JEPARA - Pasang surut banjir masih menghantui ratusan bahkan ribuan warga Kabupaten Jepara. Curah hujan yang masih relatif tinggi membuat was-was.
Utamanya terkait potensi banjir susulan. Karena limpasan air sungai maupun imbas tanggul jebol.
Meskipun banjir di sejumlah desa, utama Jepara area selatan telah berangsur surut. Seperti di daerah Kecamatan Welahan dan Kalinyamatan ataupun di Pecangaan. Namun Desa Sowan Kidul tak kunjung asat.
Warga setempat Fitra menyampaikan, mulanya banjir di daerahnya hendak susut. Namun karena limpasan sungai pada Minggu (18/1) malam, air kembali menggenang.
Pihaknya menceritakan, selama setidaknya sepekan terakhir warga bertahan. Ogah ngungsi. Meskipun di beberapa titik seperti di Dukuh Rekesan, air mencapai pinggang orang dewasa.
"Sebelah timur, dekat dengan sawah masih sepinggang orang dewasa. Awalnya susah mau surut, warga pun telah bersih-bersih, tapi air datang lagi," sebutnya saat ditemui di dapur umum Senin (19/1).
Beberapa warga disebutkan juga dievakuasi di rumah milik saudara di desa yang tidak terdampak banjir. "Tapi banyak yang bertahan. Kalau malam bergantian jaga, ngeronda," singkatnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Jepara Arwin Noor Isdiyanto menyampaikan dapur umum terus beroperasi. Memenuhi kebutuhan pangan siap santap bagi masyarakat yang terdampak.
Sebelumnya dapur umum sempat didirikan untuk back up kebutuhan warga Desa Tempur dan Sumberrejo. Kemudian dibuka lagi di Kantor Kecamatan Kalinyamatan untuk back up kebutuhan warga Desa Gerdu, Batukali, maupun Kaliombo. Kini dapur umum dibuat di Kantor BPBD Jepara.
"Saat ini tinggal Sowan Kidul (Kecamatan Kedung, red). Kami masak sehari tiga kali. Sekali masak menyiapkan 1000-an porsi," sebutnya.
Pihaknya juga telah menyalurkan bantuan logistik. Per KK, terdistribusikan 5 kilogram (Kg).
"Rata-rata air saat ini 10-50 cm. Semoga cuaca kian cerah, membaik, panas terus. Agar segera surut sepenuhnya," ujarnya.
Arwin menegaskan penanganan di lapangan dilakukan dengan koordinasi berbagai pihak. Acapkali memang masih ditemui beberapa gap koordinasi di lapangan, namun hal tersebut tidak lantas menjadi masalah yang berarti.
"Untuk Sowan Kidul, kami datangkan alat berat dari BBWS yang sedang menangani di Tedunan. Dari tanggul utama SWD II, dipindah. Dua unit untuk menangani daerah Sowan Lor dan Kidul," sebutnya.
Alat berat tersebut ditujukan untuk mengeruk. Melakukan pendalaman sungai dan peninggian tanggul.
"Banjir terjadi bukan hanya karena tanggul bedah, tapi juga kurang tinggi. Begitupun yang di Desa Tegalsambi, karena alat berat tidak bisa masuk akhirnya masyarakat kerja bakti. Kami support material," ujarnya.
Tak hanya itu, 12 titik longsor juga terjadi di daerah Kembang.
"Di sini kami juga menyewakan alat dari luar, dengan waktu 50 jam. Ada 12 titik longsoran yang perlu ditangani. Begitupun dengan banjir yang terjadi di Desa Bondo, sudah ditangani," pungkasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya