Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Gerakan Jateng Asri Bersih Sampah dan Penanaman Pohon di Bandengan, Bupati Jepara Fokus Benahi Sampah dari Hulu ke Hilir

Fikri Thoharudin • Selasa, 24 Februari 2026 | 12:03 WIB

HIJAUKAN: Bupati Jepara Witiarso Utomo menanam pohon cemara laut di Pantai Bandengan pada Selasa (24/2) pagi.
HIJAUKAN: Bupati Jepara Witiarso Utomo menanam pohon cemara laut di Pantai Bandengan pada Selasa (24/2) pagi.

JEPARA — Semilir angin berembus di pesisir Pantai Bandengan pada Selasa (24/2) pagi.

Ratusan orang berkumpul. Baik dari jajaran Pemerintah Daerah (Pemda) Jepara hingga penggiat lingkungan.

Bupati Jepara beserta jajaran menggelar Gerakan Jawa Tengah Asri, dengan melakukan penanaman pohon serta bersih-bersih sampah.

Agenda tersebut dilakukan dalam rangka peringatan Hari Peduli Sampah Nasional.

Bupati Jepara Witiarso Utomo, menegaskan bahwa penanganan persoalan sampah di Jepara, akan difokuskan dari hulu hingga hilir.

“Kami akan urus dari hulunya. Kami sudah rapat untuk mitigasi sumber-sumbernya. Ada delapan kecamatan terbesar pengumbang, terutama di bagian selatan yang hampir merata,” ujarnya usai penanaman dan bersih pantai.

Menurutnya, langkah penyelesaian dilakukan setelah identifikasi sumber sampah dilakukan secara menyeluruh. 

Setelah itu, pemerintah daerah akan menentukan kebijakan yang tepat. Termasuk mendorong berbagai skema pengolahan. 

Di samping secara teknis penerimaan bantuan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Refuse Derived Fuel (RDF), melalui Tempat Pengelolaan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R), hingga menggandeng investor.

“Pengajuan RDF sedang berproses dan kami harapkan akhir tahun ini bisa mulai terealisasi. Ada juga usulan pembentukan bank sampah di tingkat RW. Selain penanganan teknis, kami berharap ada peningkatan kesadaran masyarakat,” katanya.

Mas Wiwit menyebut, persoalan sampah juga menjadi prioritas nasional. 

Di Kecamatan Kalinyamatan sendiri, pasokan sampah mencapai lebih dari 500 ton perbulan. Jika tidak diolah, sampah akan menjadi bom waktu. 

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jepara, Rini Patmini, menyebut TPA Bandengan, diperkirakan hanya mampu bertahan dua tahun lagi. Kondisinya sudah overload.

“Kampanye memilah dan memilih sampah dari rumah perlu digencarkan. Kami juga akan buat program yang memiliki nilai ekonomi agar masyarakat terdorong terlibat,” tambahnya.

Ia juga menyoroti persoalan sampah kiriman di kawasan pantai yang kerap meningkat saat musim angin baratan.

Ia menjelaskan bahwa selain aksi bersih sampah, pihaknya juga melakukan penanaman pohon cemara laut dan ketapang di sejumlah titik pesisir, termasuk objek wisata di Pantai Bandengan ini dan Benteng Portugis. 

Tahun ini, DLH menargetkan penanaman 70–80 ribu bibit pohon untuk konservasi dan mengurangi abrasi, meningkat dari sekitar 35 ribu bibit pada tahun sebelumnya.

“Kami juga melakukan intervensi penanaman mangrove. Upaya konservasi ini penting untuk menekan abrasi, karena kalau penanganan teknis biayanya sangat besar,” ujarnya.

Rini menyebut TPA Jepara saat ini menerima sekitar 150 ton sampah per hari dengan sistem sanitary landfill

Untuk menekan laju beban TPA yang diperkirakan overload dalam dua tahun ke depan, DLH mengoptimalkan TPS3R dan mendorong pengaktifan kembali bank sampah.

PEDULI: Proses pengumpulan sampah di Pantai Bandengan Jepara.
PEDULI: Proses pengumpulan sampah di Pantai Bandengan Jepara.

Pihaknya menyebut, terdapat sedikit perubahan dalam Detail Engineering Design (DED) dalam usulan RDF. 

“RDF bisa mengintervensi sekitar 40 ton per hari. Sisanya sekitar 110 ton harus ditekan melalui bank sampah dan pengurangan dari sumbernya,” jelasnya.

Selain RDF, opsi pengolahan sampah menjadi energi listrik (PLTSa) juga terbuka apabila ada investor yang masuk. 

Rencana pembangunan TPST RDF akan menyasar setidaknya tiga kawasan, yakni Desa Sengonbudel Kecamatan Mayong, Desa Bandengan Kecamatan Jepara, dan Desa Krasak Kecamatan angsri.

DLH juga mendorong gerakan “Desa Mandiri Sampah”. Saat ini ada 55 desa dari total 194 desa dan kelurahan di Jepara yang sudah diinisiasi. 

Berdasarkan identifikasi sumber sampah, Kecamatan Kalinyamatan menyumbang sampah terbesar. Hingga 535 ton perbulan.

Kemudian Kecamatan Jepara 130 ton perbulan, Welahan 115 ton, Mayong 98 ton, 87 ton, Pecangaan 86 ton.

Ke depan, pemerintah desa diharapkan lebih aktif dalam pengelolaan sampah, termasuk melalui program sedekah sampah, biopori, ataupun penguatan bank sampah.

“Kalau di hilir ada TPST RDF, di tengah ada TPS3R dan bank sampah, dan di hulu ada kesadaran masyarakat, maka persoalan sampah bisa kita selesaikan bersama,” pungkasnya.(fik)

Editor : Ali Mustofa
#jepara #TPA #sampah