Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Operasi TMC Muria Raya Berakhir, Intensitas Hujan Jepara–Kudus Terbukti Menurun

Fikri Thoharudin • Selasa, 20 Januari 2026 | 16:25 WIB
TANGGAP: Petugas tengah melakukan pengangkutan NaCl untuk digunakan sebagai bahan modifikasi cuaca dan meredistribusi hujan pada Kamis (15/1).
TANGGAP: Petugas tengah melakukan pengangkutan NaCl untuk digunakan sebagai bahan modifikasi cuaca dan meredistribusi hujan pada Kamis (15/1).

JEPARA — Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di wilayah Muria Raya terbilang sukses. Berhasil menekan intensitas hujan. 

Curah hujan di wilayah Jepara, Kudus, dan sekitarnya dilaporkan mulai melandai. 

Seiring berakhirnya operasi TMC yang digelar pada pertengahan Januari 2026 ini. 

Utamanya sejak Kamis-Senin (15-19/1). Menyusul meluasnya bencana hidrometeorologi di kawasan Muria Raya. 

Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas II Ahmad Yani Semarang, Giyarto, menyampaikan bahwa operasi TMC di Muria Raya telah selesai sesuai target. 

Hasilnya, kondisi atmosfer menunjukkan stabilisasi dan penurunan intensitas hujan. Khususnya di wilayah rawan bencana hidrometeorologi tersebut.

“Alhamdulillah, hasilnya cukup signifikan. Curah hujan berhasil direduksi dan kondisi semakin stabil. Ini memberi ruang bagi masyarakat di daerah bencana untuk bernapas dan pemerintah daerah melakukan aksi tanggap darurat,” ungkapnya pada Selasa (20/1).

Meskipun demikian, BMKG tetap menjadikan wilayah lain di Jawa Tengah, seperti Pekalongan, sebagai atensi. 

"Kami masih melakukan untuk daerah Pekalongan. Hingga tanggal 24 mendatang," sebutnya.

Menurutnya, dinamika atmosfer harian masih memungkinkan terjadinya perubahan cuaca ekstrem. Baik berupa hujan lebat maupun dampak ikutan seperti rob.

Sebelum operasi dilakukan, BMKG terlebih dahulu menyusun analisis perkembangan cuaca tujuh hingga sepuluh hari ke depan.

Kemudian disinkronkan dengan data kebencanaan dari BPBD kabupaten dan provinsi.

“Dari situ dipetakan apakah potensi bencana akan meluas atau tidak. Hasil analisis itu menjadi dasar keputusan BNPB, apakah operasi dilanjutkan atau dihentikan,” ujarnya.

Ia menegaskan, usai berakhirnya operasi TMC untuk Muria Raya, muncul bencana di wilayah Pekalongan tersebut. 

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena cakupan operasi TMC yang luas.

Sementara proses pertumbuhan awan saat ini sangat masif akibat puncak musim hujan.

“Pertumbuhan awan sedang sangat aktif. Januari–Februari memang puncaknya. Diperlukan teknik tersendiri dalam pelaksanaan TMC agar tetap efektif,” katanya.

Selama operasi berlangsung, penyemaian awan dilakukan setiap hari sebanyak enam hingga tujuh sorti.

Tergantung pada kondisi atmosfer harian. Angin dominan masih bertiup dari arah barat dengan kecepatan berkisar 10–20 knot.

Ia juga menyinggung peran dinamika global, termasuk pengaruh siklon di belahan bumi utara yang turut mengurangi energi pertumbuhan awan di wilayah Jawa. 

Namun demikian, potensi pembentukan siklon di belahan bumi selatan tetap diwaspadai. Karena dapat memicu peningkatan cuaca ekstrem.

Sebagai informasi, operasi TMC di Muria Raya sebelumnya dilaksanakan oleh BNPB bekerja sama dengan BMKG, BPBD daerah, serta PT Makson Sukses Pratama. 

Penyemaian awan dilakukan menggunakan pesawat PK-SNP dengan total bahan semai 1.000 kilogram NaCl. Disebar di wilayah perairan utara Semarang-Demak, untuk mengendalikan curah hujan dan mengurangi risiko banjir serta longsor di daerah rawan.

“Pada prinsipnya, TMC bertujuan meredistribusi hujan dan mereduksi intensitasnya di wilayah terdampak bencana. Sejauh ini, hasilnya relatif sesuai rencana dan instruksi BNPB,” pungkasnya.

Sementara itu, pihaknya juga tetap akan melakukan evaluasi lanjutan. "Pasti. Begitupun di Muria Raya. Akan terus dipantau, berdasarkan koordinasi dengan BNPB, BPBD Provinsi maupun Kabupaten," tandasnya.(fik)

 

Editor : Mahendra Aditya
#tmc #cuaca #Muria Raya