Forum Sejarah dan Budaya Ratu Kalinyamat, Wadah untuk Mengenal Sosok Pemimpin Perempuan yang Disegani

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Rabu, 25 Februari 2026 | 19:01 WIB

SINERGIS: Wakil MPR RI Lestari Moerdijat bersama dengan Bupati Jepara Witiarso Utomo beserta penggiat sejarah foto bersama usai menggelar dalam Forum Sejarah dan Budaya Ratu Kalinyamat 2026 (25/2).
SINERGIS: Wakil MPR RI Lestari Moerdijat bersama dengan Bupati Jepara Witiarso Utomo beserta penggiat sejarah foto bersama usai menggelar dalam Forum Sejarah dan Budaya Ratu Kalinyamat 2026 (25/2).

JEPARA — Suara tabuhan kentrung mengalun khidmat di serambi Museum Kartini sekaligus Pendopo Kabupaten Jepara pada Rabu (25/2).

Denting ritmis dari Ken Palman itu menjadi pembuka Forum Sejarah dan Budaya Ratu Kalinyamat. Sebuah ruang refleksi tentang sosok perempuan pemimpin pesisir yang jejaknya menembus lintas abad.

Forum tersebut diadakan untuk dapat memantik, khususnya generasi muda. Terhadap gagasan pembebasan dan keberanian dari tokoh-tokoh masa lampau. Dari Kartini, Ratu Kalinyamat hingga Ratu Shima.

Forum tersebut menjadi pengantar menuju Kartini Festival 2026 pada 22–25 April mendatang.

Dengan tujuan mengedukasi generasi muda Jepara agar lebih mengenal siapa Kartini hingga Ratu Kalinyamat. Mengapa mereka layak menyandang gelar Pahlawan Nasional.

Dalam catatan sejarah abad ke-16, Ratu Kalinyamat dikenal bukan hanya sebagai penguasa Jepara, tetapi juga pemimpin maritim yang disegani. 

Ia membangun kekuatan dan aliansi armada laut besar dari pelabuhan Jepara, yang saat itu menjadi salah satu bandar niaga penting di pesisir utara Jawa.

Sejumlah sumber Portugis menyebut, pada ekspedisi melawan Portugis di Malaka sekitar tahun 1551, Ratu Kalinyamat mengirimkan armada yang terdiri dari puluhan kapal besar dengan ribuan prajurit. 

Bahkan dalam ekspedisi pada 1574, armada Jepara disebut membawa sekitar 300 kapal dengan kekuatan hingga 15.000 prajurit. 

Meski serangan itu belum berhasil merebut Malaka, keberanian dan skala kekuatan militernya membuat nama Jepara diperhitungkan dalam peta geopolitik Asia Tenggara kala itu.

Armada tersebut terdiri dari kapal-kapal jung besar—kapal kayu berukuran raksasa khas Nusantara—yang mampu mengangkut ratusan orang dan persenjataan. 

Jepara pun dikenal sebagai galangan kapal penting, dengan kemampuan logistik, dan strategi maritim yang maju pada masanya.

Bupati Jepara Witiarso Utomo, menegaskan bahwa keteladanan Ratu Kalinyamat bukan hanya pada keberanian militernya, tetapi pada komitmennya terhadap rakyat.

“Supaya bisa menyejahterakan rakyat Jepara, saya mencontoh beliau dalam mengambil tindakan yang tidak menciderai hati rakyat,” ujarnya pada Rabu (25/2).

Menurutnya, nilai kepemimpinan yang tegas namun berpihak pada rakyat harus menjadi fondasi pembangunan daerah hari ini.

Pada saat yang sama, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X Jawa Tengah–DIY, Manggar Sari Ayuati, menyebut kekayaan objek cagar budaya di Jepara sebagai modal utama melestarikan warisan leluhur. 

Banyak situs dan jejak sejarah yang menyimpan pesan penting. Tentang identitas maritim dan peran perempuan dalam sejarah Nusantara.

Sementara itu, Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menyoroti bahwa kepemimpinan perempuan seringkali dipersempit dalam narasi modern.

“Sejarah membuktikan perempuan mampu membangun aliansi geopolitik. Ratu Kalinyamat menjadikan wilayahnya bandar utama niaga, menguasai jalur laut, sekaligus memastikan nilai religius berkembang,” katanya.

Ia menambahkan, ketika perempuan hadir dalam pengambilan keputusan, kepemimpinan dapat berjalan dengan sensitivitas sosial dan keberanian strategis sekaligus.

Dijelaskan bahwa Ratu Kalinyamat bukan sekadar nama dalam buku. Melainkan simbol keberanian maritim, diplomasi, dan kepemimpinan perempuan yang menyejahterakan rakyat.

Dari Jepara abad ke-16 dengan ratusan kapal dan ribuan prajurit, hingga Jepara hari ini yang tengah membangun masa depan, semangat itu diharapkan tetap berlayar.

Pamong Budaya Ahli Madya, Theresiana Ari Larasati, juga mengingatkan bahwa Jepara sejak dahulu sarat dengan kerja-kerja perempuan yang kuat—dari sektor ekonomi hingga budaya. 

Warisan itu, menurutnya, perlu terus dihidupkan dalam ruang-ruang publik.

"Seperti Tenun Troso, ini menjadi kekayaan kultural yang dapat dikembangkan. Begitupun dengan sektor lain yang di dalamnya banyak terdapat kerja-kerja perempuan," tandasnya.(fik)

 

Editor : Zainal Abidin RK
Ratu Kalinyamat sejarah jepara kartini Budaya