JEPARA — Suasana penug gairah menyelimuti Museum Kartini pada Rabu (25/2) pagi jelang siang.
Di tempat yang sarat akan sejarah itu, dukungan pemajuan literasi Jepara terus mengalir.
Kali ini, DPP Partai NasDem melakukan Safari Ramadan. Bukan sekadar kunjungan seremonial, tetapi membawa kabar baik bagi pegiat literasi di Bumi Kartini.
Hadir Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Saan Mustopa, didampingi Anggota Komisi X DPR RI Lestari Moerdijat.
Keduanya disambut hangat oleh Bupati Jepara Witiarso Utomo dan Wakil Bupati M. Ibnu Hajar beserta jajaran.
Langkah Saan Mustopa menyisir setiap sudut museum, seakan menegaskan kekagumannya pada sosok Raden Ajeng Kartini dan saudara-saudarinya.
Ia menelusuri koleksi, berdiskusi tentang arah pembangunan museum.
Hingga menyoroti sejarah bangunan yang dulunya merupakan Pendopo Kabupaten Jepara dan Rumah Dinas Bupati.
“Mas Wiwit merelakan Pendopo dan Rumah Dinasnya menjadi Museum. Ini komitmen dan penghargaan kepada leluhur, dan harus terus diabadikan lewat Museum Kartini,” sebutnya pada Rabu (25/2).
Menurutnya, museum bukan sekadar tempat menyimpan benda bersejarah. Tetapi bagian dari tonggak literasi.
Sebagaimana Kartini yang menjadi pahlawan dunia literasi. Simbol pembebasan lewat gagasan dan tulisan.
Sebagai bentuk dukungan konkret, Saan Mustopa bersama Lestari Moerdijat menyerahkan satu unit mobil operasional kepada Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kabupaten Jepara.
“Kami punya komitmen yang sama untuk menjaga, memelihara, dan merawat museum dalam konteks menyebarkan budaya literasi di Jepara. Kami juga terus mengupayakan agar pajak buku 0 rupiah, supaya minat baca masyarakat meningkat,” tegasnya.
Fraksi Partai NasDem di DPR RI memang konsisten memperjuangkan kebijakan bebas PPN untuk buku.
Kebijakan ini diyakini meringankan beban masyarakat, sekaligus memperkuat ekosistem literasi nasional.
Lestari Moerdijat menambahkan, Museum Kartini yang dihadirkan Pemkab Jepara bukan hanya bangunan yang merekam jejak sejarah.
“Ini simbol pembebasan. Apa yang diperjuangkan Kartini: kemandirian, keberanian perempuan untuk tampil di depan. Memperjuangkan nilai kemanusiaan, masih sangat relevan hingga hari ini,” ujarnya.
Ia mendorong agar Museum Kartini berkembang menjadi pusat studi perempuan.
Embrio itu, menurutnya, sudah ada. Saat ini pihaknya tengah mengumpulkan berbagai literatur tentang perempuan untuk memperkaya koleksi.
Target besarnya, Museum Kartini menjadi museum kelas A. Kategori tertinggi yang akan menjadikannya sebagai kebanggaan nasional.
“Kalau jadi kelas A, ini bukan hanya kebanggaan Jepara, tapi kebanggaan Indonesia,” katanya.
Prosesnya memang panjang. Pengajuan baru dilakukan dan masih banyak penyesuaian yang harus disiapkan.
Termasuk restorasi dan revitalisasi lingkungan sekitar, menjadi kompleks cagar budaya.
Bupati Witiarso Utomo memastikan komitmen pemerintah daerah.
“Kami memberikan perhatian serius pada museum ini. Ada beberapa usulan untuk menjadi kelas A, mudah-mudahan bisa terealisasi,” tanggapnya.
Bagi para pegiat literasi, momen paling membahagiakan adalah ketika kunci mobil operasional diserahkan kepada Ketua PD FTBM Jepara, M. Ali Burhan.
“Dengan bantuan mobil ini kami sangat berterima kasih. Ini akan sangat bermanfaat untuk mengonsolidasikan gerakan literasi di Jepara agar berkelanjutan dan berdampak,” sambungnya.
Saat ini, tercatat sekitar 50 komunitas literasi tersebar di seluruh Kabupaten Jepara.
Jumlahnya terus bertambah. Tahun ini FTBM melakukan diseminasi, inventarisasi. Agar gerakan semakin luas dan terkoordinasi.
Mobil tersebut tak sekadar alat transportasi. Ia akan menjadi “mobil literasi” yang ramah anak. Berisi buku, permainan tradisional, hingga layanan konsultasi anak.
Selaras dengan gerakan literasi nasional, kendaraan itu diharapkan dapat menyasar desa-desa, ruang publik, dan kantong-kantong komunitas.
Di halaman Museum Kartini siang kali ini, semangat literasi terasa hidup.
Dari pendopo yang berubah menjadi museum, kini lahir harapan baru, bahwa Jepara tak hanya dikenal sebagai kota ukir, tetapi juga kota literasi. Sebuah warisan pemikiran Kartini yang terus bergerak, melintasi zaman.
“Literasi itu skill dasar setiap manusia. Bukan hanya membaca huruf, tapi membaca fenomena zaman. Kita butuh literasi yang mendalam,” pungkasnya.(fik)
Editor : Ali Mustofa