JEPARA – Di atas sungai yang masih menyisakan bekas luapan banjir, jembatan penghubung Dukuh Pendem, Desa Sumberrejo, Kecamatan Donorojo, Jepara, dengan Dukuh Nglendoh, Desa Wedusan, Kecamatan Dukuhsekti, Pati, kini berdiri dalam kondisi miring dan rapuh.
Warga yang melintas harus ekstra hati-hati, sebagian bahkan merangkak, karena struktur rangka besi dan alas kayu sudah tidak lagi stabil.
Jembatan sepanjang 35 meter tersebut roboh diterjang banjir pada Minggu, 18 Januari 2026, sekitar pukul 12.00 WIB.
Gerusan air sungai yang meluap mengikis pondasi di kedua ujung jembatan yang berada di RT 2 RW 2 Desa Sumberrejo, hingga menyebabkan bangunan penghubung dua desa itu ambruk.
Dampak paling nyata dirasakan di sektor pendidikan. Sedikitnya 30 peserta didik asal Desa Wedusan yang bersekolah di berbagai jenjang madrasah di Yayasan Miftahul Huda Sumberrejo terpaksa tetap melintasi jalur berisiko setiap hari.
Jembatan ini merupakan akses terdekat dan paling vital bagi mereka.
“Sekarang kondisinya miring dan tidak aman. Anak-anak sekolah tetap lewat sini karena tidak ada jalan lain yang dekat. Kami khawatir kalau sewaktu-waktu jembatan ini amblas,” kata Rohmat, warga Desa Sumberrejo.
Sebelum roboh, jembatan tersebut memang sudah sempit, dengan lebar kurang dari satu meter.
Kondisi itu memaksa warga bergantian saat melintas.
Setelah diterjang banjir, tingkat risiko meningkat, tidak hanya bagi pelajar, tetapi juga warga yang beraktivitas ekonomi dan sosial lintas dua desa.
Kerusakan ini memperlihatkan ketergantungan warga pada satu jalur penghubung yang rentan terhadap bencana musiman.
Tanpa penanganan darurat dan perencanaan jembatan permanen yang lebih kuat dan lebar.
Bahkan bisa dilalui kendaraan roda empat. Akses pendidikan, ekonomi, dan layanan warga berpotensi terus terganggu setiap kali hujan deras dan banjir datang kembali.