Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Modifikasi Cuaca Dilakukan, Percepatan Penanganan Longsor Tempur Terus Diupayakan

Fikri Thoharudin • Kamis, 15 Januari 2026 | 12:25 WIB
TMC: Pesawat PK-SNP yang diterbangkan untuk melakukan modifikasi cuaca pada Kamis (15/1).
TMC: Pesawat PK-SNP yang diterbangkan untuk melakukan modifikasi cuaca pada Kamis (15/1).

JEPARA — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara mulai melaksanakan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).

Hal tersebut dilakukan sebagai ikhtiar percepatan penanganan dampak bencana longsor di Desa Tempur, Kecamatan Keling. 

Pelaksanaan TMC dilakukan pada Kamis (15/1) bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BMKG. 

Serta Makson Sukses Pratama sebagai perusahaan yang bergerak di bidang jasa TMC atau cloud seeding (penyemaian awan).

Operasi TMC diawali dengan penerbangan Sortie 1 menggunakan pesawat PK-SNP pada Kamis (15/1) pagi.

Dalam penerbangan tersebut, dilakukan penyemaian awan.

Pada radial 320-354 deg / 39-61,4 nm dari Stasiun Radar Cuaca Semarang (SRG), tepatnya di wilayah perairan utara Semarang.

Penyemaian awan dilakukan menggunakan bahan semai berupa natrium klorida (NaCl) sebanyak 1.000 kilogram. 

Sebagaimana diketahui, natrium klorida (NaCl) atau garam dapur berfungsi sebagai bahan semai utama dalam operasi TMC.

NaCl memiliki sifat higroskopis. Mudah mengisap atau melepaskan uap air di sekitarnya, sehingga efektif digunakan sebagai inti kondensasi dalam awan.

Dalam operasi TMC, partikel garam yang disemai ke dalam awan, dapat memicu terbentuknya tetesan air yang lebih besar dan berat. 

Tetesan tersebut kemudian jatuh sebagai hujan lebih cepat di lokasi yang telah ditargetkan.

Seperti wilayah perairan atau daerah hulu, sebelum awan bergerak ke kawasan daratan padat penduduk atau titik terdampak bencana.

Selain untuk mengurangi intensitas hujan di wilayah rawan bencana, TMC juga kerap dikenal sebagai teknologi yang dimanfaatkan untuk mengatasi kondisi kekeringan ekstrem.

Dengan memicu hujan di daerah tangkapan air yang membutuhkan pasokan air. 

Namun dalam penanganan bencana Jepara, TMC difokuskan untuk mengendalikan curah hujan. Demi percepatan pemulihan akses warga Desa Tempur maupun Wilayah Muria.

Proses penyemaian dilaksanakan pada ketinggian sekitar 10.000 kaki, menyasar awan jenis cumulus dan cumulus congestus

Dengan puncak awan (top cloud) berada pada ketinggian sekitar 11.000 hingga 14.000 kaki dan dasar awan (base cloud) sekitar 5.000 kaki.

Berdasarkan data operasional, arah angin saat penyemaian bergerak dari 250-260 degree, dengan kecepatan lebih dari 16 knot. 

Kondisi tersebut dinilai cukup mendukung untuk memindahkan potensi hujan, agar turun di wilayah perairan.

Sehingga tidak terkonsentrasi di daratan Jepara, khususnya di kawasan terdampak bencana.

Kepala Pelaksana Harian (Kalaksa) BPBD Jepara, Arwin Noor Isdiyanto, menjelaskan bahwa pengajuan TMC dilakukan sebagai respons atas tingginya curah hujan.

Sebab, terus terjadi dan menghambat proses penanganan bencana di Desa Tempur. 

Menurutnya, hujan yang turun hampir setiap hari menyebabkan debit sungai meningkat. Serta arus menjadi sangat deras.

"Untuk percepatan penanganan dampak bencana, Pemkab Jepara melalui BPBD mengajukan pelaksanaan TMC ke BNPB agar hujan tidak terus-menerus terjadi. Hari ini TMC mulai dilaksanakan,” ungkapnya Kamis (15/1).

Ia menegaskan, TMC dilaksanakan dalam rangka mengurangi curah hujan. Dengan memecah awan hujan sebelum memasuki wilayah daratan Jepara. 

Hal tersebut penting. Mengingat berkaitan erat dengan penanganan longsor dan pembukaan akses jalan menuju Desa Tempur. Yang hingga kini masih terisolasi.

“Sampai hari ini kami mengerahkan enam unit alat berat. Namun progresnya belum terlalu menggembirakan karena hujan terus turun, arus sungai deras, dan pengerjaan menjadi tidak efektif serta tidak maksimal,” jelasnya.

Arwin menambahkan, pengajuan TMC dilakukan secara intensif sejak Senin (12/1) lalu. 

Saat itu, usai tinjauan Bupati Jepara Witiarso Utomo pada Minggu (11/1), pihaknya serta Wabup Jepara M Ibnu Hajar, langsung berkoordinasi dengan Kepala BNPB.

Menyampaikan kabar melalui sambungan telepon, dari lokasi badan jalan yang putus di Kaliombo Sungai Gelis.

“Waktu itu (Senin, red) ada Gus Hajar, dan kami sampaikan langsung kepada Kepala BNPB untuk dilakukan TMC di Jepara,” sebutnya.

Melalui TMC ini, BPBD Jepara berharap curah hujan dapat berkurang. Sehingga debit air sungai menurun dan risiko terjadinya longsor susulan bisa ditekan. 

Dengan kondisi cuaca yang lebih terkendali, proses pengerjaan pembukaan jalan terisolasi menuju Desa Tempur diharapkan dapat berjalan lebih optimal.

Pada Kamis (15/1), sebanyak enam unit alat berat dikerahkan di sejumlah titik penanganan. 

KEBUT: Ekskavator kelas 20 ton tengah berupaya mengalihkan arus Sungai Gelis di daerah Kaliombo menuju Desa Tempur, pada Rabu (14/1).
KEBUT: Ekskavator kelas 20 ton tengah berupaya mengalihkan arus Sungai Gelis di daerah Kaliombo menuju Desa Tempur, pada Rabu (14/1).

Di antaranya satu unit ekskavator PC200 atau berkapasitas 20 ton. Lalu satu unit PC berkapasitas 7,5 ton yang digunakan untuk pembuatan saluran air di wilayah Kaliombo sebelum jalur naik ke Tempur. 

Serta satu unit PC berkapasitas 4,5 ton milik Kodim. Difokuskan untuk pembuatan saluran air di ruas Jalan Damarwulan menuju Tempur.

"Semoga curah hujan berkurang. Pengerjaan untuk pembukaan jalan terisolasi ke arah Tempur bisa dilaksanakan," pungkasnya.(fik)

Editor : Ali Mustofa
#tmc #muria #jepara #tempur #modifikasi cuaca #bnpb #longsor #BPBD