JEPARA — Tak berselang lama, eskalasi konflik di Timur Tengah, mulai menimbulkan kecemasan di kalangan pelaku usaha ekspor mebel Jepara.
Mereka menghitung ulang potensi dampak terhadap order, pengiriman, hingga stabilitas harga. Di tengah ketidakpastian jalur logistik global, khususnya Selat Hormuz.
Ketegangan meningkat pascagejolak di kawasan tersebut yang dikabarkan menyebabkan wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sebagaimana disampaikan kantor berita resmi Iran, IRNA.
Situasi kian memanas setelah muncul kabar bahwa Garda Revolusi Iran (IRGC), mengumumkan penutupan Selat Hormuz sejak Sabtu (28/2).
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai “urat nadi” energi dunia. Jalur laut sempit di antara Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab itu menjadi lintasan utama pengiriman minyak mentah dan berbagai komoditas global.
Gangguan di kawasan ini berpotensi memicu efek domino terhadap biaya pelayaran, distribusi barang, hingga harga jual di tingkat konsumen.
Manajer Mebel Rahayu Jati Jepara, Mohammad Faried Rizal, mengaku terus memantau perkembangan situasi.
Menurutnya, meski belum ada pembatalan order resmi, tanda-tanda perlambatan mulai terasa.
“Untuk sekarang belum ada order masuk dari Timur Tengah. Baru sebatas tanya-tanya harga. Katanya ada rencana mau ke Jepara pertengahan Maret sebelum IdulFitri,” ujarnya pada Minggu (1/3).
Saat ini perusahaannya tengah fokus mengerjakan pesanan untuk pasar Rusia.
Namun ia tak menampik kekhawatiran bahwa buyer dari kawasan konflik, akan menunda bahkan membatalkan pesanan baru.
“Yang pasti khawatir jika buyer tidak jadi pesan jika ke depan ada kendala (Perang). Mulai dari biaya pengiriman sampai sulitnya masuk ke wilayah sana,” katanya.
Faried menilai, persoalan yang dihadapi eksportir bukan hanya soal perang. Sebelumnya pun, sejumlah buyer Timur Tengah sudah mengeluhkan harga.
“Mereka minta kualitas bagus, tapi harga masih seperti lima sampai tujuh tahun lalu. Katanya di sana penjualan juga sulit,” jelasnya.
Padahal, lanjut dia, biaya produksi di dalam negeri terus meningkat setiap tahun. Produk yang diekspor, seperti set kamar tidur, kursi, dan almari berbahan kayu mahoni, membutuhkan bahan baku dan ongkos tenaga kerja yang tidak murah.
Kondisi ini menciptakan tekanan ganda bagi pengusaha. Di satu sisi harga produksi naik, di sisi lain pasar meminta harga tetap rendah, sementara risiko logistik meningkat akibat konflik geopolitik.
Terkait ongkos kirim, Faried mengaku belum melakukan updates informasi terbaru. Sistem tarif kontainer biasanya diperbarui setiap dua minggu oleh perusahaan pelayaran.
“Kalau barang belum siap kirim, biasanya kami belum cek biaya. Yang ditakutkan, kalau hari ini kami sampaikan harga ke buyer, tapi muatnya sebulan lagi, bisa jadi tarifnya sudah beda,” ujarnya.
Ketidakpastian ini membuat perencanaan bisnis menjadi lebih rumit.
Dalam situasi normal, pengiriman ke kawasan Timur Tengah memerlukan waktu sekitar tiga hingga empat minggu.
Namun jika jalur pelayaran terganggu dan kapal harus memutar, waktu tempuh bisa jauh lebih lama dengan biaya yang melonjak.
Ditutupnya Selat Hormuz, perusahaan pelayaran dapat mengalihkan rute melalui jalur yang lebih panjang.
Konsekuensinya adalah kenaikan biaya bahan bakar, premi asuransi, serta tarif pengiriman. Pada akhirnya dibebankan ke eksportir dan konsumen.
Bagi Jepara yang dikenal sebagai sentra mebel ekspor, gangguan di Timur Tengah bukan sekadar isu regional. Rantai pasok global yang terhubung membuat gejolak di satu titik bisa berimbas luas.
Jika buyer Timur Tengah menunda pembelian dan ongkos kirim meningkat, arus kas pelaku usaha berpotensi terganggu.
Penundaan order juga bisa memengaruhi tenaga kerja, produksi, ataupun perputaran modal di tingkat lokal.
Meski demikian, Faried berharap situasi tidak berlarut-larut.
Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, pelaku usaha khususnya pengekspor seperti Jepara kini berada dalam posisi waspada.
Mereka tidak hanya bersaing di pasar internasional, tetapi juga harus siap menghadapi risiko geopolitik yang berada ribuan kilometer jauhnya. Namun dampaknya terasa hingga ke sentra mebel di pesisir utara Jawa.
“Harapannya perang segera selesai supaya sirkulasi keuangan membaik dan perdagangan kembali normal,” tutupnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya