JEPARA — Banjir bandang melanda Dukuh Tempur dan Dukuh Pendem, Desa Sumberrejo, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara.
Peristiwa ini terjadi akibat meluapnya Sungai Tempuran yang dipicu faktor hidrometeorologi berupa curah hujan tinggi.
Banjir bandang tercatat terjadi sebanyak dua kali. Kejadian pertama berlangsung pada Kamis (8/1) sekitar pukul 20.00 WIB.
Sungai Tempuran meluap dan merendam permukiman warga di Dukuh Tempur dan Pendem dengan ketinggian air mencapai 1,5 meter. Air baru surut pada Jumat (9/1) sekitar pukul 03.00 WIB dini hari.
Banjir kembali terjadi pada Sabtu (10/1). Air mulai naik sekitar pukul 09.30 WIB, kemudian kembali meningkat pada pukul 13.00 WIB.
Ketinggian air mencapai sekitar 1 meter sebelum akhirnya surut pada sore hari.
Informasi kejadian diperoleh dari warga Dukuh Tempur, Baidowi, serta perangkat Desa Sumberrejo, Irkham.
Assessment awal dilakukan oleh tim petugas yang terdiri dari Muhammad Zainuddin, Suprapto Wibowo, dan Choirul Anam.
Data assessment mencatat wilayah terdampak cukup luas. Di Dukuh Tempur, banjir merendam RW 1 RT 1 dengan 11 kepala keluarga (31 jiwa), RW 1 RT 2 sebanyak 51 KK (128 jiwa), RW 1 RT 3 sebanyak 33 KK (91 jiwa), serta RW 2 RT 1 sebanyak 9 KK (16 jiwa).
Sementara di Dukuh Pendem, banjir berdampak pada RW 2 RT 2 dengan 6 KK (14 jiwa) dan RW 2 RT 3 sebanyak 18 KK (55 jiwa).
Selain itu, wilayah Toplek RT 1 RW 3 turut terdampak dengan 4 KK, serta sekitar 40 jiwa yang tinggal di area bantaran sungai bagian bawah.
Sebagai langkah tanggap darurat, sejak Sabtu (10/1) pukul 13.30 WIB, ibu-ibu PKK dan kader Desa Sumberrejo membuka dapur umum di aula Balai Desa Sumberrejo.
Dapur umum tersebut menyiapkan sekitar 200 nasi bungkus untuk memenuhi kebutuhan makan warga terdampak.
Saat ini kondisi air telah surut.
Namun, cuaca di wilayah Desa Sumberrejo masih gerimis dan berpotensi hujan. Warga dan petugas tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya banjir susulan.
Kebutuhan mendesak saat ini adalah bantuan logistik, khususnya makanan dan minuman. Banyak warga tidak dapat memasak karena perabot rumah tangga mereka terendam banjir.
Editor : Ali Mustofa