JEPARA — Nama Ahmad Rifai sebelumnya ramai diperbincangkan publik setelah memimpin zikir bersama jemaah di kawasan Candi Prambanan.
Di balik viralnya peristiwa tersebut, sosok Rifai ternyata dikenal melayani pengobatan alternatif-tradisional. Pasiennya dari berbagai daerah di Kabupaten Jepara.
Untuk menelusuri lebih jauh aktivitas Ahmad Rifai, Radar Kudus secara eksklusif mendatangi langsung lokasi pengobatan yang dijalankannya di Jepara, Rabu (7/1/2026) menjelang sore.
Dalam kurun waktu sekitar satu jam, setidaknya dua pasien tampak datang untuk menjalani pengobatan. Mereka berasal dari Batam serta warga Jepara.
Selain pasien, terlihat pula sejumlah jemaah, baik laki-laki maupun perempuan, yang sebagian merupakan keluarga Rifai.
Aktivitas tersebut berlangsung di sebuah saung yang oleh Rifai disebut sebagai Pesantren Al Goib.
Di tempat inilah, selain bermujahadah, Rifai juga melayani praktik pengobatan alternatif-tradisional berbasis doa dan metode pijat.
Menurut Rifai, praktik pengobatan yang ia jalani berangkat dari wejangan gurunya di Cipondoh, Tangerang, yang mengajarkan agar siapa pun yang meminta pertolongan harus dibantu.
“Kalau ada yang minta tolong, ya dibantu pakai doa. Senjatanya orang mukmin adalah doa, doa yang Allah rida,” ujarnya kepada Radar Kudus.
Dalam proses pengobatan, Rifai menggunakan metode pijat manual pada sejumlah titik tubuh pasien.
Pada kondisi tertentu, proses pengobatan dilakukan melalui perantara jemaah yang bertindak sebagai mediator.
Saat Radar Kudus berada di lokasi, salah satu pasien perempuan tampak mengalami reaksi fisik berupa kesakitan, sendawa, hingga mual dan seperti tercekik.
Dalam situasi tersebut, mediator yang mendampingi terlihat memerah dan seperti muntah, sementara Rifai melakukan gerakan seolah menarik sesuatu yang tidak kasat mata dari arah mediator.
Di momen itu, Rifai melantunkan doa-doa dengan bahasa Jawa bercampur bahasa Indonesia, diselingi lafaz seperti Allah, Nur Muhammad, dan Kun Fayakun.
Ia juga sempat berdialog dengan pasien melalui mediator.
“Nopo tujuanmu tekan kene?” tanya Rifai.
“Saya menutup mata, telinga, tak rusak akale,” jawab mediator yang tampak mengalami kondisi tidak biasa.
Menanggapi anggapan sebagian pihak yang kerap memberi label tertentu terhadap praktik keagamaan, Rifai menyampaikan pandangannya bahwa ilmu dan kekuasaan merupakan hak Allah.
“Ilmu dan kekuasaan Allah bisa diberikan kepada siapa saja. Terserah kiai, ustaz, atau wong macul. Yang penting tidak punya pengakuan,” ucapnya.
Ia juga menjelaskan pandangannya tentang konsep kesesatan dalam konteks spiritual.
“Hakikat sesat itu saat ruh tidak bisa kembali pulang sujud kepada Allah. Padahal sejatinya ruh itu sudah sujud dan makrifat,” lanjutnya.
Rifai mengaku memperoleh bimbingan spiritual dari sosok yang ia sebut sebagai Sabdo Palon, yang menurutnya bersifat metafisis.
“Sifatnya tidak bisa dijelaskan secara lahiriah. Ruh ketemu ruh,” katanya saat menjawab pertanyaan Radar Kudus.
Praktik pengobatan dan aktivitas spiritual ini menjadi sorotan publik setelah Ahmad Rifai bersama jemaahnya viral melakukan zikir di kawasan Candi Prambanan, yang kemudian ramai diperbincangkan di media sosial dan berbagai platform digital. (fik/war)
Editor : Ali Mustofa