JEPARA — Banjir yang melanda sejumlah kecamatan di Kabupaten Jepara berdampak serius pada sektor pertanian.
Ribuan hektare lahan sawah terendam, menyebabkan 2.807 hektare tanaman padi dipastikan gagal panen atau puso.
Pemerintah kini mengusulkan bantuan benih untuk mendukung tanam ulang petani terdampak.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Jepara, Mudhofir, mengungkapkan bahwa hingga Senin (19/1), total lahan pertanian yang terdampak banjir mencapai 3.931 hektare.
Lahan tersebut tersebar di sejumlah kecamatan dengan tingkat kerusakan yang bervariasi.
Dari total luasan tersebut, sekitar 2.807 hektare dipastikan mengalami puso.
Mayoritas tanaman padi yang terdampak masih berada pada usia tanam sekitar empat minggu, sehingga tidak mampu berkembang setelah terendam banjir.
“Benih yang sudah ditanam tidak berkembang. Ada sebagian kecil yang sudah mendekati panen, tapi jumlahnya sangat terbatas,” ujar Mudhofir.
Wilayah dengan dampak terparah tercatat berada di Kecamatan Kalinyamatan dengan luas terdampak sekitar 742 hektare.
Disusul Kecamatan Pecangaan sekitar 350 hektare.
Sejumlah desa yang terdampak antara lain Desa Batukali, Sendang, Gerdu, dan Karangrandu.
Sebagai langkah pemulihan pascabanjir, DKPP Jepara telah mengajukan bantuan ke Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Bantuan yang diusulkan berupa sekitar 70 ribu kilogram benih padi untuk mendukung proses tanam ulang setelah genangan air surut.
“Perkiraan kebutuhan benih sekitar 25 kilogram per hektare. Kami ajukan ke provinsi agar setelah air surut, lahan bisa segera ditanami kembali,” pungkasnya. (fik/war)