JEPARA — Menu makan bergizi gratis (MBG) seakan menjadi makan berbelatung gratis pada Kamis (5/3).
Hal tersebut dialami oleh sejumlah siswa menengah, khususnya di area Jepara Kota.
Semula, para siswa tampak kegirangan usai mendapatkan jatah menu MBG yang mewah, bandeng presto.
Oleh sebab puasa, menu tersebut pun dibawa pulang. Dengan maksud akan disantap saat waktu berbuka puasa tiba.
Namun kenyataan pahit harus diterima siswa. Alih-alih menyantap menu tersebut, nafsu makan jadi hilang. Lantaran ditemukan belatung dalam menu MBG tersebut.
Saat dibedah, menu yang menurut informasi dibagikan oleh SPPG Kuwasen tersebut ternyata tak layak konsumsi.
"Iya itu, menu MBG hari Kamis (5/3) kemarin. Ditemukan SDN 1 Ujungbatu, SMPN 1 Jepara, SMPN 4 Jepara dan SMAN 1 Jepara," sebut sumber Radar Kudus yang tak berkenan dikorankan namanya.
Tak hanya bandeng dengan belatung, namun roti kering yang dibagikan ternyata juga sudah berjamur.
Hal serupa disampaikan oleh Kepala SMPN 1 Jepara Lisna Handayani. Semula, belatung hidup yang meloncat-loncat di dalam bandeng presto tersebut diketahui siswa.
Setelah plastik dibuka, dipastikan, ternyata benar ada banyak belatung di menu MBG yang diterima siswa pada hari Kamis (5/3).
Sontak, para orang tua atau wali murid membuang menu MBG yang diterima anaknya tersebut. Tak kuasa melihat belatung yang bergerak-gerak.
Menurut Linsa, pada Kamis (6/3) malam, tak sedikit yang secara bersamaan melaporkan kejadian tersebut.
Lebih lanjut dijelaskan, saban hari terdapat hampir seribu menu MBG yang diterima oleh para siswa di SMPN 1 Jepara.
Lisna juga mencatat, insiden serupa bukan kali pertama dialaminya. Sebelumnya, juga pernah sayur dan buah yang busuk. Termasuk menu bakso yang sudah tak layak konsumsi.
Sementara itu hal senada juga disampaikan oleh Kepala SMPN 4 Jepara Abdul Kohar.
Pihaknya pun menyampaikan agar SPPG lebih teliti lagi. Utamanya dalam menerapkan pengawasan serta quality control.
"Kami sudah warning ke SPPG. Harapannya untuk berikutnya agar lebih memperhatikan standar yang ditentukan. Baik standar gizi dan kualitasnya, serta standar harga sesuai anggaran yang digelontorkan," sambungnya.
Sementara itu, pada Jumat (6/3) telah dilakukan pendalaman dan pengusutan kasus. Baik oleh Dinkes Jepara, Puskesmas Jepara maupun Pemerintah Daerah.
Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jepara, Musthofa Wildan, membenarkan adanya laporan menu MBG yang rusak pada Kamis (5/3). Laporan tersebut diterima saat waktu berbuka puasa.
Menurutnya, pada malam hari pihaknya langsung melakukan konfirmasi dan mendapati laporan serupa dari wilayah layanan SPPG Kuwasen 2, Kuwasen 3, dan Bandengan 4 yang berada dalam satu yayasan pengelola.
“Dari manajemen SPPG memang ditemukan adanya menu yang rusak. Setelah kami konfirmasi ke supplier, diduga terjadi kekurangan pengawasan,” ujarnya.
Wildan menjelaskan, berdasarkan pengecekan secara fisik, saat proses distribusi makanan sebenarnya belum ditemukan adanya belatung. Namun beberapa jam kemudian kondisi tersebut muncul.
“Ketika didistribusikan belum ada belatung. Namun pada sore hari baru muncul. Ini menjadi evaluasi bagi kami di SPPG,” jelasnya.
Ia menambahkan, pada Jumat (6/3) tim satuan tugas bersama Badan Gizi Nasional (BGN) tingkat kabupaten telah turun langsung melakukan pendalaman.
SPPG, lanjutnya, berkomitmen mendata seluruh sekolah yang menerima menu rusak pada hari tersebut. Serta akan mengganti pada hari aktif berikutnya.
“Menu yang rusak akan kami ganti. Penggantiannya dilakukan untuk mengganti menu yang tidak layak tersebut,” jelasnya.
Selain itu, pihaknya juga menyampaikan permintaan maaf kepada sekolah dan para siswa atas kejadian tersebut.
Wildan menyebut, pihaknya bersama Kepala Satgas Jepara juga akan melaporkan kejadian ini kepada pimpinan BGN. Termasuk rekomendasi penghentian sementara operasional SPPG.
“Proses pengajuan suratnya sedang berjalan. Masih menunggu jawaban dari BGN pusat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kewenangan penghentian sementara operasional berada di tingkat BGN pusat.
Apabila keputusan tersebut diterbitkan, maka perintah tidak beroperasional harus segera dijalankan, sambil dilakukan evaluasi secara berjenjang.
Ke depan, pihaknya berharap transparansi dan kualitas menu MBG dapat ditingkatkan. Sekolah diharapkan menerima informasi harian terkait komposisi menu, termasuk angka kecukupan gizi (AKG) dan jenis makanan yang disajikan.
Selain itu, pengawasan terhadap supplier juga perlu diperketat mulai dari bahan baku hingga proses distribusi.
“Sebaiknya, menu diproduksi langsung oleh SPPG. Misalnya untuk bandeng presto, bahan mentah dibeli kemudian dimasak sendiri agar kualitasnya lebih terkontrol,” pungkasnya.(fik).
Editor : Mahendra Aditya