JEPARA — Akses menuju Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, akhirnya kembali terbuka setelah sempat terisolasi akibat longsor sejak Jumat (9/1/2026). Jalur utama kini sudah bisa dilalui kendaraan roda empat, meski masih dalam proses sterilisasi dari sisa material longsoran.
Hingga Minggu (25/1/2026), warga bersama relawan masih melakukan pembersihan di sejumlah titik. Penyisiran dilakukan di bahu jalan dan sekitar aliran sungai, termasuk memecah batu berukuran besar yang terbawa longsor.
Alat berat berupa ekskavator breaker juga telah diterjunkan untuk membantu memecah batuan dengan berat berton-ton agar jalur benar-benar aman dilalui.
Kepala Pelaksana BPBD Jepara Arwin Noor Isdiyanto mengatakan, pembukaan akses merupakan hasil penanganan intensif yang dilakukan bersama berbagai pihak. Namun, ia menegaskan kondisi jalan belum sepenuhnya aman.
“Akses ke Tempur sudah terbuka, mobil sudah bisa masuk. Namun masih ada beberapa titik rawan, terutama di bahu jalan, yang memerlukan penanganan lanjutan,” ujarnya.
Menurut Arwin, longsor tidak hanya menutup badan jalan, tetapi juga melemahkan struktur bahu jalan di sejumlah lokasi. Kondisi ini berpotensi membahayakan pengguna jalan, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi masih terjadi.
BPBD Jepara Siapkan Jalur Alternatif
Sebagai langkah mitigasi bencana, BPBD Jepara juga menyiapkan jalur alternatif untuk mengantisipasi kemungkinan longsor susulan. Jalur tersebut disiapkan agar mobilitas warga tetap terjaga jika akses utama kembali terdampak.
Berdasarkan hasil tinjauan lapangan, jalur alternatif memiliki panjang sekitar 6–7 kilometer dan menyusuri kawasan perbukitan Sumanding–Duplak.
“Jalur alternatif ini bagian dari upaya mitigasi bencana,” jelas Arwin.
Selain penanganan jalan, BPBD juga melakukan upaya pengurangan risiko bencana di sepanjang sempadan sungai. Masyarakat diimbau tetap waspada saat melintasi jalur menuju Tempur serta mematuhi rambu dan arahan relawan di lapangan.
Penanaman Pohon Kurangi Risiko Longsor
Sementara itu, Relawan Bencana Desa Tempur M Amin menyampaikan bahwa warga bersama relawan melakukan penanaman bibit pohon di kawasan rawan longsor sebagai langkah penguatan tanah.
Pada Sabtu (24/1/2026), Bupati Jepara Witiarso Utomo turut menanam pohon konservasi di sempadan sungai dan area perbukitan. Penanaman dilakukan dengan jarak sekitar enam meter antar bibit.
Sedikitnya 100 bibit pohon ditanam sebagai tahap awal untuk memperkuat struktur tanah dan mengurangi potensi longsor ke depan.
“Setelah pemulihan pascabencana, salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah penanaman,” ujarnya. (fik/war)