Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Baratan 2026 Digelar di Dua Lokasi, Tonjolkan Kekhasan Tradisi dan Spirit Budaya Jepara

Fikri Thoharudin • Jumat, 30 Januari 2026 | 19:38 WIB
KHARISMATIK: Prosesi arak-arakan lakon Ratu Kalinyamat di Baratan Desa Kriyan tahun lalu.
KHARISMATIK: Prosesi arak-arakan lakon Ratu Kalinyamat di Baratan Desa Kriyan tahun lalu.

JEPARA — Tradisi Baratan di Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, tahun 2026 digelar di dua lokasi berbeda, yakni Desa Bandungrejo dan Desa Kriyan. 

Meski berada dalam satu spirit perayaan Nisfu Sya’ban dan menyambut Ramadan, masing-masing wilayah menampilkan konsep, bentuk prosesi, serta kekhasan budaya yang berbeda.

Hal ini memperkaya khazanah tradisi Baratan di Jepara.

Apalagi tradisi Baratan telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia, pada tahun 2025 lalu.

Di Desa Bandungrejo, Baratan digelar pada Minggu (1/2) dengan pusat kegiatan di Masjid Baitul Izzah. 

Ketua Panitia Baratan Bandungrejo, Asy’ari Muhammad, yang juga Sutradara Sendratari Kolosal, menjelaskan bahwa kegiatan diawali dengan istighosah, doa bersama, serta pelepasan arak-arakan Ratu Kalinyamat. 

Arak-arakan kemudian bergerak dari Masjid Baitul Izzah Kauman menuju Lapangan Bandungrejo dengan jarak sekitar 600 meter hingga 1 kilometer.

Puncak acara ditandai dengan pementasan Sendratari Kolosal “Sang Teladan Ratu Kalinyamat”, yang melibatkan sekitar 115 penari dari jenjang SMA sederajat hingga mahasiswa. 

KOMPAK: Proses latihan sendratari.
KOMPAK: Proses latihan sendratari.

Pementasan ini mengangkat tema keteladanan Ratu Kalinyamat sebagai figur sentral sejarah Jepara. 

Dipadukan dengan simbol-simbol esensi Baratan dalam bentuk tarian kreasi, seperti tari impes, tari puli, tari empluk, tari obor, dan simbol cahaya lainnya.

“Simbol-simbol yang ada dalam tradisi Baratan kita kreasikan menjadi bentuk tarian. Tahun ini fokus temanya adalah keteladanan Ratu Kalinyamat, baik sebagai pemimpin maupun figur spiritual,” ujar Asy’ari.

Selain pementasan kolosal, Baratan Bandungrejo juga dikemas dalam rangkaian kegiatan sejak 31 Januari 2026. 

Rangkaian tersebut meliputi festival dan lomba merangkai tumpeng puli yang diikuti ibu-ibu PKK dan organisasi masyarakat se-Kalinyamatan, lomba kreasi impes (kembung kempes) yang diikuti pelajar SD, festival UMKM. Hingga berbagai perlombaan kesenian tradisional tongtek. 

Puli, impes, dan empluk ditonjolkan sebagai identitas khas Baratan.

Asy’ari menjelaskan, puli merupakan makanan khas Baratan yang sarat makna.

Secara filosofis, puli dimaknai dari kata af’ulun yang berarti “maafkanlah”, sebagai simbol saling memaafkan menjelang Ramadan. 

Sementara impes (lampion) melambangkan cahaya, kejernihan hati dan pikiran dalam menyambut bulan suci. 

"Malam Nisfu Sya’ban itu secara esensi adalah membersihkan hati dan pikiran. Maka rumah-rumah, jalanan, dan lingkungan diterangi impes sebagai simbol terang batin,” jelasnya.

Secara historis, Baratan di Kalinyamatan telah dikenal sejak lama sebagai tradisi masyarakat dalam memperingati malam Nisfu Sya’ban. 

Pada tahun 2004, tradisi ini mulai dikenal luas melalui arak-arakan lampion atau impes terpanjang, dan pada 2005 mulai dimunculkan adegan Ratu Kalinyamat dalam rangkaian acara. 

Filosofi Baratan sendiri berasal dari kata barokatan atau “mengharap berkah”, yang diwujudkan dalam doa, istighosah, yasinan, serta tradisi berbagi makanan setelah ibadah malam Nisfu Sya’ban.

Sementara itu, di Desa Kriyan, Baratan digelar dalam rangkaian Pekan Budaya Kriyan.

Dengan konsep yang lebih kental pada aspek sejarah, literasi, dan diskursus budaya. 

Steering Committee sekaligus anggota Lembaga Adat Desa Kriyan, M. Hisyam Maliki, menjelaskan bahwa Baratan di Kriyan diadakan dengan balutan relasi sosio-kultural dalam setiap tahunnya.

Awalnya dalam bentuk tradisi anak-anak berkeliling desa membawa impes sambil menyanyikan tembang tradisional.

Rangkaian kegiatan Baratan Kriyan 2026 dimulai pada Senin (2/2) dengan pengambilan air Tirta Kahuripan dan tirakatan Nisfu Sya’ban.

Dilanjutkan selamatan di Masjid Al-Ma’mur Kriyan pada Kamis (5/2), Sedekah Bumi dan Ngaji Budaya pada Sabtu (7/2), Grebeg Kutho Bedah dan Baratan kirab gunungan pada Minggu (8/2), serta pementasan Tari Sufi Kolosal pada Jumat (13/2). 

Kegiatan ini juga disertai bazar UMKM yang ditata secara tematik dengan konsep “UMKM Preman”.

“Tahun ini tema yang diangkat adalah Grebeg Kutho Bedah. Grebeg berarti ramai, sementara Kutho Bedah merujuk pada fragmen sejarah tentang jatuhnya benteng atau kota Jepara. Namun kami juga memaknainya sebagai ledakan kreativitas dan potensi Desa Kriyan,” jelas Hisyam.

Menurutnya, Baratan di Kriyan tidak hanya dimaknai sebagai tradisi religius menyambut Ramadan, tetapi juga sebagai ruang literasi sejarah dan budaya. 

Hal ini diwujudkan melalui konsep Ngaji Budaya, yakni forum dialog interaktif yang menghadirkan pegiat budaya, peneliti, pelajar, dan masyarakat. Sebagai momentum mendiskusikan sejarah Kerajaan Jepara, Ratu Kalinyamat, serta fragmen-fragmen sejarah lokal yang masih tersisa.

Prosesi Baratan di Kriyan selalu diawali dengan pengambilan Tirta Kahuripan, pembacaan amalan dan doa Nisfu Sya’ban, selametan, sedekah bumi, ngaji budaya, hingga kirab Baratan dengan gunungan dan Tirta Kahuripan. 

Seluruh rangkaian ini melibatkan hampir seluruh lapisan masyarakat Desa Kriyan, termasuk generasi muda, pelajar, relawan, dan komunitas kreatif dari berbagai latar belakang.

Terkait pelaksanaan Baratan di dua desa sekaligus, Hisyam menilai fenomena ini sebagai hal yang perlu disikapi secara bijak. 

BERDAULAT: Lakon Ratu Kalinyamat tengah memetik gunungan hasil bumi.
BERDAULAT: Lakon Ratu Kalinyamat tengah memetik gunungan hasil bumi.

Ia berharap ke depan tradisi Baratan dapat dikelola dalam satu momentum bersama agar memiliki kesinambungan pariwisata dan stabilitas penyelenggaraan.

Mengingat pada 2025 Baratan Desa Kriyan telah masuk dalam Kalender Event Tahunan Kabupaten Jepara.

“Baratan ini milik masyarakat luas. Tapi demi keberlanjutan budaya dan pariwisata, sebaiknya ke depan dijadikan satu momentum besar yang terintegrasi,” ujarnya.

Baik Baratan Bandungrejo maupun Kriyan, keduanya menunjukkan bahwa tradisi ini tidak hanya hidup sebagai ritual keagamaan.

Tetapi juga berkembang sebagai ekspresi budaya, seni, sejarah, dan identitas lokal. 

Baratan menjadi jembatan spiritual dalam menyambut Ramadan sekaligus ruang kolektif masyarakat Jepara.

Sebagai upaya merawat memori sejarah Ratu Kalinyamat dan warisan budaya Kalinyamatan secara berkelanjuDipersiapk

 

Editor : Mahendra Aditya
#Menyambut Ramadan #kalinyamatan #jepara #tradisi baratan