JEPARA — Curah hujan dengan intensitas tinggi yang masih mengguyur wilayah Kabupaten Jepara, menyebabkan banjir di sejumlah desa.
Luapan sungai membuat permukiman warga terendam.
Genangan banjir disebabkan luapan Sungai SWD 2 yang melintasi wilayah permukiman.
Selama setidaknya dua hari terakhir, air terus bertahan di lingkungan warga. Kedalamannya bervariasi.
Akibatnya aktivitas masyarakat lumpuh. Kebutuhan dasar warga terdampak harus segera dipenuhi.
Banjir terjadi seperti di Kecamatan Welahan, sejak Senin (12/1). Hingga Selasa (13/1), genangan air di sejumlah titik masih belum surut.
Air merendam rumah warga, fasilitas umum, serta akses jalan desa, sehingga menyulitkan mobilitas masyarakat.
Ketinggian air dilaporkan sempat mencapai satu meter.
Di beberapa titik, air dilaporkan mencapai setinggi lutut, ataupun seperut orang dewasa.
Kabid Rehabilitasi Perlindungan dan Jaminan Sosial (RPJS) Dinsospermades Jepara, Iman Bagus, menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah mengambil langkah cepat.
Dengan mengaktifkan dapur umum. Guna penuhi kebutuhan pangan warga terdampak banjir.
Iman menjelaskan, dapur umum yang sebelumnya telah berdiri sejak 10–12 Januari di Posko Destana Damarwulan, kini digeser.
Dapur umum tersebut awalnya difokuskan untuk melayani masyarakat Desa Tempur, yang terdampak bencana longsor dan terisolasi akibat akses jalan terputus. Termasuk warga Sumberrejo akibat banjir bandang.
Namun, seiring meluasnya dampak bencana banjir di wilayah selatan Jepara, dapur umum tersebut dipindahkan ke Kantor Kecamatan Kalinyamatan pada Selasa (13/1) sekitar pukul 10.00 WIB.
Pemindahan dilakukan agar distribusi bantuan makanan dapat menjangkau wilayah terdampak banjir secara lebih efektif.
Pada Selasa (13/1) malam, Dinsospermades bersama pemerintah kecamatan, BPBD, dan relawan membuka dapur umum untuk warga.
Makanan disiapkan. Didistribusikan sebagai bantuan siap saji dan siap santap.
Bantuan tersebut diprioritaskan untuk Desa Gerdu dengan jumlah terdampak sekitar 525 jiwa serta Desa Batukali dengan data terbaru mencapai 675 jiwa.
Sementara itu, di Kecamatan Welahan, pemerintah Desa Ketilengsingolelo dan Welahan telah membuka dapur umum secara mandiri.
Sementara itu, kondisi di Desa Kaliombo dan Desa Sowan Kidul masih terus dipantau.
"Yang terdampak di Desa Gerdu 525, Desa Batukali 675, dan Sowan 937. Total sementara 2137. Untuk Welahan dan Desa Ketilengsingolelo ada dapur mandiri. Malam ini kami penuhi untuk Desa Gerdu dan Batukali," jelasnya Selasa (13/1) pukul 22.33.
Tim BPBD Jepara diketahui juga masih melakukan asesmen lanjutan. Untuk memastikan apakah diperlukan pembukaan dapur umum tambahan..
Pemerintah daerah memberikan dukungan berupa bantuan bahan logistik. Memastikan dapur umum tetap beroperasi dan mampu memenuhi kebutuhan warga.
Jumlah warga terdampak di Desa Ketilengsingolelo dan Welahan diperkirakan mencapai 630 jiwa atau sekitar 466 kepala keluarga.
Sebagian warga dikabarkan telah mengungsi, untuk menghindari genangan air yang masuk ke rumah.
Namun, jumlah pengungsi masih dalam proses pendataan.
Iman Bagus menegaskan bahwa fokus utama penanganan saat ini adalah pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak, terutama makanan siap saji.
"Kami masih melakukan asesmen terhadap kebutuhan warga di seluruh wilayah terdampak. Untuk saat ini, yang paling dibutuhkan adalah makanan siap jadi, sambil terus memantau perkembangan kondisi banjir,” tandasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya