JEPARA — Penanganan bencana tanah longsor di Desa Tempur, Kecamatan Keling, menunjukkan perkembangan positif.
Salah satu capaian penting hingga Minggu (11/1) malam ialah pulihnya aliran listrik, yang sebelumnya sempat padam. Imbas tanah longsor sejak Jumat (9/1).
Bupati Jepara Witiarso Utomo memastikan, listrik di Desa Tempur telah kembali menyala normal, pada Minggu (11/1) malam. Tepatnya usai Maghrib.
Pihaknya melakukan pengecekan langsung ke lapangan. Hingga titik-titik terjadinya longsor.
Mas Wiwit sapaan akrabnya, menyebut seluruh pihak tengah fokus untuk mempercepat proses penanganan dan pemulihan pascabencana.
“Alhamdulillah, listrik malam ini sudah menyala normal. Untuk stok pangan dan kebutuhan dasar lainnya juga sudah tercukupi,” ucap Wiwit usai meninjau lokasi terdampak longsor di Posko Destana Damarwulan.
Kendati demikian, ia menjelaskan masih ada tantangan utama pada sektor infrastruktur, terutama pembukaan badan jalan yang tertutup longsor. Maupun jalan yang tergerus aliran Sungai Gelis.
Proses tersebut masih menunggu kondisi cuaca membaik agar alat berat dapat bekerja secara maksimal.
Menurutnya, titik terparah longsor berada di jalur utama dengan kerusakan badan jalan sepanjang sekitar 60 meter.
Kondisi tersebut cukup berisiko karena, sebelah kiri langsung jurang sungai. Sementara di sisi kanan perbukitan batuan keras.
“Kalau alat berat sudah bisa naik sampai atas dan cuaca memungkinkan, kami akan tambah alat berat. Rencananya aliran sungai akan dipindahkan agar badan jalan bisa dibentuk kembali,” jelasnya.
Selain jalur utama, Pemkab Jepara juga menyiapkan pembuatan jalur alternatif.
Salah satunya berada di wilayah Medani–Duplak, yang direncanakan akan difungsikan. Sebagai akses darurat apabila kondisi mendesak.
Witiarso menegaskan, secara umum kondisi kebutuhan warga masih relatif aman.
Meski terdampak bencana, masyarakat Desa Tempur dinilai masih dalam kondisi berkecukupan.
Sehingga fokus utama saat ini adalah pemulihan infrastruktur dalam waktu cepat.
Hal tersebut menurutnya, menjadi perhatian bersama, agar ke depan infrastruktur di wilayah Tempur bisa lebih baik dan lebih aman.
Sementara itu, Kalaksa BPBD Jepara Arwin Noor Isdiyanto mencatat bencana longsor terjadi hingga Minggu (11/1).
Tercatat longsor terjadi di 23 titik. Menyebabkan akses jalan utama terputus total serta satu jembatan mengalami kerusakan.
Dampak lainnya meliputi enam rumah warga yang tertimpa material longsor. Dua unit tempat usaha yang mengalami kerusakan.
Jaringan listrik dan komunikasi sempat lumpuh, sehingga menghambat koordinasi dan distribusi bantuan.
BPBD bersama unsur terkait telah melakukan berbagai langkah darurat, mulai dari pendistribusian logistik, pendataan warga terdampak, pembersihan material longsor, hingga pendirian dapur umum.
Saat ini, lima akses jalan dari posko berhasil dibuka, meski sebagian masih hanya bisa dilalui kendaraan roda dua.
Camat Keling Lulut Andi Ariyanto menambahkan, penanganan dilakukan secara bertahap dengan prioritas utama.
Khususnya akses vital dan kebutuhan BBM untuk operasional di lapangan.
Ia menyebut koordinasi lintas sektor, termasuk Polsek, Koramil, dan relawan, terus dilakukan. Meski kondisi cuaca masih menjadi kendala utama.
"Warga memang meminta listrik menyala terlebih dahulu. Tadi habis Maghrib sudah terang, dan dukuh tertinggi yaitu Duplak baru mengala pukul 21.30," tandasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya