Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Festival Imlek Jepara Tampilkan Liong dan Barongsai, Ribuan Warga Tumpah Ruah dari Museum Kartini hingga Pecinan

Fikri Thoharudin • Rabu, 25 Februari 2026 | 18:39 WIB

MEMUKAU: Pemain liong dan barongsai tengah menampilkan atraksi di Kelenteng Jepara pada Rabu (25/2) sore.
MEMUKAU: Pemain liong dan barongsai tengah menampilkan atraksi di Kelenteng Jepara pada Rabu (25/2) sore.

JEPARA —Langit Jepara mulai meredup jelang waktu berbuka puasa, Rabu (25/2) sore. Namun suasana di pusat kota justru kian semarak. 

Ribuan warga memadati kawasan. Dari depan Museum Kartini dan Pendopo Kabupaten hingga Kelenteng di Kawasan Pecinan.

Tabuhan tambur menggema, dua barongsai berjingkrak lincah menyusuri kerumunan. 

Anak-anak, digandeng orangtua mereka, berebut mendekat. Dengan wajah antara berani dan ragu, tangan-tangan kecil itu menyelip masuk ke mulut singa, menyodorkan uang angpao.

Tawa pun pecah. Ada yang menjerit histeris kegirangan. Ada pula yang spontan bersembunyi di balik punggung ayah atau ibunya, saat barongsai mendekat terlalu cepat. Namun ketakutan itu lekas berubah menjadi cerita yang akan mereka kenang.

Di sisi lain, para pemain liong—naga panjang berwarna hijau—membentuk lingkaran. Berputar dan meliuk mengikuti irama. Gerakannya kompak, memukau, seolah menyatukan denyut ribuan pasang mata yang menonton.

Tak hanya atraksi budaya, Festival Imlek yang perdana kali digelar itu, juga diselipi pembagian angpao kepada 50 anak yatim. Satu per satu mereka maju, menerima bingkisan. Di tengah keramaian itu, nilai berbagi terasa hangat.

Di bawah lampion-lampion yang menggantung di Kawasan Pecinan tersebut harmoni begitu terasa. 

TERPUKAU: Bupati Jepara Witiarso Utomo beserta Wabup M Ibnu Hajar disambut oleh pemain barongsai.
TERPUKAU: Bupati Jepara Witiarso Utomo beserta Wabup M Ibnu Hajar disambut oleh pemain barongsai.

Banner 'Selamat Menunaikan Ibadah Puasa' dibentangkan panitia. Termasuk banner 'Gong Xi Fa Cai' yang keluar dari mulut barongsai bermuka singa itu.

Ketua Perayaan Festival Imlek Jepara, Harun Lin, menyebut festival perdana ini sebagai wujud nyata toleransi dalam keberagaman. 

Tahun ini, menurutnya, Imlek berada di bawah naungan shio kuda api. Yang melambangkan semangat, kerja keras, ketangguhan, dan keberanian.

“Kuda menggambarkan energi positif, kebebasan, serta bergerak cepat menghadapi tantangan. Ini menjadi inspirasi bagi kita semua, khususnya masyarakat Jepara, untuk terus maju tanpa menyerah, memperkuat persatuan, dan membangun daerah dengan optimisme,” ujarnya.

Ia berharap festival Imlek pertama yang digelar secara resmi di Kabupaten Jepara ini, menjadi awal tradisi tahunan yang dinanti masyarakat.

Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menegaskan bahwa Imlek adalah bagian dari ragam budaya dan wujud toleransi di Kota Ukir. 

MERIAH: Pemain barongsai memukau warga dalam Festival Imlek pada Rabu (25/2).
MERIAH: Pemain barongsai memukau warga dalam Festival Imlek pada Rabu (25/2).

Perayaan yang diselenggarakan masyarakat Tionghoa bersama Pemerintah Kabupaten Jepara ini, menurutnya, menunjukkan bahwa tidak ada sekat di antara warga.

“Kita menghargai saudara-saudara yang merayakan Imlek. Termasuk yang sedang menunaikan puasa. Kita semua bersaudara,” katanya.

Ia juga mendorong penataan kawasan Kampung China agar semakin menarik sebagai destinasi wisata. 

Warga di wilayah perkotaan diajak mempercantik lingkungan, dengan warna-warna yang menggugah semangat.

“Kalau kotanya bagus, orang senang datang. Kita bisa tumbuhkan UMKM, terutama kulinernya. Harapan saya nanti ada sentra makanan yang tertata rapi dan menjadi daya tarik,” imbuhnya.

Senja pun berganti malam. Lampion-lampion merah menyala di antara arus manusia yang perlahan bergerak pulang. 

Sebagian bersiap berbuka puasa di kawasan sekitar Alun-alun Jepara I tersebut, sebagian lagi masih menikmati kemeriahan. 

Di Jepara pada Rabu (25/2) sore, perayaan tak sekadar soal tradisi, melainkan tentang kebersamaan yang dirawat dalam keberagaman.

Menurut Mas Wiwit, Festival Imlek tersebut menjadi warna baru. Diharapkan jadi ajang untuk memperkuat keguyuban antar warga.(fik)

Editor : Zainal Abidin RK
#imlek #kelenteng #barongsai #puasa #liong