Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Sendratari Ratu Kalinyamat Bius Ribuan Masyarakat

Fikri Thoharudin • Senin, 2 Februari 2026 | 11:39 WIB
MAGIS: Sendratari yang mengisahkan riwayat Ratu Kalinyamat serta pasukannya dalam adegan melawan Portugis.
MAGIS: Sendratari yang mengisahkan riwayat Ratu Kalinyamat serta pasukannya dalam adegan melawan Portugis.

JEPARA — Ribuan warga tumplek blek, di kompleks Masjid Baitul Izzah Kauman, serta sepanjang jalan menuju Lapangan Bandungrejo, Kecamatan Kalinyamatan.

Tua, muda hingga anak-anak tak ingin melewatkan gelaran budaya, tradisi Baratan tersebut. Pada tahun ini dihelat pada Minggu (1/2) malam.

Hujan turun. Namun hal itu tak cukup untuk menyurutkan gairah masyarakat untuk menyaksikan arak-arakan lakon Ratu Kalinyamat hingga sendratari oleh ratusan penari kolosal.

Suasana sarat akan pembelajaran sejarah. Diiringi suara gamelan yang mengalun merdu, berbagai tari-tarian membius para pengunjung. 

Terlebih saat dipertunjukkan tari dan teatrikal yang dibalut dengan narasi sejarah.

Mengenai sosok pemimpin pada abad ke-16 yang berani menyangsikan Portugis.

Dengan menjalin Aliansi seperti dengan Kesultanan Johor maupun Aceh untuk membebaskan Malaka.

Visi maritim, solidaritas Islam, dan kepentingan ekonomi menjasi simpul persatuan yang erat. Portugis dianggap menghambat perdagangan rempah-rempah Jepara dan mengancam kedaulatan Nusantara.

Sehingga dikirimkanlah ribuan pasukan dan kapal-kapal untuk menyerang Portugis.

Atas usaha tersebut, Sang Ratu dijuluki oleh Portugis dengan "Rainha de Japara, Senhora Poderosa e Rica" serta "de Kranige Dame."

Artinya, "Ratu Jepara, perempuan yang kaya dan berkuasa, perempuan yang gagah berani."

Baratan, telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada 2025 lalu.

Dalam praktiknya menjadi satu momentum untuk memproduksi dan mendiseminasikan pengetahuan dan sejarah.

Ketua Panitia Baratan Bandungrejo, Asy’ari Muhammad, yang juga Sutradara Sendratari Kolosal, menjelaskan penyelenggaraan Baratan berada dalam satu spirit perayaan Nisfu Sya’ban dan menyambut Ramadan. 

Asy'ari menyebut, dalam penyelenggaraannya Baratan tahun ini sudah menapaki seperempat abad. 

Tepatnya sejak tahun 2004, tradisi ini mulai dikenal luas melalui arak-arakan lampion atau impes terpanjang. Kemudian pada 2005 mulai dimunculkan adegan, lakon Ratu Kalinyamat dalam rangkaian acara. 

Disebutkan, jalannya pementasan Sendratari Kolosal “Sang Teladan Ratu Kalinyamat”, yang melibatkan sekitar 115 penari dari jenjang SMA sederajat hingga mahasiswa, memang dikonsep sebagai gong acara.

Pelibatan anak muda menjadi bagian taktis, mengajak untuk menjaga ingatan kolektif.

Mengenai sejarah dan kebudayaan di Jepara, khususnya terkait kiprah Ratu Kalinyamat.

Sebelum puncak acara tersebut, selain pementasan tarian kolosal, Baratan Bandungrejo juga dikemas dalam rangkaian kegiatan sejak Sabtu (31/1). Dengan 

Seperti festival dan lomba merangkai tumpeng puli yang diikuti ibu-ibu PKK dan organisasi masyarakat se-Kalinyamatan.

Lomba kreasi impes (kembung kempes) yang diikuti pelajar SD, festival UMKM, hingga berbagai perlombaan tradisional seperti tongtek. 

Lebih lanjut disebutkan, puli, impes, dan empluk ditonjolkan sebagai identitas khas Baratan.

Dijelaskan secara filosofis, puli diserap dari bahasa Arab, "Afuwwun Li" yang berarti "Maafkanlah aku." Dalam pendekatan sosiologis kemudian dikemas dengan pembuatan dan memakan puli, sebab orang Jawa acapkali tidak bisa fasih berdoa.

Serta, perpaduan dengan simbol-simbol esensi Baratan dalam bentuk tarian kreasi, seperti tari impes, tari empluk, tari obor, dan simbol cahaya dan kebenaran.

"Dalam suasana malam Nisfu Sya’ban serta menyambut Ramadhan yang tak kalah penting ialah, membersihkan hati dan pikiran. Maka rumah-rumah, jalanan, dan lingkungan diterangi impes sebagai simbol terang batin,” terangnya.

Pihaknya berharap agar ke depan Baratan dapat menjadi tradisi yang terus dilestarikan. Khususnya oleh para generasi muda.

Seperti gelaran tahun ini yang sukses atas kerja-kerja kreatif para pemuda di Sanggar Kreatif Kalinyamat, Teater Among Jiwo, Nur Huda Tauchid selaku penulis naskah, tim artistik Syafik Setiawan, Roy, dan koreografer Maul.

Serta Pemkab Jepara, Sahabat Lestari dan Sedulur Nur Hidayat dan pihak-pihak lain yang mendukung.

"Ini menjadi ingatan kolektif, serta kebanggaan atas daerah. Sehingga kami berharap dapat turut berkontribusi, dalam memajukan daerah melalui kebudayaan," pungkasnya.(fik)

Editor : Ali Mustofa
#Ratu Kalinyamat #jepara #masyarakat #anak muda