Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Libatkan Ratusan Pemuda, Baratan Jepara Jadi Media Edukasi Sejarah Ratu Kalinyamat

M. Khoirul Anwar • Senin, 2 Februari 2026 | 14:36 WIB

MERINDING: Sendratari Ratu Kalinyamat tampil memukau pada Baratan 2026.
MERINDING: Sendratari Ratu Kalinyamat tampil memukau pada Baratan 2026.


JEPARA — Pelibatan generasi muda menjadi ciri kuat dalam penyelenggaraan tradisi Baratan di Desa Bandungrejo, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, Minggu (1/2/2026) malam.

Melalui pementasan sendratari kolosal bertajuk “Sang Teladan Ratu Kalinyamat”, ratusan pelajar dan mahasiswa dilibatkan untuk menghidupkan kembali kisah kepemimpinan perempuan Jepara pada abad ke-16.

Sekitar 115 penari dari jenjang SMA hingga perguruan tinggi tampil memerankan perjalanan Ratu Kalinyamat dalam menghadapi kolonialisme Portugis, termasuk membangun aliansi dengan Kesultanan Johor dan Aceh untuk membebaskan Malaka.

Ketua Panitia Baratan Bandungrejo, Asy’ari Muhammad, mengatakan keterlibatan anak muda merupakan strategi menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah dan kebudayaan lokal.

“Anak-anak muda kami ajak terlibat langsung agar mereka tidak hanya menonton, tetapi memahami nilai sejarah dan perjuangan Ratu Kalinyamat,” ujarnya.

Baratan sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada 2025. Tradisi ini rutin digelar dalam rangka menyambut Nisfu Sya’ban dan Ramadan.

Pada pelaksanaannya tahun ini, ribuan warga memadati kompleks Masjid Baitul Izzah Kauman hingga Lapangan Bandungrejo. Meski hujan sempat turun, antusiasme masyarakat tetap tinggi.

Berbagai tarian bernuansa sejarah disuguhkan dengan iringan gamelan. Teatrikal perjuangan Ratu Kalinyamat menggambarkan visi maritim, solidaritas Islam, serta kepentingan ekonomi dalam melawan dominasi Portugis.

Atas kiprahnya, Ratu Kalinyamat mendapat julukan dari Portugis sebagai “Rainha de Japara, Senhora Poderosa e Rica” dan “de Kranige Dame”, yang berarti perempuan Jepara yang kaya, berkuasa, dan gagah berani.

Selain pementasan utama, Baratan Bandungrejo juga dikemas dalam rangkaian kegiatan sejak Sabtu (31/1), seperti lomba merangkai tumpeng puli, lomba kreasi impes, festival UMKM, serta perlombaan tradisional tongtek.

Puli, impes, dan empluk ditampilkan sebagai identitas khas Baratan. Secara filosofis, puli berasal dari istilah Arab “Afuwwun Li” yang berarti permohonan maaf, sebagai simbol penyucian diri menjelang Ramadan.

“Imp es yang menerangi rumah dan jalanan menjadi simbol cahaya batin dan pembersihan hati,” jelas Asy’ari.

Kesuksesan Baratan tahun ini turut didukung Sanggar Kreatif Kalinyamat, Teater Among Jiwo, penulis naskah Nur Huda Tauchid, tim artistik Syafik Setiawan dan Roy, koreografer Maul, Pemkab Jepara, serta berbagai komunitas budaya.

Pihaknya berharap Baratan terus dilestarikan sebagai ruang pembelajaran sejarah sekaligus kebanggaan masyarakat Jepara.

“Budaya adalah kekuatan daerah. Melalui Baratan, kami ingin ikut memajukan Jepara,” pungkasnya. (fik/war)

 

Editor : Ali Mustofa
#kalinyamatan #Kalinyamat #jepara #ratu #berita jepara hari ini #wbtb #baratan #pahlawan nasional #berita jepara