JEPARA — Kesan tak menyenangkan disampaikan oleh salah satu wali murid di Desa Kerso, Kecamatan Kedung pada Jumat (27/2).
Ibu dari dua anak berinisial Is merasa gemas. Lantaran menu MBG yang diterima kedua anaknya dinilai teramat sederhana.
Di samping itu, MBG yang diterima oleh anaknya yang masih duduk di bangku TK dan MI tersebut baru menginjak hari kelima.
"Iya, baru dapat sejak Senin (23/2). Sebelumnya belum dapat," tuturnya.
Menurutnya, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memberikan MBG di sekolah anaknya kurang cermat. Bagaimana tidak, bahkan pada Kamis (26/2) anaknya menerima buah jambu, tapi busuk.
"Iya, hari Kamis itu dapat satu roti brownies, kurma tiga biji, abon dan buah jambu citra busuk," katanya.
Menurutnya SPPG tersebut kurang variatif. Seperti menu yang diterima pada hari Jumat (27/2) ialah menu rapelan dengan hari Sabtu (28/2).
"Empat telur puyuh, susu kemasan ukuran kecil, roti, bolu kukus, keripik tempe kemasan kecil, jeruk dan kacang yang biasanya buat oleh-oleh pergi umrah itu. Ini kayak makanan (kudapan) kumpulan pengajian," sebutnya.
Menurutnya, kedua anaknya tidak selera dengan menu tersebut.
"Bukannya tidak bersyukur, tapi SPPG apa tidak bisa lebih variatif? Apalagi ini menu kering. Kan ada ahli gizinya," ucapnya.
Ia menilai, SPPG memberikan menu setidaknya dalam rentang enam kali pendistribusian ini amat sederhana.
"Iya kesannya apa adanya. Jika dihitung eceran berapa itu harganya? Waktu menu pertama kali itu ora nggadek (seperti tanpa pertimbangan, red). Anak saya yang TK, itu dapat roti, telur asin, dan empat biji kelengkeng. Kalau yang kelas MI dapat tambahan kurma 3 biji," ucapnya.
Pihaknya berharap, SPPG lebih memperhatikan selera anak.
Tidak asal memilih menu yang berpotensi tidak disukai anak
"Harapannya yang bagus, sesuai harga (anggaran) MBG. Lebih kreatif. Saya lihat SPPG lain itu ya bagus," tandasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya