Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

TMC Diperpanjang hingga Akhir Bulan, Dua Pesawat, Kombinasi NaCl–CaO Diterapkan Hadapi Puncak Musim Hujan

Fikri Thoharudin • Rabu, 28 Januari 2026 | 14:48 WIB
INTERVENSI: Petugas hendak melakukan OMC pada Rabu (28/1) siang.
INTERVENSI: Petugas hendak melakukan OMC pada Rabu (28/1) siang.

JEPARA — Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Jawa Tengah diperpanjang. Hasil operasi terus dievaluasi secara berkala. Usai dilakukan Kamis-Senin (15-19/1) untuk meredistribusi hujan kawasan Muria Raya.

Kini, operasi akan dilakukan hingga akhir bulan. Tak hanya di Kawasan Muria, tapi meluas. Menyusul masih tingginya potensi cuaca ekstrem di sejumlah daerah rawan bencana, seperti di Pemalang ataupun Pekalongan.

Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas II Ahmad Yani Semarang, Giyarto, menjelaskan evaluasi lintas instansi menunjukkan, meski OMC mampu mereduksi intensitas hujan.

Namun suplai massa awan pada puncak musim hujan masih sangat besar. Sehingga intervensi perlu dilanjutkan dan diperkuat secara teknis.

Operasi yang semula diadakan kembali dan direncanakan hingga Kamis (29/1), kini berpotensi ditambah dua hari hingga akhir bulan.

Keputusan ini diambil setelah analisis dinamika atmosfer menunjukkan pertumbuhan awan konvektif masih aktif. Khususnya di wilayah Pantura dan Jawa Tengah bagian barat.

“Secara evaluasi, OMC efektif mengurangi atau mereduksi cuaca ekstrem. Namun saat ini kita berada di pucuk musim hujan, sehingga suplai massa awan sangat melimpah,” jelasnya pada Rabu (28/1).

Dalam operasi kali ini, dari yang semula satu unit pesawat kini dua pesawat disiagakan untuk penyemaian awan.

Yakni PK-SNM dan PK-SNP, dengan intensitas penerbangan mencapai 4–5 kali sortie per hari. Tergantung pada kondisi awan sasaran. 

Pada hari sebelumnya, sejumlah penerbangan sempat terkendala karena kondisi atmosfer yang buruk. Keselamatan petugas menjadi yang utama.

Sehingga pesawat tidak diterbangkan dan menembus ketinggian ideal 10.000–12.000 kaki. Yang merupakan lapisan efektif untuk penaburan bahan semai.

Dari sisi teknis, strategi OMC tidak hanya mengandalkan Natrium Klorida (NaCl), tetapi juga dikombinasikan dengan Kalsium Oksida (CaO). 

"Setiap penerbangan membawa rata-rata 1.000 kilogram bahan semai," ujarnya.

Kedua material ini memiliki fungsi serupa sebagai pemicu percepatan proses mikrofisika awan. Namun bekerja dengan karakteristik yang saling melengkapi.

Disebutkan, NaCl berfungsi sebagai inti kondensasi higroskopis yang mempercepat penggabungan butir-butir air di dalam awan.

Sehingga hujan dipicu lebih cepat dan jatuh di area yang telah ditentukan, umumnya di laut atau wilayah minim risiko. 

Sementara itu, CaO digunakan pada kondisi awan dengan kandungan uap air tinggi. Ditebar untuk mempercepat proses peluruhan awan agar tidak berkembang lebih besar saat bergerak ke daerah rawan bencana.

Ditegaskan, tujuan utamanya bukan menghilangkan hujan, tetapi mengendalikan waktu dan lokasi jatuhnya hujan. 

"Dengan NaCl ataupun CaO, awan dipaksa menumpahkan muatannya sebelum masuk ke wilayah rawan bencana, meredistribusi hujan,” terangnya.

Disampaikan, analisis pergerakan awan menunjukkan dominasi aliran dari barat dan barat laut menuju timur–tenggara. Dengan kecepatan 10–15 knot atau sekitar 18–28 kilometer per jam. 

Pola ini membuat wilayah Jepara, Pati, Kudus, Pekalongan, Pemalang, hingga Bumiayu menjadi atensi utama dalam beberapa hari terakhir. Pada fase awal, penyemaian difokuskan pada sektor timur, tengah, dan barat Jawa Tengah. 

Namun dalam perkembangan terbaru, konsentrasi operasi diarahkan ke Pantura barat dan Jawa Tengah bagian barat, meliputi Purbalingga, Brebes, Tegal, Pemalang hingga Pekalongan.

“Saat ini fokus penyemaian berada di atas perairan dan wilayah sekitar Pemalang. Agar awan-awan hujan tidak bergerak masuk ke wilayah tengah dan timur Jawa Tengah,” tambahnya.

Sementara itu, Kalakhar BPBD Jawa Tengah, Bergas C. Penanggungan, menegaskan bahwa pelaksanaan TMC sepenuhnya berbasis pemetaan dan analisis langsung BMKG, bukan sekadar jadwal tetap. 

Keputusan melakukan penyemaian sangat bergantung pada dinamika pertumbuhan awan, serta luasan wilayah terdampak.

“Luasan wilayah Jawa Tengah sangat besar, tidak mungkin diselesaikan dengan pendekatan seragam. Setiap hari kami melihat pertumbuhan awan, lalu menentukan kebutuhan pesawat dan intensitas penyemaian. Ini bersifat direct dan berbasis kawasan,” sambungnya.

Menurutnya, daerah seperti Purbalingga, Pemalang kini relatif landai.

Termasuk Tegal. Hingga kawasan Muria masih mengalami hujan dalam beberapa hari terakhir, meskipun tidak seintens sebelumnya. 

Kondisi ini menunjukkan OMC bekerja menekan eskalasi bencana, meski belum sepenuhnya menghentikan hujan karena faktor musim yang sedang berada di puncaknya.

Selama puncak musim hujan belum terlewati, TMC tetap menjadi instrumen penting. 

Bukan sebagai solusi tunggal, tetapi sebagai alat pengendali risiko. Agar hujan tidak turun bersamaan dan berintensitas ekstrem di wilayah rawan.

"Saat ini sedang memasuki puncak musim hujan. Masyarakat juga harap waspada," pungkasnya.(fik)

Editor : Ali Mustofa
#Redistribusi #hujan #jepara #awan #OMC #cuaca ekstrem #bnpb #bmkg #BPBD