JEPARA — Upaya penanganan bencana hidrometeorologi di wilayah Muria Raya terus diperkuat.
Utamanya melalui pelaksanaan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).
Pada hari pertama, Kamis (15/1), manfaat modifikasi cuaca cukup berdampak di Jepara kota. Intensitas hujan menurun.
Namun kurang ampuh di Jepara bagian atas, khususnya di Desa Tempur, Kecamatan Keling.
Program ini semula dinilai cukup efektif dalam mengurangi intensitas hujan. Namun manfaatnya kurang merata.
Sehingga akan terus dilaksanakan hingga beberapa hari ke depan.
Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas II Ahmad Yani Semarang, Giyarto, menyampaikan bahwa operasi TMC telah dimulai sejak Kamis (15/1) pagi pukul 06.00.
Pihaknya menyebut, operasi modifikasi cuaca direncanakan berlangsung hingga Senin (19/1), menyesuaikan dengan dinamika dan perkembangan kondisi atmosfer harian.
“TMC ini kami lakukan sebagai respons terhadap bencana hidrometeorologi, khususnya banjir dan longsor di wilayah Muria Raya, termasuk di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Jepara,” ujar Giyarto Kamis (15/1) sore.
Ia menjelaskan, pelaksanaan TMC merupakan arahan langsung dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk wilayah Jawa Tengah.
Dalam operasionalnya, BNPB berkolaborasi dengan BMKG, serta didukung BPBD Provinsi Jawa Tengah dan BPBD kabupaten terdampak.
Serta Makson Sukses Pratama sebagai perusahaan yang bergerak di bidang jasa TMC atau cloud seeding (penyemaian awan).
“Hingga saat ini sudah dilakukan empat kali sortie atau penerbangan penyemaian awan menggunakan bahan semai natrium klorida (NaCl). Operasi dilakukan sejak 15 Januari dan akan terus dievaluasi sampai tanggal 19 Januari, tergantung situasi cuaca,” jelasnya.
Menurut Giyarto, tujuan utama penyemaian awan adalah untuk meredistribusi hujan.
Khususnya agar potensi hujan lebat tidak jatuh di wilayah daratan yang sedang terdampak bencana.
Melainkan diarahkan ke wilayah yang lebih aman seperti perairan laut.
“Wilayah operasi TMC mencakup Jepara, Kudus, Pati, hingga kawasan Muria Raya. Kami melakukan penghadangan awan hujan sejak di laut, terutama yang bergerak menuju Pantura,” ucapnya.
Pada Kamis (15/1) pagi, operasi penyemaian telah dimulai sejak pukul 06.00 WIB.
Penyemaian dilakukan di atas wilayah perairan serta sebagian kawasan Semarang dan Demak. Agar hujan bisa dijatuhkan di laut sebelum awan bergerak ke daratan.
“Secara massa udara, awan hujan saat ini memang lebih banyak berada di laut. Karena itu, penyemaian dilakukan pada ketinggian sekitar 8.000 hingga 12.000 kaki. Rata-rata 10.000 kaki,” tambahnya.
Giyarto menjelaskan, dalam operasi TMC, pihaknya menargetkan jenis awan tertentu.
Saat ini, kondisi atmosfer didominasi oleh awan stratokumulus (Sc), dengan beberapa kemunculan awan kumulonimbus (Cb).
“Awan stratokumulus biasanya menghasilkan hujan ringan hingga sedang, bersifat terputus-putus. Sementara awan kumulonimbus, yang sering disebut awan ‘bunga kol’ berpotensi menimbulkan hujan lebat disertai petir,” jelasnya.
Ia menambahkan, awan dengan potensi hujan deras inilah yang menjadi sasaran utama TMC.
Supaya hujan dapat dijatuhkan lebih awal di wilayah laut.
“Kami harus sangat cermat, karena tantangan utama saat ini adalah kecepatan angin yang cukup kuat, dengan arah dominan dari barat ke timur. Pergerakan awan menjadi sangat cepat, sehingga membutuhkan perhitungan yang presisi,” katanya.
BMKG mencatat, kecepatan angin di wilayah Jawa Tengah berkisar antara 10 hingga 30 knot, atau setara sekitar 15 hingga 45 kilometer per jam.
Kondisi ini dipengaruhi oleh perbedaan tekanan udara antara belahan bumi utara dan selatan, serta potensi gangguan atmosfer seperti bibit siklon tropis.
“Memang sesuai dengan prediksi BMKG, Januari hingga Februari merupakan puncak musim hujan. Intensitas hujan meningkat dan ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, serta kenaikan muka air sungai dan rob di pesisir perlu diwaspadai,” tegasnya.
Di Kabupaten Jepara sendiri, dampak TMC mulai terasa. Di area Jepara Barat maupun Kota.
Pada Kamis (15/1), kondisi cuaca di wilayah Kota Jepara cenderung cerah.
Hujan sempat turun pada siang menjelang sore hari, namun tidak berlangsung lama.
Namun hal sebaliknya justru terjadi di Jepara bagian atas. Terutama di Desa Tempur sebagai desa yang dikepung bencana longsor. Hujan masih turun tiada henti.
Cuaca belum dapat terkendali, sehingga proses pemulihan akses jalan belum maksimal.
Sebanyak enam unit ekskavator dikerahkan untuk normalisasi alur Sungai Gelis di daerah Kaliombo. Sejurus dengan jalan menuju Desa Tempur yang putus 60-80 meter
Serta pembuatan jalur jalan baru menuju Desa Tempur, yang sebelumnya terisolasi akibat longsor.
Kendala teknis lain juga bertambah.
Salah satu unit ekskavator mengalami kerusakan pada bagian bucket teeth yang bengkok. Usai digunakan untuk mengeruk bebatuan sungai.
Kepala Pelaksana BPBD Jepara, Arwin Noor Isdiyanto, menyampaikan bahwa pekerjaan penanganan akan terus dilakukan. Secara bertahap dan terukur, hingga akses jalan benar-benar tersambung.
Sembari menunggu dan bermain ritme atas cuaca yang bersahabat.
Pihaknya menyampaikan, akan terus melanjutkan pengerjaan. Apalagi dengan adanya upaya TMC yang dilakukan BNPB, BMKG, serta BPBD Provinsi Jawa Tengah.
Ia berharap, ke depan, cuaca dapat lebih jinak. Sehingga proses pemulihan bisa berjalan lebih cepat dan akses warga segera pulih.(fik)
Editor : Mahendra Aditya