Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mecaru Menjelang Nyepi di Pakis Aji Jepara, Bawa Pesan Ekoteologi dan Keselarasan Alam Semesta

Fikri Thoharudin • Rabu, 18 Maret 2026 | 19:12 WIB
MEMAKNAI: Umat tengah mengikuti persembahyangan di Pura Puser Bumi Desa Plajan Kecamatan Pakis Aji. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
MEMAKNAI: Umat tengah mengikuti persembahyangan di Pura Puser Bumi Desa Plajan Kecamatan Pakis Aji. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

JEPARA — Suasana khidmat terasa saat umat Hindu di Desa Plajan Kecamatan Pakis Aji melaksanakan ritual Mecaru, pada Rabu (18/3). 

Tepat sehari menjelang perayaan Hari Suci Nyepi, yang jatuh pada Kamis (19/3).

Persembahan suci ini bukan sekadar tradisi.

Melainkan pengingat, akan pentingnya menjaga keseimbangan. Antara manusia dan alam semesta.

Baca Juga: Persembahyangan Mecaru Digelar Sederhana di Pura Puser Bumi, Umat Hindu Jepara Jaga Harmoni Jelang Nyepi

Ketua Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Agama Hindu Kabupaten Jepara, Totok Harmanto, menyampaikan bahwa Mecaru merupakan ajaran leluhur yang sarat makna spiritual. 

“Dari Mecaru menuju Nyepi, kita diajarkan menata semesta sekaligus menata diri,” ujarnya pada Rabu (18/3), seraya menyampaikan penyuluhan kepada umat.

Menurutnya, Mecaru menjadi bentuk persembahan kepada Bhuta Kala sebagai simbol kekuatan alam. 

Tujuannya bukan untuk ditakuti, melainkan untuk diajak berdamai agar tercipta harmoni. 

Dalam filosofi Hindu, keseimbangan ini dikenal sebagai hubungan antara buana agung (alam semesta) dan buana alit (diri manusia).

Melalui Mecaru hingga Nyepi, umat diajak mengendalikan keinginan dan hawa nafsu yang berlebihan. 

Ritual ini juga menjadi wujud syukur kepada Sang Hyang Widhi Wasa, atas kehidupan dan kesehatan yang masih diberikan. 

“Kita datang ke Pura bisa bersembahyang, berterima kasih, itu bagian dari menyelaraskan diri,” tambahnya.

Ia menegaskan, Mecaru dan Nyepi merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. 

Jika mecaru dimaknai sebagai pembersihan diri secara lahiriah, maka Nyepi adalah momentum penyucian batin.

SAKSAMA: Sehari menjelang Nyepi dilakukan persembahyangan Mecaru, Totok Harmanto menyampaikan penyuluhan di sela-sela acara. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
SAKSAMA: Sehari menjelang Nyepi dilakukan persembahyangan Mecaru, Totok Harmanto menyampaikan penyuluhan di sela-sela acara. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

Dalam pelaksanaan Nyepi, umat Hindu menjalankan empat pantangan utama yang dikenal sebagai Catur Brata Penyepian. 

Pertama, amati geni atau tidak menyalakan api, yang juga dimaknai sebagai pengendalian hawa nafsu.

Baca Juga: THR ASN Jepara 2026 Cair, Pemkab Anggarkan Rp 57,3 Miliar Sesuai Kebijakan Pusat

Kedua, amati karya, yakni menghentikan seluruh aktivitas pekerjaan selama 24 jam, mulai Kamis (19/3) pukul 06.00 hingga Jumat (20/3) pukul 06.00.

Ketiga, amati lelungan atau tidak bepergian.

Keempat amati lelanguan, yakni tidak menikmati hiburan, termasuk membatasi penggunaan gawai. 

Semua ini bertujuan untuk menciptakan keheningan total, sebagai ruang refleksi diri.

Menurutnya itu sebagai satu bagian untuk merasakan masa-masa sulit. Sehingga dapat dipahami pemaknaan keadaan yang mendalam.

Totok menjelaskan, dalam praktiknya terdapat tingkatan pelaksanaan, mulai dari nista, madya, hingga utama. 

Pada tingkat nista, umat tetap memperhatikan kebutuhan dasar, seperti menyiapkan makanan terutama bagi anak-anak dan lansia. 

Baca Juga: Jelang Lebaran 2026, Stok Sembako, Elpiji dan BBM di Jepara Aman, Harga Relatif Stabil

Sementara madya dilakukan dengan berdiam diri di rumah, mengurangi interaksi, dan tidak makan serta minum.

Adapun tingkat utama merupakan bentuk pengendalian diri yang lebih mendalam, yakni tidak makan minum dan berjaga selama 24 jam. Meditasi. Sebagai upaya mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widhi Wasa.

Lebih jauh, Totok menyoroti nilai ekoteologi yang terkandung dalam rangkaian Mecaru dan Nyepi. 

Ia menyebut, keheningan Nyepi secara nyata memberi ruang bagi alam untuk “bernapas”, mengurangi polusi dan aktivitas manusia.

“Ini bukan hanya soal diri kita, tapi juga bagaimana menjaga alam tetap seimbang. Ketika keinginan berlebihan bisa kita kendalikan, maka alam pun ikut terjaga,” jelasnya.

Melalui perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1948 ini, umat Hindu diharapkan mampu menjalani kehidupan yang lebih selaras.

Baik dengan diri sendiri, sesama, maupun lingkungan.

“Mecaru membersihkan diri dari luar, Nyepi membersihkan dari dalam. Jika keduanya dijalankan dengan khidmat, maka hidup akan lebih bermakna,” pungkasnya.(fik)

Editor : Admin
#Catur Brata Penyepian #mecaru nyepi jepara #hari raya nyepi 2026 #makna mecaru hindu #amati geni karya lelungan lelanguan #ekoteologi dalam hindu #keseimbangan alam semesta hindu #buana agung buana alit #tradisi nyepi jepara #ritual mecaru sebelum nyepi #makna nyepi penyucian diri #filosofi nyepi hindu #pengendalian diri nyepi #hari suci nyepi saka 1948 #umat hindu jepara