JEPARA — Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jepara, Musthofa Wildan, menegaskan pihaknya tidak membenarkan pembagian Makan Bergizi (MBG) dilakukan secara rapelan, atau dirapel beberapa hari sekaligus.
Menurutnya, distribusi MBG tetap dilakukan setiap hari, kepada peserta didik di sekolah maupun madrasah. Termasuk kalangan B3.
Adapun besaran anggaran yang dialokasikan yakni Rp 10 ribu untuk porsi besar, dan Rp 8 ribu untuk porsi kecil.
“Selama puasa, distribusi tetap setiap hari dalam bentuk makanan kering. Sudah kami sosialisasikan dan arahkan agar penerima manfaat membukanya saat berbuka puasa. Jadi memang tetap untuk peserta didik, sekolah, dan madrasah setiap hari,” ujarnya pada Kamis (26/2).
Ia menjelaskan, sebelum Ramadan sempat digelar rapat yang membahas usulan distribusi MBG pada sore hari dalam bentuk rapelan, yakni satu minggu dua kali. Skemanya, distribusi dilakukan pada Senin untuk kebutuhan Selasa dan Rabu, serta Kamis untuk kebutuhan Jumat dan Sabtu.
Usulan tersebut, kata dia, merupakan masukan dari pimpinan organisasi masyarakat daerah, termasuk Muhammadiyah dan NU. Namun setelah disampaikan kepada wali murid dan pihak sekolah, muncul keberatan.
“Banyak yang keberatan karena sudah repot kalau harus masuk sore. Akhirnya kami rapat kembali dan disampaikan ke Wabup Jepara. Dari laporan yang masuk ke SPPG, mayoritas menolak distribusi sore hari. Jadi tetap didistribusikan pagi hari,” jelasnya.
Ia menambahkan, SPPG pada prinsipnya menyesuaikan, apabila ada surat resmi yang mengatur distribusi sore hari.
Namun hingga saat ini, kebijakan yang berjalan tetap distribusi pagi sesuai hari sekolah.
Untuk peserta didik nonmuslim, diimbau agar tidak mengonsumsi makanan tersebut di lingkungan sekolah selama Ramadan.
Sebelumnya, pihaknya juga telah bersurat ke Badan Gizi Nasional (BGN) pusat terkait pelaksanaan program tersebut di Jepara.
Dalam pelaksanaannya selama Ramadan, menu yang diberikan berbentuk makanan kering dengan tetap berpedoman pada prinsip “Isi Piringku” dan gizi seimbang. Komposisinya mencakup protein, karbohidrat, serat, mineral, dan kalsium.
“Protein hewani biasanya dari susu, ada juga kandungan kalsium. Untuk serat kami berikan buah, puding, jeruk, pisang, kadang kurma. Karbohidrat memang banyak roti, tapi tidak terus-menerus. Sudah kami variasikan dengan jagung, jasuke, dan ubi manis,” paparnya.
Saat ini, terdapat 148 SPPG yang sudah operasional di Kabupaten Jepara, dengan total 342.131 penerima manfaat.
Rinciannya antara lain di Kecamatan Kedung 12 SPPG (26.159 penerima manfaat), Pecangaan 10 (22.407), Welahan 7 (15.325), Mayong 12 (33.083), Batealit 12 (22.850), Jepara 13 (33.458), Mlonggo 10 (20.473), Bangsri 12 (31.639), Keling 12 (20.222), Tahunan 15 (29.860), Nalumsari 9 (22.344), Kalinyamatan 10 (24.401), Kembang 6 (15.945), Pakis Aji 5 (6.733), dan Donorojo 7 (17.232).
Sementara itu, untuk wilayah Karimunjawa, hingga kini belum ada SPPG yang beroperasi.
Disebutkan, masih terdapat banyak SPPG yang masih dalam proses pembangunan, sebagian menunggu pencairan anggaran dan penyelesaian administrasi lainnya.
Adapun waktu distribusi selama bulan Ramadan menyesuaikan jenjang pendidikan.
Untuk TK dan PAUD dilakukan sekitar pukul 09.00 WIB, sedangkan untuk SMP dan SMA sekitar pukul 12.00 WIB.
Wildan menegaskan, prinsip utama pelaksanaan MBG di Jepara adalah memastikan peserta didik tetap mendapatkan asupan gizi seimbang setiap hari, tanpa harus dirapel, demi menjaga kualitas dan ketepatan sasaran program.
"Distribusi menyesuaikan waktunya, bisa dikomunikasikan antara SPPG dan pihak sekolah," pungkasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya