JEPARA — Jamu gingseng oplosan, diduga kuat menjadi penyebab kematian lima warga di Jepara.
Banyu langit yang membuat peminumnya melayang-layang itu, disebut-sebut menjadi jalaran terenggutnya sejumlah pria dewasa di Kecamatan Pakis Aji tersebut.
Isak tangis terdengar lamat-lamat, dari sebuah rumah di RT 3/RW 3 Desa Suwawal Timur, Kecamatan Pakis Aji, Selasa (10/2) siang.
Rumah tersebut kini dipasangi garis polisi. Menyusul tragedi kematian lima orang yang diduga kuat berkaitan dengan konsumsi jamu gingseng oplosan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Radar Kudus, hingga Selasa sore tercatat lima orang meninggal dunia, sementara tiga lainnya masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit dengan kondisi kritis.
Seluruh korban diduga mengonsumsi jamu gingseng yang dijual di sebuah tempat usaha milik pria berinisial R, warga setempat.
Peristiwa ini terungkap setelah adanya laporan kematian beruntun dari sejumlah desa. Para korban berasal dari Desa Suwawal Timur, Desa Suwawal, dan Desa Bulungan.
Rangkaian kejadian diduga bermula pada Sabtu (7/2) malam, setelah para korban mengonsumsi jamu gingseng yang diperjualbelikan di lokasi tersebut.
Mereka datang untuk membeli kesenangan, berupa minuman penyegar badan.
Korban pertama diketahui bernama Nur Amin, warga RT 1/RW 4 Desa Suwawal Timur, yang meninggal dunia pada Senin (9/2) sekitar pukul 08.00.
Beberapa jam berselang, Sholeh, warga yang rumahnya hanya berjarak sekitar 50 meter dari rumah R, meninggal pada pukul 13.00.
Korban ketiga, Dul Hadi, warga Desa Bulungan, dilaporkan meninggal dunia pada Senin (9/2) sekitar pukul 18.00.
Sementara itu, dua korban lainnya, Kupat dan Ary, warga Desa Suwawal, meninggal dunia pada Selasa (10/2) pagi. Korban ini selesai disemayamkan sekitar pukul 13.00.
Sebagian korban meninggal di rumah, sementara lainnya sempat mendapatkan perawatan medis di rumah sakit.
Selain korban meninggal, tiga orang lainnya yakni Eko (warga Desa Slagi), Miun (warga Suwawal), dan Ely (warga Suwawal Timur) masih dirawat intensif.
Informasi sementara diketahui, jamu gingseng tersebut disetorkan kepada R pada Sabtu (7/2) sore. Sudah diracik. Dalam bentuk satu galon dari Desa Bulungan. Siap minum.
Jamu sempat dicicipi oleh Eko yang merupakan pelayan di tempat usaha tersebut.
Eko mengaku mencium aroma yang tidak lazim dari jamu tersebut. Wangi.
Bahkan wanginya disebut berbeda dari biasanya dan menyerupai bau sabun.
Meski demikian, karena tidak menimbulkan reaksi awal saat dicicipi, jamu tersebut tetap dijual kepada pelanggan. Atas sepengatahuan pemilik usaha minuman tersebut, R.
Seluruh korban diketahui merupakan orang dewasa dengan rentang usia sekitar 30 hingga 40 tahun, dengan latar belakang profesi beragam, mulai dari pekerja pasar hingga tukang kayu.
Aparat kepolisian telah membawa R ke Polres Jepara untuk dimintai keterangan. Tim Inafis dan Resmob Polres Jepara juga melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) pada Selasa (10/2) sekitar pukul 11.00.
Kapolres Jepara melalui Kasi Humas AKP Dwi Prayitna menyampaikan, pihaknya telah mengamankan sejumlah barang bukti dan masih mendalami penyebab pasti kematian para korban.
“Hari ini Satreskrim Polres Jepara melakukan olah TKP dan penyelidikan kasus kematian di wilayah Kecamatan Pakis Aji. Sejumlah barang bukti telah kami amankan,” ujarnya.
Polisi menegaskan, hingga saat ini penyebab kematian masih dalam tahap penyelidikan, termasuk menelusuri asal-usul jamu gingseng yang diduga menjadi pemicu tragedi tersebut. Pemanggilan saksi-saksi juga akan dilakukan dalam waktu dekat.
Diketahui, usaha jamu gingseng tersebut telah berjalan lebih dari 10 tahun.
Selain itu juga terdapat aktivitas karaoke di lokasi itu, yang baru beroperasi sekitar tiga tahun terakhir.
Bangunan usaha berada di bagian belakang rumah R, terdiri dari area warung dan ruang karaoke dengan bangunan permanen.
Selain menjual jamu, tempat tersebut juga menyediakan minuman beralkohol dan layanan karaoke. Harga jamu dibanderol Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu per gelas, atau sekitar Rp 40 ribu untuk kemasan botol 1,5 liter.
Di lokasi kejadian, masih terdapat tumpukan botol minuman keras berbagai merek. Area usaha kini tampak sepi.
Warga setempat menilai keberadaan usaha tersebut sejak lama meresahkan, lantaran beroperasi selama 24 jam dan kerap menimbulkan kebisingan.
Bahkan, dalam setahun terakhir, disebut pernah terjadi insiden lain setelah seseorang mengonsumsi minuman di lokasi tersebut. Berkendara dalam keadaan mabuk, hingga mengalami kecelakaan fatal. Tewas.
Penyelidikan kasus ini masih terus berlangsung hingga penyebab pasti kematian lima korban dapat dipastikan. (fik)
Editor : Mahendra Aditya