JEPARA — Denting tambur, simbal (ceng-ceng), dan gong terdengar nyaring di kawasan Pecinan Welahan, pada Selasa (3/3) sore.
Ribuan warga berkerumun di antara Kelenteng Hian Thian Siang Tee dan Kelenteng Hok Tek Bio, untuk menyaksikan puncak perayaan Imlek dalam tradisi Cap Go Meh.
Sejak pukul 16.00, massa mulai membanjiri area Pasar Welahan tersebut.
Mereka memanfaatkan waktu ngabuburit, dengan menikmati atraksi barongsai yang dipadukan dengan musik rebana.
Perpaduan budaya Tionghoa dan Jawa itu menghadirkan suasana harmonis, terlebih saat lagu-lagu kebangsaan dan sholawat turut menggema mengiringi tabuhan barongsai.
Tak hanya tampil di satu titik, rombongan barongsai dan rebana juga melakukan kirab. Menyusuri kawasan Pecinan sejauh kurang lebih dua kilometer.
Rute kirab dimulai dari Kelenteng, berputar mengelilingi area Pecinan, hingga kembali lagi ke Kelenteng Hok Tek Bio.
Atraksi rampung sekitar pukul 17.30. Tak lama berselang, dibagikan porsi menu buka puasa bagi masyarakat Muslim.
Landskap pemandangan sarat akan kerukunan. Warga berbuka puasa di pelataran dan halaman Kelenteng.
Ketua Yayasan Pusaka Kelenteng Welahan, Dicky Sugandhi, menyampaikan bahwa Cap Go Meh merupakan puncak, sekaligus penutup rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek bagi masyarakat Tionghoa.
“Cap Go Meh ini dalam masyarakat Tionghoa adalah sebagai puncak perayaan atau penutup Imlek. Ibaratnya, di masyarakat Muslim seperti bodo kupat (lebaran ketupat). Di sini kami menyajikan lontong Cap Go Meh, hampir sama seperti lontong opor saat bodo kupat,” ujarnya usai kirab.
Ia menjelaskan, Cap Go Meh diperingati 15 hari setelah Tahun Baru Imlek.
Dalam kesempatan tersebut, panitia menyiapkan sekitar 250 porsi lontong Cap Go Meh. Dibagikan secara gratis, kepada warga sekitar sebagai bagian dari kegiatan ngabuburit dan buka bersama.
“Setelah kami keliling dengan barongsai dan rebana, kami kemas dalam bentuk ngabuburit bersama warga sekitar. Setelah azan, baru dimakan. Semuanya saling menghormati,” jelasnya.
Dicky menyebutkan, makna lontong sendiri memiliki simbol kerukunan antar umat beragama.
“Kemelekatan dan kerukunan. Di samping itu juga ada sambal goreng, kering, bumbu bubuk serta sayur rebung. Ya, rebung filosofinya sebagai manusia harus senantiasa punya semangat maju, menjulang ke atas,” sebutnya.
Menurut Dicky, kegiatan tersebut merupakan bentuk pelestarian budaya Jawa. Sekaligus simbol kerukunan dan toleransi antarumat beragama di Welahan.
Ia berharap di Tahun Kuda Api 2577 Kongzili ini, masyarakat Welahan dapat hidup rukun, tenteram, dan gemah ripah loh jinawi.
Ia menambahkan, selama berpuluh-puluh tahun, setiap perayaan Cap Go Meh juga selalu dimeriahkan dengan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk, mulai pukul 22.00 hingga 04.00 dini hari.
“Tadi pagi juga sudah digelar, wayang kulit dari jam 10.00 hingga pukul 16.00,” ujarnya.
Bahkan dalam setahun, pagelaran wayang kulit, bisa digelar hingga tujuh kali.
“Tahun-tahun selanjutnya kami akan mengadakan pertunjukan yang sama. Kami juga ingin lebih menyamakan dengan umat Islam karena ini bulan Ramadan, jadi kami ajak buka bersama,” katanya.
Dicky juga berharap kawasan Pecinan Welahan dapat berkembang sebagai kawasan wisata religi Tionghoa yang diterima masyarakat luas.
“Dari masyarakat sudah welcome, tidak ada masalah,” tambahnya.
Sementara itu, Noya (16), warga Desa Ketilengsingolelo yang merupakan siswi SMA Muhammadiyah 2 Mayong, mengaku antusias menyaksikan kirab Cap Go Meh.
“Seru banget, ngabuburit sambil lihat barongsai,” ujarnya singkat.
Ia datang bersama teman-temannya untuk menikmati suasana perayaan yang dinilainya penuh kebersamaan. “Iya, penuh toleransi,” pungkasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya