyepi ialah bagaimana dirinya dapat memahami diri dan berbakti kepada Sang Pencipta dengan penuh kesadaran.
Nyepi baginya, sebagai momen refleksi diri, di mana pengendalian diri menjadi kunci utama dalam menjalani kehidupan.
Menurut Haryanto, beragama tidak hanya soal memahami ajaran, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mampu menunjukkan bakti secara nyata.
Ia mengaku tidak selalu mendalami ajaran secara teoritis, namun berusaha menjalankan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Baginya, kesadaran dan ketulusan hati, jauh lebih penting dibanding sekadar pengetahuan.
“Buat apa pandai ilmu agama kalau tidak tahu cara berbakti kepada Sang Pencipta,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Jepara, Ngarbianto, menjelaskan bahwa rangkaian Nyepi tidak berhenti pada hari penyepian.
Setelahnya, umat Hindu akan melaksanakan Ngembak Geni sebagai simbol menghidupkan kembali semangat kehidupan, baik secara lahir maupun batin.
Ia menyebut, puncak perayaan di antaranya akan ditutup dengan Dharma Shanti, yakni tradisi saling memaafkan antarumat.
Kegiatan ini biasanya dilakukan dengan saling berkunjung dari rumah ke rumah, mempererat hubungan sosial setelah sehari penuh menjalani keheningan.
Lebih lanjut, Ngarbianto menyebut adanya tingkatan dalam pelaksanaan Catur Brata Penyepian. Seperti Nista, Madya, dan Utama.
“Semua dilakukan menurut kemampuan masing-masing. Ada yang hanya sekadar berdiam diri di rumah. Ada yang tidak bermain HP. Ada pula yang tidak makan, tidak minum dan tidak tidur selama seharian penuh. Meditasi,” jelasnya.
Menurutnya, pelaksanaan Nyepi di Desa Plajan juga diiringi dengan semangat toleransi antarumat beragama.
Unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) bersama tokoh masyarakat, telah melakukan koordinasi untuk menjaga kekhusyukan perayaan.
Di desa ini, jelang lebaran warga Muslim yang biasanya menggelar takbir keliling, kali ini ditiadakan.
“Namun untuk panggilan salat (azan) masih diperbolehkan, dengan menggunakan speaker dalam masjid atau musala. Semua kesepakatan itu juga malah lebih banyak muncul dari saran umat Muslim, bukan dari kami,” ucapnya sembari tersenyum.
Imbauan tersebut diterima dengan baik oleh masyarakat. Warga menyadari pentingnya saling menghormati, terutama dalam momen keagamaan yang sakral seperti Nyepi. Yang kali ini hampir beriringan dengan momen Idulfitri.
Sikap saling menjaga ini menjadi bukti nyata kuatnya toleransi di tengah keberagaman.
Suasana Kamis (19/3) malam pun, di Desa Plajan akan semakin hening. Lampu-lampu dipadamkan, langit terlihat lebih gelap, dan bintang-bintang akan tampak lebih jelas.
Dalam kesunyian itu, setiap individu seakan diajak berdialog dengan dirinya sendiri.
Nyepi di Desa Plajan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan perjalanan spiritual yang mendalam. Ia menjadi ruang jeda dari rutinitas, sekaligus pengingat akan pentingnya keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
“Kami di sini menjalankan laku keagamaan dengan penuh keharmonisan. Bersamaan seperti dengan pemeluk agama Islam,” pungkasnya.(fik)
Editor : Admin