JEPARA — Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Jepara belum sepenuhnya optimal.
Hingga awal 2026, baru 79 dari total 117 titik SPPG yang beroperasi dan menyalurkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada penerima manfaat.
Koordinator SPPG Kabupaten Jepara, Musthofa Wildan, mengungkapkan bahwa seluruh 117 titik SPPG tersebut sebenarnya telah memiliki kepala satuan.
Namun, belum semuanya bisa langsung berjalan karena masih menghadapi sejumlah kendala teknis dan nonteknis.
“Secara administratif sudah terbentuk. Tapi untuk operasional, tidak semua bisa langsung berjalan karena ada beberapa syarat yang harus dipenuhi,” jelas Wildan.
Menurutnya, sejumlah faktor yang menyebabkan SPPG belum beroperasi antara lain pemenuhan standar laik higienis sanitasi (SLHS), ketersediaan penjamah makanan, kesiapan anggaran operasional, hingga belum adanya mitra pendukung, terutama di wilayah dengan tantangan logistik.
Meski demikian, SPPG yang telah berjalan menunjukkan capaian signifikan. Pada awal 2026, sebanyak 79 SPPG aktif telah melayani sekitar 234.235 penerima manfaat.
Penerima manfaat tersebut tidak hanya berasal dari kalangan pelajar, tetapi juga mencakup kelompok B3, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Selain itu, tenaga kependidikan, seperti guru kelas dan guru mata pelajaran, kini juga masuk dalam sasaran program.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Jepara bersama Badan Gizi Nasional (BGN) menargetkan perluasan layanan.
Jepara diproyeksikan akan memiliki 219 titik SPPG, termasuk beberapa yang dibangun di atas lahan milik pemerintah daerah.
“Targetnya pemerataan layanan gizi bisa tercapai. Tapi tentu perlu penyesuaian kebijakan, terutama untuk wilayah dengan kondisi geografis khusus,” pungkas Wildan. (fik/war)