JEPARA — Grebeg Kutho Bedah, menjadi tema besar, yang diusung dalam rangkaian Pekan Budaya Kriyan dan Baratan 2026. Dihelat pada Minggu (8/2) malam.
Bukan tanpa alasan tajuk tersebut diangkat. Melainkan untuk mereguk makna lama dengan semangat baru.
Bahwa sosok yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 20 November 2023 tersebut, terlampau patut untuk diteladani. Tidak hanya oleh warga Jepara, tapi anak semua bangsa.
HJ. De Graaf dalam buku Awal kebangkitan Mataram, menuliskan bahwa Ratu Jepara sesungguhnya merupakan satu-satunya tokoh Jawa dari abad ke-16, yang melalui berita-berita Portugis, memiliki pelabuhan besar kerajaan.
Dinukilkan bahwa Jepara, orang Jawa menamakannya menurut istananya, Kalinyamat. Terletak di sebelah utara Sungai Jepara, kotanya terletak di sebelah selatan.
Sebagaimana keterangan orang Portugis, Diego de Couto, disebutkan "Cuja cidade principal se chama Gerinhama" yang berarti "Ibukotanya bernama Kalinyamat".
Di samping itu, De Couto menyebut, "Rainha de Japara, senhora poderosa e rica" yang artinya "Ratu Jepara, seorang wanita yang kaya dan berkuasa."
Dalam Baratan yang berlangsung di Desa Kriyan ini, amat jelas jika sosok Ratu Kalinyamat sosok ratu yang tegas dan berani.
Tindakan Sang Ratu yang jamak diketahui ialah upaya penyerangan terhadap Malaka pada 1550 dan 1574.
Dalam serangan pertamanya, bersamaan dengan Raja Johor, Ratu mengirim armada yang kuat. Meliputi 200 kapal persekutuan Muslim, 40 buah datang dari Jepara membawa 4000-5000 prajurit bersenjata.
Ekspedisi kedua, diajak oleh pembesar Aceh, tepatnya Oktober 1574, 300 kapal layar, 80 di antaranya berukuran besar, masing-masing berbobot 400 ton. Awak kapal terdiri dari 15.000 orang Jawa pilihan. Lengkap dengan perbekalan, logistik, meriam hingga mesiu.
Dalam rangkaian Pekan Budaya Desa Kriyan ini, tradisi Baratan menjadi momen untuk menghidupkan kembali sosok Ratu Kalinyamat di abad ke-21.
Lewat narasi-narasi historis, dan pemeranan lakon Ratu Kalinyamat, hingga prosesi Grebeg Kutho Bedah sengaja dihadirkan. Agar menjadi ingatan kolektif masyarakat.
Kirab Kutho Bedah sebagai bahasa yang mudah dicerna. Wilayah Kriyan yang diyakini sebagai tempat kedudukan atau permukiman orang-orang terpelajar, bangsawan, atau pejabat kerajaan pada masa itu. Nama Kriyan, dipercaya disadur dari bahasa Sansekerta, Rakriyan.
Ribuan warga mulai berkumpul pada pukul 19.00. Masyarakat menyaksikan dari pelataran Masjid Al-Makmur hingga lantai dua masjid.
Pukul 20.00 prajurit pengiring Sang Ratu mulai datang, berbaris. Hingga prosesi penyerahan tongkat dan keris.
Pada saat yang sama, para pengunjung juga dibuat terpukau dengan prosesi tarian penyambut, atas Sang Ratu.
Kemudian, kirab berangkat dari depan masjid pukul 21.00. Menyisir permukiman, menyapa masyarakat yang tak ingin terlewatkan oleh tradisi tahunan tersebut. Tua, muda hingga anak-anak tampak sumringah. Mengambil potret lakon Ratu Kalinyamat yang diperankan di era modern tersebut.
Kirab menempuh jarak sekitar 4,3 kilometer, sampai di pelataran Masjid Al-Makmur kembali pada pukul 22.30. Sejurus kemudian, para pengunjung berebut gunungan hasil bumi dan dilakukan pembagian puli termasuk tirta kahuripan. Masyarakat turut mengharap, kecipratan berkah.
Gus Mad selaku pengasuh Pondok Pesantren Nailun Najah di Kriyan, Kalinyamatan, Jepara, yang juga aktif mengembangkan Komunitas Tari Sufi (Darwis Nusantara) menyebut, prosesi Baratan 2026 berbeda dari tahun sebelumnya.
Tahun ini, dalam prosesinya ditampilkan Keris Wulan Tumanggal, maupun Tongkat Kiai Cokro yang menjadi pusaka era Kasultanan Demak-Kalinyamat Islam Awal (dengan corak bulan sabit).
Gus Mad menjelaskan, maksud diadakannya tradisi Baratan. "Baratan, tradisi pada bulan Sya'ban sebagai pengingat, sebentar lagi memasuki bulan Ramadan. Alhamdulillah, setelah Covid, setiap tahun konsisten diadakan, setelah tanggal 15," ungkapnya di sela-sela acara.
Anak muda, mendominasi dalam kepesertaan Baratan. "Targetnya, untuk mengenalkan kepada generasi muda. Biar mereka tidak kepaten obor. Harapannya di samping Baratan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dapat terus dilestarikan, istiqamah dan banyak yang mendukung," jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, serangkaian acara Baratan dimulai pada tanggal 15 Sya'ban. Dengan baca Yasin 3x, tahlil dan doa. "Mendoakan arwah yang sudah kami daftar, terus ada UMKM, ada Ngaji Budaya pada Sabtu (7/2), Baratan pada Minggu (8/2). Jumat (13/2) juga akan ada tari sufi kolosal," tandasnya.
Ke depan juga akan diadakan pameran peninggalan-peninggalan Ratu Kalinyamat, dalam prosesi penyelenggaraan Baratan.
Sementara itu, Penggiat Seni dan Budaya setempat M. Hisyam Maliki, menjelaskan bahwa maksud Kutho Bedah bukan serta merta menjadi narasi historis. Melainkan sebagai sebuah ekspresi kebudayaan yang baru.
"Kami sebagai panitia memiliki POV yang berbeda, Kutho Bedah ini kami jadikan sebagai ledakan. Memang sejarahnya ledakan yang dahsyat, dengan efek yang besar, tapi kali ini ialah ledakan kreativitas," pungkasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya